...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Maret 10, 2014

"You"

If I say "I love you", will you answer me "I love you, too"?

Kamu tidak tahu, kan, kalau aku sayangi dalam diam?

- "Define me, 'happy'".
- "You. Right here, laugh with me."

Aku sudah pernah merencanakan untuk mengungkapkan perasaan, lalu kamu tersenyum saja, rencanaku langsung berantakan.

I was talking to my ego. It said that it miss you, but don't want to tell you.

Lain kali, kalau aku bilang sedang tidak mau ketemu kamu, seharusnya kamu tdak percaya kata-kataku.

- How do you spell "love"?
- "Y.O.U."

Kalau kamu bertanya, "Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu bahagia?". Aku akan menjawab, "Aku selalu bahagia denganmu tanpa kamu harus melakukan apa-apa."

bocah.



source: namarappuccino.com (Everything about 'you')

Maret 26, 2013

Bisik Rindu Sudut Keyakinan

Merindumu bukan perkara mudah.
Sebab...
Tak sedikitpun kisah yang terlanjur terjadi dapat dihapus.
Hanya seluruh rasa yang mampu menenggelamkannya.
Namun, apa daya?

Perlahan.. namun (mungkin) pasti.
Ya.
Kelak.
Suatu saat.



Salam untukmu, langit yang selalu dirindu bintangnya :")

Februari 07, 2013

Rindu


Ia bernama rindu
Sebaris stimulus yang selalu menghantarkan pagiku pada sebuah tepi
Peraduan yang memaksa degup ini berdentum lebih keras
Bersahabat dengan untaian lengkung angan yang teramat indah
Memesona

Hayalku meraihnya
Telapak ini merengkuhnya
Damai.

Namun, entah kapan ini berakhir
Perjalanan indah nan memabukkan
Juga menyakitkan

Durinya bagai cambuk yang menusuki setiap detik yang berjalan
Sayang, hanya aku yang mampu merasakan perihnya
Racun atas kedalaman rasa yang tak ingin kupendam

Sampai jumpa pada titiknya yang lebih "menawan".

Bahkan, sebuah kebahagiaan pun belum mampu menawarkan racunnya.

Januari 26, 2013

Biru pada Januari by Aditia Yudis


Akan kuberitahu kau satu hal
yang paling kuinginkan saat ini...

Waktu berhenti sehingga aku dan kau
terbingkai dalam keabadian.

Aku tak ingin semua berlalu,
seringkas embun meninggalkan pagi.
Simpan saja kata-kata bersalut madumu.
Aku tak butuh rayu,
aku hanya ingin bersamamu.

Selalu.

Januari 22, 2013

Bicara Cinta


Jika telah sampai pada suatu masa, ketika cinta mendominasi semua. Maka tak satu pun mampu mengelak, Bahwa hidupnya, hatinya, harinya, terselubungi cinta.
Tapi sebenarnya... apa itu "cinta"?

Ada yang bilang, cinta itu indah. Seindah apa?
Aku tak mengerti definisi cinta dan segala tetek-bengek-nya. Namun satu hal yang kutahu pasti, cintaa takkan pernah lekang oleh apa pun.
Cinta terjadi lintas masa.

Buktinya?

  • Kau masih hidup sampai saat ini dan membaca tulisan ini,
  • Masih ada desiran hebat saat kau berdampingan dengan orang yang kau cinta,
  • Langit masih tegak menaungi seluruh makhluk yang menyimpan cinta.
Tanya pada nuranimu, bahwa cinta bukan hanya ilusi.
Cinta terhadap apa-dan-siapa pun. Maka itulah sesuatu yang kekal adanya.

Januari 17, 2013

Surat Kepergian..


Ragamu boleh pergi. Tetapi hatimu masih tertinggal disini. Izinkan aku untuk tetap menjaganya, sepenuh dan setulus hati. Semua kenangan tentang dirimu takkan pernah bisa terhapus begitu saja. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Meskipun aku belum mengerti betul arti yang sesungguhnya. Namun, nuraniku telah menjelaskan. Bahwa sebuah kebersamaan menyimpan makna yang mendalam.
Kini aku beranjak dewasa. Mulai memahami arti kebersamaan. Tapi, sayang, semua harus diakhiri secara tiba-tiba. Kamu pergi. Ragamu pergi, meninggalkanku.
Aku berharap bisa bangkit. Dari kehampaan sisa kepergianmu. Aku pikir, aku bisa. Nyatanya tidak. Atau mungkin belum. Semuanya tak mudah.


Januari 13, 2013

Pekuburan Cinta


-1-

Pelangiku kelabu. Bulir-bulir air hangat ini tumpah ruah. Meluruhkan mejikuhibiniu keanggunannya. Ia meninggal.
Meninggal.
Ya. Ia sudah tiada. Kenangannya telah terkubur bersama raganya. Raga yang selalu membelai gundahku. Raga yang menjadi sandaran rapuhku. Raga yang menyatukan serpihan-serpihan kisah tak bernyawa. Namun, kini dihancurkannya lagi. Tinggal gelap yang menyiksaku.
Semburat cahaya lilin dari kue ulang tahun masih menemani hening. Sedari tadi. Tak muncul sedikitpun niatku untuk memadamkannya. Sekalipun angka tujuh belas begitu manis terbakar olehnya.
Sweet seventeen. Ya. Tujuh belas tahun yang begitu indah, sekaligus memilukan. Betapa tidak?
Hampir dua puluh empat jam lalu, sesaat setelah aku dibuat begitu bahagia karena menerima ucapan ulang tahun yang pertama –darinya– aku harus mengikhlaskan kepergiannya. Rayi.

PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
Getar-getar segaja ini membangunkanku dari lamunan panjang alam mimpi. Tak lama kemudian, sebuah nada dering yang amat kurindukan terdengar dari salah satu sudut ranjang tempatku rebah.
Aku terduduk.
Klik.
“Happy sweet seventeen, sayang. Semoga—” bla..bla..bla.. Suara diujung telepon terdengar amat bahagia. Begitupun diriku, dengan nyawa yang hampir terkumpul sempurna.
“Makasih ya, sayang.” Senyumku mengembang. Pandanganku terarah pada sepucuk surat yang muncul dari dalam kotak biru muda di dekat meja rias. Pasti mama yang meletakkannya disana, “kotak itu dari kamu?”
“Kotak yang mana, ya?”
“Hayo, jangan bohong sama aku.”
“Hehe, iya.” Cengirannya terekam jelas oleh memoriku. Pasti saat ini ia sedang menampakkan air muka yang sama.
“Makasih ya, Ra.”
“Udah, ah. Jangan bilang makasih terus. Kamu do’ain aku aja supaya nanti pagi udah bisa sampai Jakarta dengan selamat. Lantas bisa kasih surprise ke kamu.”
“Iya, iya.. Aku selalu do’ain kamu, kok. Dan kamu nggak perlu kasih surprise apa-apa lagi buat aku. Ini semua udah cukup, Ra.”
Tak ada suara yang menyahut.
“Dengan kamu menjadi pengucap dan pemberi hadiah pertama-pun udah cukup. Aku sayang kamu. Kamu hati-hati ya.”
Tut.. tut.. tut..
Telepon terputus.

Senyumku masih tersisa. Aku berharap detik ini akan selalu menjadi teman setiaku. Sekalipun kantuk menyergap. Aku kembali tertidur. Membawa semua kenangan tentang Rayi ke alam mimpi.


...Kamu do’ain aku aja supaya nanti pagi udah bisa sampai Jakarta dengan selamat. Lantas bisa kasih surprise ke kamu...
Deg.
Tangisku tumpah. Baru saja Tante Intan, mamanya Rayi, mengabariku tentang berita duka ini. Rayi pergi. Ternyata, kalimat terakhir Rayi semalam adalah benar-benar kalimat terakhirnya. Selamanya.
  Rayi mengalami kecelakaan serius saat mengendarai mobilnya menuju Jakarta. Padahal dalam waktu yang hampir bersamaan, bunga-bunga kebahagiaanku masih belum berhenti bermekaran. Seolah terjadi stock split[1] padanya.


Angka tujuh belas itu masih disana. Masih terbakar oleh api pertanda perpisahan. Aku masih belum berniat memadamkannya.
Pikiranku mengawang. Kuputuskan untuk melangkahkan kaki keluar, mencari sedikit kesejukan. Taman.
Salah! Adalah keputusan yang salah aku melangkah kesini. Nyatanya, lampu-lampu taman dan penataan meja yang begitu rapi menyisakan kenangan terakhir tentang Rayi. Rupanya, ia telah mempersiapkan pesta ulang tahunku dengan begitu indah melalui invisible hand-nya yang ada di Jakarta, Rama. Sekalipun raganya dituntut untuk fokus pada penelitian yang sedang dikerjakan, pikirannya tak sepenuhnya mampu memungkiri bahwa rasa sayangnya padaku begitu tulus. Terpaut usia lima tahun tak pernah sedikitpun membuatnya ragu. Katanya, aku berbeda. Aku tidak manja seperti kebanyakan remaja labil seusiaku. Aku manja pada saat-saat yang semestinya, begitu pendapat Rayi.
Aku selalu dibuatnya bahagia. Tersenyum adalah satu-satunya kebiasaanku ketika disisinya dan saat mengingatnya. Aku sayang Rayi.
Hujan lagi. Pelupuk mata ini sudah lelah menelurkan butir-butir kepedihan sejak tadi. Namun, apa daya. Perih masih saja hinggap saat raga sudah tak nampak.

Langkahku mendekati rangkaian bunga di sudut sebuah meja yang paling besar. Indah. Pasti Rayi yang memesan rangkaian detail khusus ini, gumamku. Aku selalu ingat bahwa Rayi selalu memilihkan bunganya sendiri. Detail rangkaiannya-pun selalu harus....perfectly.
Tanganku mengusap air mata yang hendak turun lagi. Aku berusaha membendungnya dari hadapan bunga terakhir persembahan Rayi.
Hatiku perih. Masih perih. Aku belum dapat percaya sepenuhnya kekasihku sudah tiada. Padahal beberapa malam sebelumnya ia masih memelukku. Erat. Sebuah pertanda perpisahan yang baru kusadari detik ini.
Aku kembali ke kamar. Lilin itu masih saja disana. Kuhampiri, kupadamkan perlahan.
Gelap. Layaknya malam yang semakin larut. Serupa nyawaku.
Kuletakkan rangkaian bunga di sudut meja rias. Kurebahkan tubuh yang teramat lelah ini. Kubiarkan nyawaku pergi ke belantara alam bawah sadar.


[1]     Stock split merupakan istilah ekonomi yang setara dengan proses pembagian saham menjadi dua bagian, sehingga jumlah saham yang sudah ada menjadi berlipat dan diharapkan dapat menaikkan harga jual saham di pasar.

Desember 19, 2012

Saat kopi pagiku tumpah begitu saja.


Pelangiku kelabu. Bulir-bulir air hangat ini tumpah ruah. Meluruhkan mejikuhibiniu keanggunannya. Ia meninggal.

Meninggal.

Ya. ia sudah tiada. Kenangannya telah terkubur bersama raganya. Raga yang selalu membelai gundahku. Raga yang menjadi sandaran rapuhku. Raga yang menyatukan serpihan-serpihan kisah tak bernyawa. Namun, kini dihancurkannya lagi. Hanya gelap yang menyiksaku.



 Ini #katahatiku pagi ini. Mana #katahati-mu?

Kunjungi pula:
        - Website Bukune (http://www.bukune.com/)
        - Fan page Facebook Bukune (http://www.facebook.com/bukunepenerbit)
        - Tumblr Bukune (http://bukune.tumblr.com/)

Desember 17, 2012

dua tiga - empat puluh


5cm.
Seperti itulah kedekatan kita saat ini. Kebersamaan yang baru berumur empat bulan. Namun, telah mampu melukiskan banyak hal. Tangis, tawa, gundah, gelisah, bahagia. Luruh sudah semua angan yang semu ketika bersama kalian.
Aku beruntung tumbuh di sudut bumi ini, dan bertemu kalian. Sosok malaikat pembawa ‘kegilaan’ dalam hidupku.
Ah! Aku tak perlu berlebihan. Aku takut nantinya akan dikecewakan. Tetapi kurasa kalian pantas mendapatkannya......ruangan terindah dalam keping hati ini.


Teruntuk sahabat-sahabatku. SBT©
Kamis, 13 Desember 2012
23:40 WIB