...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Tampilkan postingan dengan label seniman sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seniman sastra. Tampilkan semua postingan

Juni 11, 2011

Sanusi Pane


Beberapa karya Sanusi Pane, antara lain:

a. Prosa Lirik
(1) Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926).
b. Puisi
(1) Puspa Mega (kumpulan), Jakarta: Balai Pustaka, 1927.
(2) Madah Kelana (kumpulan), Jakarta: Balai Pustaka I, 1931, 111950, Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah, 1978.
c. Drama
(1) Airlangga (berbahasa Belanda), 1928.
(2) Eenzame Garoedavlucht (berbahasa Belanda), 1929.
(3) Kertajaya, Jakarta: Balai Pustaka, 1932, Pustaka Jaya I 1971, IV 1987.
(4) Sandyakala Ning Majapahir, Jakarta: Balai Pustaka, 1933, dan Pustaka Jaya 1974.
(5) Manusia Baru, Jakarta: Balai Pustaka, 1940.
d. Terjemahan
Arjuna Wiwaha. Jakarta: Balai Puistaka I, 1940, II 1949 dan Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan daerah, 1978.
e. Bunga Rampai
Bunga Rampai dari Hikayat Lama. 1946. Jakarta: Balai Pustaka
f. Sejarah
(1) Sejarah Indonesia. 1942, 4 jilid.
(2) Sejarah Indonesia Sepanjang Masa, 1952.

Adinegoro


Bernama lahir Djamaluddin Datuk Marajo Sutan. Lahir di Talawi, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904. Ayahnya bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah. Ia merupakan adik tiri sastrawan Muhammad Yamin. Adinegoro merupakan nama samarannya. Hal itu bermula saat dirinya masuk STOVIA karena dorongan sang ayah yang menginginkan dirinya menjadi dokter. Namun, di STOVIA ia tidak diperbolehkan menulis, padahal keinginannya untuk menulis sangat tinggi. Maka, dipakainyalah nama samaran Adinegoro sebagai identitasnya yang baru. Dengan begitu, Ia bisa menyalurkan keinginannya untuk mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang. Tulisan-tulisannya banyak menyerang Belanda secara halus, sehingga rumahnya sering digeledah dan diawasi. Ia lalu bertekad untuk menjadi seorang jurnalis dan memutuskan keluar dari sekolahnya di STOVIA.

Adinegoro kemudian belajar ilmu jurnalistik sampai ke Eropa, yaitu di Utrecht, Belanda, untuk menempuh studi ilmu sastra dan jurnalistik. Kemudian ia ke Jerman mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Muenchen dan Wurzburg, untuk mendalami ilmu jurnalistik. Ia juga mempelajari kartografi, geografi, politik, dan geopolitik. Pengalaman belajar di Jerman tersebut banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. 

Memulai karier sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926-1930), ia nyambi menjadi freelance journalist pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Jakarta). Sekembali ke tanah air, ia memimpin majalah Panji Pustaka (1931), namun tidak bertahan lama, hanya enam bulan. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932-1942). Pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Bersama Prof. Dr. Supomo, memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948-1950). Selanjutnya, memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951). Terakhir, bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi LKBN Antara).

Karya tulisnya berupa novel yang terkenal adalah ‘Darah Muda’ (Batavia Centrum : Balai Pustaka, 1931), dan ‘Asmara Jaya’(Batavia Centrum : Balai Pustaka, 1932). Dalam ke dua novelnya tersebut, Adinegoro berani menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. bukan hanya itu, ia juga berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno yang dijalankan oleh pihak kaum tua. Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga menulis novel lainnya, yaitu ‘Melawat ke Barat’, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah perjalanan ini diterbitkan pada tahun 1950.

Juga menulis esai yang merupakan tanggapan polemik pada waktu itu, berjudul ‘Kritik atas Kritik’ yang terhimpun dalam Polemik Kebudayaan, dieditori oleh Achdiat Karta Mihardja. Dalam esainya tersebut, ia beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang tak dapat ditiru oleh orang lain. Ia memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan demikian pun sebaliknya.

Ia juga tercatat aktif di sejumlah organisasi, diantaranya ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Pernah menjadi Tjuo Sangi In (semacam Dewan Rakyat) yang dibentuk Jepang (1942-1945), anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS, Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung, dan Presiden Komisaris LKBN Antara. Karena kegiatannya di bidang pers sangat menonjol, namanya kemudian diabadikan untuk penghargaan dalam bidang jurnalistik di Indonesia.

Sastrawan dan tokoh pers Indonesia Adinegoro wafat di Jakarta, 8 Januari 1967 akibat serangan jantung. Jenazahnya dikuburkan di TPU Karet, Jakarta Pusat.

(Dari Berbagai Sumber)

Juni 03, 2011

Zara Zettira Z.R.


Nama :
Zara Zettira Zainuddin Ramadi

Lahir :
Jakarta, 5 Agustus 1969

Pendidikan formal :
TK sampai SMA di Sekolah St Theresia Haji Agus Salim, Jakarta,
SMA Ora Et Labora
Pondok Indah, Jakarta,
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (Tahun ke IV)

Pendidikan informal :
kursus pelatihan film dan kepenulisan di Los Angeles, Amerika Serikat

Penghargaan :
Cerpen berjudul Di Langit Masih Ada Kerlip Bintang meraih juara 2 lomba cipta cerpen majalah Anita Cemerlang,
Finalis Gadis Sampul (1983),
Putri Remaja 85 (1985),
Juara 2 Gadis Sampul (1987)
Putri Kampus 88 (1988),
Noni Jakarta Favorit 88 (1988)


Sulung dari dua bersaudara, Anak pasangan Zainuddin Ramadi (alm) dan Oni Martalita Timotius ini Lahir di Jakarta, 5 Agustus1969. Menempuh pendidikan dari TK sampai SMA di Sekolah St Theresia Haji Agus Salim, Jakarta. SMA ia tamatkan di Ora Et Labora, Pondok Indah, Jakarta. Melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, namun hanya sampai tahun ke empat, karena ia lebih memilih menjadi penulis. Selain itu, ia juga mengikuti berbagai kursus pelatihan film dan kepenulisan di Los Angeles, Amerika Serikat.

Mulai menulis sejak kelas IV SD, diawali dari kegemarannya membaca majalah anak-anak, salah satunya adalah majalah Bimba. Di majalah ini terdapat rubrik pengalamanku. Rubik ini berisi pengalaman unik dan si penulis di beri tema tertentu. Salah satunya tentang upacara bendera. Zara-pun menuis pengalamannya ketika mengikuti upacara bendera. Selang beberapa minggu kemudian tulisannya dimuat. Bukan main girangnya. Apalagi, ia mendapat hadiah dari Bimba, berupa kotak pensil, tas, dan buku-buku.

Saat Zara kelas VI SD, majalah Anita Cemerlang menggelar lomba cipta cerpen. Ia mengirim satu cerpen berjudul Di Langit Masih Ada Kerlip Bintang. Tak di sangka cerpennya meraih juara II. Sejak itu ia tergerak untuk lebih aktif menulis.

Ketika duduk di bangku SMP, Zara menjadi salah satu finalis Gadis Sampul tahun 1983. Tahun 1985, memenangi Putri Remaja 85, juara II Gadis Sampul tahun 1987, Putri Kampus 88 serta Noni Jakarta Favorit 88. Meskipun kerap menang di berbagai ajang, ia kerap menolak panggilan menjadi model dan lebih memilih menjadi penulis.

Ketika SMA Zara pernah bergabung dengan kelompok tari Swara Mahardhika (SM) pimpinan Guruh Soekernoputra. Bersama SM, ia pernah sekali ikut pentas dalam sebuah acara Bridal Fashion Show. Ternyata, tari bukan dunianya. Ia merasa tidak nyaman. ”Aku lebih senang jadi penulis”, ungkapnya.
Sampai saat ini Zara telah menulis sekitar 10 buku yang diterbitkan oleh Gramedia. Zara juga menerjemahkan buku cerita remaja dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, semisal Sweet Valley Highs dan Girl Talks. Selain cerpen ia juga menulis novel. Kumpulan novelnya antara lain: Jejak-jejak Jejaka (1989), Sexy Anissa (1990), Rasta dan Bella (1991), Warna Merah Pada Cinta (1993), Prahara Asmara, terbitan Akoer, serta Cerita Dalam Keheningan (2008)
Tahun 1987, Zara menulis skenario cerita Catatan Si Boy untuk sebuah stasiun radio swasta, Prambors. Cerita ini kemudian diangkat ke layar lebar. Oleh penyusun skenarionya, Marwan Alkatiri, film ini kemudian di buat sekuelnya dari mulai Catatan Si Boy I sampai ke V.
Selain menulis buku, ia juga menulis Skenario Film dan Sinetron. Skenario film yang ia buat antara lain: Gadis Metropolis I(1992) dan Gadis Metropolis II (1994) yang di buat sepulang kursus dari Los Angeles, Amerika Serikat, Tapi yang terbanyak adalah karya untuk sinetron. Janjiku merupakan sinetron pertama yang skenarionya ia buat. Selanjutnya hampir setiap tahun, ia membuat cerita untuk sinetron ramadhan di layar kaca. Kini lebih dari 1000 skenario sinetron dan film televisi telah dibuatnya.
Menikah dengan Zsolt Zsemba, lelaki kelahiran Hungaria dan berkewarganegaraan Kanada pada tahun 1990. Mereka dianugerahi dua orang anak Alaya Eva Ramadi Zsemba dan Zsolt George Zainuddin Zsemba. Saat ini, Zara dan keluarganya menetap di Toronto, Kanada.
(Dari Berbagai Sumber)



Mei 06, 2011

Pramoedya Ananta Toer



Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan Indonesia yang paling diperhitungkan di dunia internasional. Pribadinya keras,kalau bicara selalu lugas, ceplas-ceplos, tapi menggigit”dan selalu memiliki substansi. Pram, panggilan akrabnya, memilikipengaruh yang kuat di kalangan aktivis prodemokrasi, melalui novel-novel yang di tulisnya. Novelnya yang terkenal adalahBumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Arus Balik dan Arok Dedes, novel-novelnya menjadi bacaan wajib para aktivis. Dan sebagian novelnya ditulis ketika ia dipenjarakan di Pulau Buru olehrezim Orde Baru.

Pram Kelahiran Jetis, Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, mulai menulis sejak ia duduk di Sekolah Rakyat. Bakat ini iawarisi dari ayahnya, Toer, bekas guru dan aktivis PNI cabang Blora. Karya pertamanya, Kemana, muncul di majalahPancaraya tahun 1947. Saat itu ia masih tercatat sebagai murid di Taman Siswa. Di tahun yang sama, terbit novelnya,Kranji Bekasi Jatuh dan Sepuluh Kepala Nica.

Pram begitu sering mengalami perampasan hak dan kebebasan. Tercatat pada zaman revolusi kemerdekaan, ia dipenjaraoleh Belanda di Bukit Duri Jakarta (1947-1949), kemudian di jebloskan lagi ke penjara pada zaman pemerintahanSoekarno karena buku Hoakiau di Indonesia dan dibuang ke Pulau Buru oleh penguasa Orde Baru, setelah meletusnyaG-30/S. Ia baru menghirup udara bebas pada bulan Desember tahun 1979, meskipun harus kehilangan sebagianpendengarannya karena kepalanya dihantam popor senjata.

Sosok Pram menampakkan karakter yang keras. “Hidup saya dalam penindasan terus, bagaimana mau ketawa? Paling-paling yang bisa saya lakukan mengejek”, tuturnya.

Ia tergolong penulis yang serius mempersiapkan diri sebelum berkarya. Ia adalah sosok pendokumentasi data yang baik,dan mampu membungkus data-data yang akurat dengan alur cerita yang memukau dan gaya bahasa yang orisinil. Itulahsebabnya banyak pihak menilai karya-karya memiliki standar mutu literer yang tinggi. Berbagai penghargaan dari dalam danluar negeri telah membuktikannya. Pram menerima Freedom-to-write Award dari PEN American Center (1989), The Fund for free Expression Award (1990), Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award dari Filipina (31Agustus 1995). Banyak novelnya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Nyanyi Sunyi Seorang Bisuditerjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Mute’s Soliloquy (Hyperion East, New York). Ini membuktikansupremesi Pram dalam dunia sastra. Hingga kini karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa.

Sebagian besar karyanya menyuarakan perlunya memberontak dari tatanan yang tidak adil. Penjajahan dan perampasan hakadalah sesuatu yang harus dilawan. Karena ketidakadilan merupakan produk dari struktur, maka struktur itu juga harusdilawan.

Sepanjang dekade 60-an, perjalanan hidup Pram diwarnai dinamika yang sangat dramatis. Ia terjebak dalam perseteruanantara kubu Lekra (komunis) dan penandatanganan Manifes Kebudayaan. Ia terjepit dalam konflik politik antara kaumkomunis, agama, dan angkatan darat. Tak tahu apa-apa soal G 30 S, ia menjadi korban. Rumahnya digerebek, dokumen-dokumen berharga miliknya dihancurkan oleh tentara. Bagi seorang penulis, dokumen-dokumen tersebut ibarat nyawa.

Meski perjalanan hidupnya sebagian begitu getir, Pram tetap konsisten untuk terus menulis. Totalitasnya dalam duniakepenulisan tetap terjaga. Sayangnya, Pram belum atau tidak akan menyiapkan pengganti yang akan meneruskan jejaklangkahnya, “Jadi pengarang itu mengerikan. Anak-anak saya menyimak nasib ayahnya”, katanya. Akibat penyakit radangparu-paru yang diidapnya semakin kronis dan disertai komplikasi dengan penyakit jantung dan diabetes, Pram akhirnyamenutup lembaran kisah hidupnya pada hari Minggu tanggal 30 April 2006, jenazahnya di makamkan di pemakaman UmumKaret Bivak Jakarta Pusat. Selamat Jalan Pak Pram.***

(Dari Berbagai Sumber)

Mei 03, 2011

Ayu Utami


Bernama lengkap Justina Ayu Utami, Lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968. Sejak kecil sudah hobimembaca, khususnya cerita Tentang pertualangan seperti Lima Sekawan, Karl May, dan Tin Tin, walupun itu sempatmendapat pertentangan dari orangtua-nya. Menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Sastra Rusia Fakultas SastraUniversitas Indonesia.

Waktu mahasiswa, terpilih sebagai finalis model sampul majalah Femina, urutan kesepuluh. Pernah menjadisekretaris di perusahaan yang memasok senjata dan pernah bekerja di Hotel Arya Duta sebagai guest public relation. Tapi itu semua dia rasa tidak cocok. “Akhirnya saya masuk dunia jurnalistik dan saya merasa inilah duniasaya”, ungkapnya. Sempat menjadi wartawan di beberapa media massa, antara lain majalah Humor, Matra, ForumKeadilan, D & R, serta ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen. Kini ia menjadi Redaktur jurnal kebudayaanKalam dan di Teater Utan Kayu.

Ketika menjadi wartawan majalah Matra, ia banyak mendapat kesempatan untuk menulis. Dalam menulis, ia  lebihmenekankan kepada bentuk. Penulis penyuka karya novelis Ahmad Tohari dan penyair Sapardi Djoko Damono ini,dalam hal gaya penulisan, juga banyak belajar dari Alkitab. “Karena, cara menyampaikan suatu cerita antara satukitab dengan yang lain itu berbeda-beda. Misalnya, cara menyampaikan Lukas, berbeda dengan Mathius, Yohannes,dan sebagainya”, kata Ayu.

Dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman (1998) memenangi sayembara penulisan roman Dewan KesenianJakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu copy dan di terbitkan dalam enam bahasa asing. BerkatSaman, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, Belanda, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan.Menurut kritikus sastra dan penyair Sapardi Djoko Damono, Saman memamerkan teknik komposisi yang belumpernah dicoba oleh pengarang lain. di Indonesia

Akhir 2001, kembali ia meluncurkan novel berjudul Larung. Menyusul novelnya yang lain Bilangan Fu, yangberceritanya tentang tokoh pemanjat tebing. Atas karya itu, ia mendapat penghargaan dari Majelis Sastra AsiaTenggara (Mastera), yang beranggotakan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, sebagai penulis kreatif diHotel Borobudur, Jakarta. Lewat novel ini pula ia meraih Penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 untukkategori prosa. 

Di daulat menjadi penulis naskah Sidang Susila bersama Agus Noor, yang di kemudian di pentaskan oleh ButetKertaredjasa dengan Teater Gandrik di TIM pada bulan Februari 2008. Terakhir, ia baru saja menyelesaikan sebuahskenario film RumaMaida, rencananya film tersebut akan beredar awal Oktober 2009.
(Dari Berbagai Sumber)

Asma Nadia


Bernama lengkap Asmarani Rosalba. Lahir di Jakarta tahun 1972. Anak pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. Kiprah penulis yang masa kecilnya dihabiskan dirumah kontrakan sederhana di pinggir rel kereta api ini di mulai sejak ia lulus dari SMA 1 Budi Utomo, Jakarta. Saat itu ia aktif menulis dan kemudianmempublikasikan karyanya di berbagai majalah keislaman.

Dikenal sebagai penulis yang produktif. Namanya juga masuk dalam jejeran penulis ‘best seller’ wanita di Indonesia. Hingga saat ini, tercatat telah menulis lebih dari40 buku, yang di terbitkan dengan lebih dari 1 juta salinan yang didistribusikan secara nasional, baik yang di tulis sendiri olehnya maupun bersama-sama denganpenulis lain. Bukunya banyak di terbitkan oleh Penerbit Mizan, diantaranya ‘Derai Sunyi’ (novel), naskah drama dua bahasa ‘Preh (A Waiting)’ diterbitkan oleh DewanKesenian Jakarta, ’Cinta Tak Pernah Menari’ (kumpulan cerpen) ‘Rembulan di Mata Ibu’ (novel, 2001). Ia juga menyusun puluhan antologi.

Atas peran aktifnya dalam dunia sastra, beberapa penghargaan nasional dan regional di bidang kepenulisan pernah diraih, diantaranya karya novelnya ‘Derai Sunyi’,mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA), Kumpulan cerpennya ‘Cinta Tak Pernah Menari’ meraih Pena Award, novelnya ‘Rembulan di MataIbu’ (2001) memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI sebagai buku remaja terbaik nasional, karyanya ‘Dialog Dua Layar’, memenangkan penghargaan AdikaryaIKAPI, 2002, dll.

Pernah beberapa kali diundang menghadiri acara kepenulisan di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Di tahun 2006 ia di daulat menjadi salah satu dari duasastrawan muda Indonesia yang diundang untuk tinggal oleh pemerintah Korea Selatan selama 6 bulan. Undangan yang sama diperolehnya dari Le Chateau deLavigny (2009) di Swiss.

Pernah juga menjadi pembicara pada forum Seoul Young Writers Festival di Korea Selatan dan The 2nd Asia Literature Forum di Gwangju, China, Public Reading diJenewa, Swiss. Memberikan workshop kepenulisan  kepada pelajar Indonesia di Mesir, Swiss, Inggris, Jerman, Roma (Italia) dan Vatikan, buruh migran di Hongkongdan Malaysia. Didalam negeri, ia sering di minta menjadi pembicara di hadapan banyak pemirsa termasuk di berbagai universitas ternama di Indonesia, sepertiUniversitas Indonesia, ITB, UNPAD, UGM, IPB, Unsyiah, Universitas Brawijaya, dan perguruan tinggi ternama lainnya.

Salah satu cerpennya berjudul ‘Emak Ingin Naik Haji’ telah difilmkan oleh aditya Gumay dan mendapat anugrah film terpuji dalam Festival Film Bandung danmengantarkan aktris Atty Kanser sebagai pemeran utama wanita terbaik Indonesian Movie Award 2010. Cerpen lainnya yang terdapat dalam buku ‘Emak Ingin NaikHaji’, berjudul ‘Jendela Rara’ juga turut difilmkan. Ketua Forum Linkar Pena, suatu perkumpulan yang ikut dibidaninya untuk membantu penulis-penulis muda ini, jugamenjadi CEO Asma Nadia Publishing House, sebuah perusahaan penerbitan yang didirikannya.

Dikenal sebagai penulis yang sangat perduli terhadap bahan-bahan bacaan, hal itu di wujudkan dengan menyumbangkan hasil royalti dari buku-buku yang telahditulisnya, sebagian bersama pengarang-pengarang lain, untuk kemudian dimanfaatkan guna mengembangkan RumahBaca AsmaNadia, sebuah perpustakaan dantempat mengasah kreativitas bagi anak dan remaja kurang mampu.

Kerap memanfaatkan kemajuan teknologi dalam upayanya menyemangati kaum perempuan untuk membaca melalui milisnya pembacaasmanadia@yahoogroups.com.Berawal dari milisnya tersebut lahirlah klub buku AsmaNadia (KBA) di berbagai kota di tanah air, sebagai kegiatan alternatif yang berisi, di mana setiap bulananggota berkumpul dan berdiskusi tentang buku yang telah mereka baca.

Adik dari penulis Helvy Tiana Rosa ini, menikah dengan Isa Alamsyah yang juga menulis buku motivasi berjudul No Excuse.
Dari perkawinannya tersebut di karuniai 2orang anak Putri Salsa dan Adam Putra Firdaus
(Dari Berbagai Sumber)

Emha Ainun Nadjib

Nama :
Emha Ainun Nadjib

Lahir :
Jombang, Jawa Timur,
 27 Mei 1953


Pendidikan :
SD, Jombang (1965);
SMP MuhammadiyahYogyakarta (1968),
Pesantren Gontor, Ponorogo(tidak tamat),
 SMA Muhammadiyah
 Yogyakarta (1971),
FE UGM (tidak tamat).

Karier :
Pengasuh ruang sastra diharian Masa Kini, Yogyakarta(1970),
 Wartawan/Redaktur diharian Masa Kini (1973-1976),
Penulis Puisi dan Kolumnis dibeberapa media

Penghargaan :
The Muslim News Award dariIslamic Excellence di London,Inggris (2005),
Satyalencana Kebudayaan(2011)

Karya :
Antologi Puisi ‘M’ Frusrasi(1975),
Sajak-Sajak Sepanjang Jalan(1977),
Tak Mati-Mati (1978),
Tidur Yang Panjang (1978)
Rotterdam, Juni 1984, disebuah park atau semacam alun-alun. Pada acara Poetry International’ 1984, Emha naik pentas didampingiZapata, pemain perkusi kelahiran Suriname yang berdomisili di Amsterdam. Kedua orang yang dirubung ribuan penonton ini melempar improvisasi Emha dengan kata, Zapata lewat tetabuhannya. Penonton bertepuk riuh. Di akhir pentas, tiba-tiba Emha berdzikirLaailaaha Illallah, dan Zapata segera mengentakan gendangnya. Ketika dzikir itu berakhir dengan raungan, Zapata menghentikanpukulannya. Akibatnya, penonton menggeliat, terkesima, lantas lebih gemuruh bertepuk tangan.


“Alhamdulillah, kami selamat,” tutur Emha, dalam sebuah suratnya ke tanah air, mengenai pertunjukannya itu. Sebelum naik pentas,penyair yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Gontor, Jawa Timur, ini sempat grogi melihat penampilan para pesertasebelumnya. Di tanah air, ulah Emha membaca puisi dengan iringan tetabuhan terdiri dari gong, bonang, gendang dan saron, pernahmembuat bingung Dewan Kesenian Jakarta. Pihak DKJ tidak tahu, puisi-puisi semacam itu mesti digolongkan apa sastra, musik, atauapa.

Emha sendiri tidak pernah pusing, keseniannya itu masuk mana. “Saya hanya ingin mengadakan pertunjukan berdasarkan prinsipsosial yang saya miliki,” kata anak keempat dari lima bersaudara itu. Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an,bekerja sama dengan Teater Dinasti yang berpangkalan dirumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernahmereka datangi, untuk satu kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga mulai tertarik menjadi kolumnis.

Ayahnya, Almarhum M.A. Lathif, adalah seorang petani, yang pernah memiliki kuda tunggang. “Waktu remaja, saya dulu suka naikkuda itu,”tutur Emha. Penyair yang pernah dikeluarkan dari Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo karena menjadi pemimpindemonstrasi ini pernah hidup di ‘jalanan’ Yogyakarta selama lima tahun. Mempelajari sastra dari Umbu Landu Paranggi, yang sangatmempengaruhi karya tulisnya.

Tahun 1984 s/d 1986, Emha, menetap di Amsterdam dan Den Haag, Belanda. Selama di Den Haag, dari membantu Prof. C. Browermelaksanakan lokakarya tentang agama, kebudayaan dan pembangunan. Salah satu pendiri Teater Dinasti dan ayah dari Noe, vokalisbad Letto ini menikah dengan penyanyi Novia Kolopaking. Pernah mengikuti festival sastra dan konser bersama Kiai Kanjeng keAustralia, Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara eropa.
(Dari Berbagai Sumber)