...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..
☂☂☂
Tampilkan postingan dengan label flashfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flashfic. Tampilkan semua postingan
Maret 26, 2013
Januari 17, 2013
Surat Kepergian..
Ragamu boleh pergi. Tetapi hatimu masih tertinggal disini. Izinkan aku untuk tetap menjaganya, sepenuh dan setulus hati.
Semua kenangan tentang dirimu takkan pernah bisa terhapus begitu saja. Dua
tahun bukanlah waktu yang singkat. Meskipun aku belum mengerti betul arti yang
sesungguhnya. Namun, nuraniku telah menjelaskan. Bahwa sebuah kebersamaan
menyimpan makna yang mendalam.
Kini
aku beranjak dewasa. Mulai memahami arti kebersamaan. Tapi, sayang, semua
harus diakhiri secara tiba-tiba. Kamu pergi. Ragamu pergi, meninggalkanku.
Aku
berharap bisa bangkit. Dari kehampaan sisa kepergianmu. Aku pikir, aku bisa.
Nyatanya tidak. Atau mungkin belum. Semuanya tak mudah.
Desember 17, 2012
Kemudian Januari..
Desember.. kemudian Januari.
Ada apa?
Oh, tidak. Hanya saja aku ingin
langsung menyeberang pada selanjutnya, Februari.
Loh, mengapa? Bukankah banyak hal
yang dapat kau lakukan padanya? Berlibur.. bercanda.. bermain.. tertawa.. dan,
kau juga bisa menikmati pertambahan usiamu di bulan itu.
Ya, benar. Tetapi aku tak pernah
menantikannya. Ditunggu ataupun tidak, ia akan tetap datang. Sayangnya, aku tak
pernah berniat merasakan. Bahkan kalau bisa, aku ingin loncat saja dari hari
ini. Menghapus adanya kata ‘libur’, dan ‘tahun baru’, juga ‘ulang tahun’. Aku
sudah mati rasa.
Mati rasa?
Ya.
Aneh.
Mati rasa padanya, hari ke
duapuluh sekian itu.
dia yang lain
Satu tahun lalu. Saat aku masih
perih memendam seluruh rasa ini. Saat sayap-sayapku terpaksa diisolasi. Saat semua
bintang terpaksa kubenci. Hatiku milikmu, Fab.
Sekarang? Lelahku memuncak. Entah apa
sebabnya. Raga dan batinku mulai berontak. Mereka tak sanggup lagi seperti ini.
Mungkin sebaiknya aku yang pergi. Mencari tambatan yang lain. Objek yang pantas
kukagumi.
-Diva-
Oktober 13, 2012
Aku Telah Tiba di Persimpangan
Aku
menapaki hidupku perlahan-lahan. Merasakan getar kehangatannya yang kian
merasuk dalam kalbu. Mencecap manisnya kelembutan yang disuguhkan. Hembusan
angin mengalun dihadapanku. Menyentuh jemariku yang terpaku pada sebuah besi
penyangga di lantai dua gedung
A yang menghadap langsung ke arah kolam makara. Aku telah berdiri disana sejak beberapa menit lalu. Berdampingan
dengan seseorang yang telah kukenal baik.
“Aku
begitu ingin mampu merengkuh hidupku sendiri. Ingin mampu memaknai arti hidup
yang sebenarnya.” Ucapku tiba-tiba.
“Ada
apa dengan hidupmu?” tanyanya lembut.
“Hidupku
begitu datar. Flat!” jawabku
Kedua
bola matanya masih menerawang memandangi langit malam yang penuh dengan kilauan
bintang ketika menanggapi kalimatku, “terkadang kita memang harus memberikan
sedikit warna dalam hidup. Meskipun sebenarnya, takkan pernah ada hidup yang
sempurna.”
“Setiap hari, bahkan setiap detik, aku
melewati hidupku dengan berlari dan terus berlari. Hanya mengikuti alur yang
telah ada. Sedikitpun tak pernah aku merasa lelah ataupun berusaha berontak.”
“Itulah
hidup. Hidup ada untuk dijalani.”
Aku
terdiam.
“Coba
kau lihat bulan diantara pijaran bintang diatas sana,” telunjuknya mengarahkan
mataku pada apa yang ia ucapkan, “ia begitu indah. Ia selalu tulus muncul
dikala malam.”
“Tapi
hidupku berbeda dengan bulan. Ia selalu memiliki cara untuk memastikan
ketulusannya tetap terpancar. Namun tidak dengan hidupku. Hidupku penuh dengan
kepalsuan. Semua hanya sebagai formalitas. Tak sedikitpun ketulusan dapat
tersirat darinya.”
“Kau
salah, ketulusan itu akan selalu ada dalam kehidupan, meskipun keberadaannya
hanya setetes sekalipun.” Ia menarik napas dalam-dalam.
“Darimana
kau tahu itu? Kau bahkan pernah bertanya padaku apa itu hidup.”
“Dari
jutaan pijaran bintang diatas sana. Barusan mereka meniupkan sesuatu kedalam
diriku.” Seketika itu ia tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak dapat
terjangkau oleh orang-orang disekeliling selain aku. Hanya aku.
Tanpa
kusadari, senyumku juga mengembang menyaksikan taburan bintang yang menyapaku
dibalik langit yang semakin gelap.
“Kau
mau kuantar pulang sekarang? Sebelum langit malam semakin muak memandangi kita
berdua disini.” Ujarnya berusaha mencairkan suasana dari perbincangan ‘berat’
tadi.
Aku hanya
mengangguk dan berusaha menampilkan senyum tipis.
∫
“Istirahat
yang cukup ya. Jangan pernah menganggap hidupmu datar lagi. Aku percaya bahwa
ketulusan sebentar lagi akan menampakkan wujudnya dihadapanmu.”
“Kau
yakin?”
“Ya...
tentu saja. Aku selalu yakin dengan apa yang aku ucapkan.”
“Okay.
I still be waiting for it. Thanks for today.”
Tubuhnya
berbalik dan berjalan menjauh. Lama kelamaan menghilang tertutupi gelapnya
malam. Aku selalu takjub ketika kalimat bijaknya muncul. Ah...
∫
Kamis,
18 Agustus 2011 (15:45 WIB)
Sabtu,
13 Oktober 2012 (20:20 WIB)
&langit-langit
bagi hamparan angin&
Snowballove. You..
Terlahir ditengah kesempurnaan raga dan keterbatasan
penghidupan, tak pelak membuatnya berprinsip seperti air yang pasrah saja
terbawa kesana kemari sealur oleh derasnya arus. Ia, seorang ayah yang hampir
memasuki usia setengah abad, yang begitu luar biasa. Ya, memang.. setiap ayah
di dunia ini pasti luar biasa, dan mereka memiliki ke-luarbiasa-annya
masing-masing. Namun, satu yang membedakannya dari ayah-ayah lain yang pernah
ada di dunia ini, yaitu ketulusan.
Aku ingat.. dahulu, di hari ketika aku baru saja
genap berusia enam tahun dan merengek minta dibelikan sepeda, aku kehilangan
mereka sepanjang hari. Tidak kurasakan sedetikpun kehangatan ditemani mereka
sepenjang hari bahagia itu. Aku kesepian, tapi tak terlalu terasa, sebab aku masih
kecil. Namun, ketika senja menjelang dan yang menemaniku hari itu beranjak
pulang, aku menemukan siluet sosok gagah dan wanita dewasa berdampingan
berjalan mengarah padaku dengan menuntun sebuah benda kecil ditengah mereka,
sepeda. Mereka ayah dan ibuku. Dalam sadar aku kemudian berlari, memeluk
mereka. Ternyata ini yang mereka persembahkan. Aku memeluknya erat, ayahku. Aku
melihat matanya berbinar, seakan ada suatu hal yang tersiratkan. Entah mengapa
aku bisa begitu dalam merasakannya, padahal saat itu aku masih belum mengerti
kehidupan, dan masih sangat jelas terekam hingga saat ini. Mungkin bila aku
yang sekarang yang menatap mata itu, pasti aku mengerti apa yang sebenarnya tak
tersampaikan. Sayangnya, bukan...
Dari balik kubikel berwarna abu-abu ruang
laboratorium bahasa Gedung Sumitro Djojohadikusumo, aku merasakan getaran hangat pada kedua pelupuk amata. Bulir air hangat ini seakan mendesak keluar sesaat ketika tuannya menangkap sinyal paling buruk sepanjang perjalanan cita-cita.
Otak reptil ini tiba-tiba membeku. Limbic system mengaktifkan
kinerja hippocampus. Dan seketika itu pula terbayang sosoknya, panutan sepanjang
masa yang mengajariku menitikkan air mata. Mengajariku memaknai pedih dan
kerasnya hidup ini.
Aku merasa telah begitu bersalah. Setelah banyak pengorbanan
dan air mata yang ia tahan, masih saja aku tega mengecewakannya. Sungguh, tak
pernah berniat sedikitpun aku menorehkan kecewa dalam hatinya. Hanya saja aku
sedang terjerembab dalam kelemahanku sendiri. Namun, aku tak akan membiarkan kelemahan
ini tumbuh dan berkembang semaunya. Aku masih memiliki kuasa atas hidup dan
penghidupanku.
Maka,...
Dua lembar saksi bisu ini akan kupastikan tetap
membisu dan sekaligus menjadi saksi keberhasilanku bangkit kelak.
Demi dia.
Sabtu, 13 Oktober 2012
19.55 WIB
&langit-langit bagi hamparan angin&
Sebab kerinduanku..
Saat
kegagalan menghampiri kita berdua; kau ada untukku. Aku ada untukmu.
Kegagalan
bukan berarti keterpurukan, tidak pula pertanda pengkhianatan, atau bahkan
kehilangan. Terbukti.. justru saat kegagalan-lah Tuhan menghadirkanmu, dan
menuntunku.
Aku
hanya ingat bahwa kala itu aku mengirimkanmu kabar perihal perjuanganku yang
diperpanjang. Dan kau, seakan turut merasakan. Bagai tersambar petir aku
dikagetkan dering panggilanmu. Di seberang sana, suaramu yang khas membahana,
memecah fokusku dari rangkaian-rangkaian logaritma, baris dan deret. Arus
deras; suaramu tak putus-putus. Teruuus saja berbicara memotivasi. Ah, aku tak
se-rapuh yang kau kira. Buktinya, aku tak terjerembab dalam liang kegagalan.
Aku hanya merindukanmu, merindu ucapmu yang sok bijak itu-padahal kau sendiri
pun sangat perlu di motivasi- merindu lirikan maut yang mampu membuatku salah
tingkah setengah mati. Hhh~ tak mampu lagi aku berucap. Leleh sudah oleh
manismu. Kau selalu bisa mengembalikan semangat juangku:”
Katamu,
“semakin banyak gagal, justru kesuksesan yang didapat akan terasa lebih manis.”
Ah! Kalimatmu menyejukkan resah ini. “Mundur satu langkah untuk maju lima
langkah itu lebih baik. Artinya, kita sudah empat langkah lebih awal dari yang
lain”, tambahmu. Ah kamu...
Aku bermimpi, suatu hari nanti tetap kita
akan dipertautkan kembali. Merajut kisah satu tahun lalu dan menjadikannya
indah. Seindah kita, rival! Ya... selamanya kita menjadi rival, bukan?
Pagi ini kau muncul secara
tiba-tiba dalam kotak pesanku. Baiklah, aku kira bukan sebuah ketidaksengajaan.
Bisa jadi kau begitu rindunya bertemu dan bercanda denganku. Bagiku tak
masalah, toh aku juga sama sepertimu.
Selasar
gedung Nathael Iskandar atau yang kerap
disapa gedung A ini menjadi kawan kegamanganku pada pagi hening tanggal 11. Pesanmu
yang tak sesingkat biasanya membuat keraguanku tumbuh liar begitu saja. Kuakui,
kata-katamu ada benarnya. Posisi tempat duduk paling depan bisa saja aku raih
pada hari-hari lain. Namun, hadir dalam kuliah umum dengan pembicara luar biasa
belum tentu kutemui lagi lain kesempatan. Ah! Kau selalu bisa meracuniku dengan
acara-acara bermanfaat seperti itu. Dan,
kau belum lupa dengan kegemaranku mencari kegiatan yang serupa dengan isi
pesanmu.
Keraguanku mencapa klimaks. Langkah ini bergerak
menuju halte bikun dan memutuskan menuruti ajakanmu, sebab kerinduanku.
Persembahan untuk seorang rival,
dan
Minggu, 22 Juli 2012 (23:32
WIB)
Sabtu, 13 Oktober 2012
(19:27 WIB)
&langit-langit bagi
hamparan angin&
Oktober 07, 2012
Keping Rasa yang Pertama
Kicauan burung
pagi ini rupanya telah menggambarkan keindahan sepanjang hari padatku di kampus
perjuangan ini. Betapa tidak? Sekalipun selasa merupakan hari yang paling aku
benci sejak tiba pada masa perkuliahan, nyatanya tidak lagi sejak detik ini. Detik-detik
ketika aku lebih mampu leluasa mendapatkan warna. Detik dimana aku bisa menghabiskan
sepanjang mata kuliah dengan perasaan yang mendamaikan. Ini kagumku yang
pertama. Kagumku pada sosok sederhana dibalik jabatan ‘ketua’ yang
disandangnya.
Penampilannya biasa
saja, bahkan bisa dibilang sangat jauh dari karakteristik-karakteristik makhluk
yang paling sering dikagumi. Tidak ada kulit
putih dengan perawakan tinggi yang memesona. Tidak pula dengan sejuta prestasi
akademis dan materi yang melimpah ruah. Semuanya biasa saja. Namun, kagumku ini
sungguh luar biasa.
Entah muncul dari
mana keping rasa yang pertama ini. Namun, yang jelas dan selalu kuingat, sikap
santun dan ramah yang ia pancarkan telah mematut kagumku yang pertama.
Aku baru saja
selesai menikmati senyum manisnya yang terkembang sepanjang perjalanan menuju
ruang BPM. Memang, bukan senyum yang ditujukan khusus untukku, tapi aku yang
ketika itu hendak menuju kolam makara tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Seketika aku
teringat saat-saat melelahkan di Desa Cijulang. Lagi-lagi sosoknya memberikan
kesejukan ditengah kerindangan. Jaketnya berwarna abu-abu, seperti warna makara
kebanggan fakultas kami, dengan garis berwarna agak muda yang menghubungkan
kedua sisi dada bidangnya. Sekilas ia tampak gagah. Pembawaannya rapi dan
perlahan. Pasti ia pandai dan aktif, aku berasumsi.
Dua langkah maju
tangannya menggapai mic. Kata demi
kata, frasa dan kalimat, terangkai.. terucap.. kagumku dimulai disini.
&langit-langit bagi hamparan
angin&
Minggu, 07 Oktober 2012
19.32 WIB
Februari 26, 2011
JUM'AT 25 FEBRUARI 2011
Pagi itu begitu cerah. Awan-awan di langit Nampak bersahabat menemani makhluk-makhluk yang hendak menuntut ilmu. Mereka berdatangan satu per satu. Kemudian memasuki kelasnya masing-masing. Di salah satu sudut sebelah tenggara, sebuah kelas terlihat damai dengan murid-muridnya yang luar biasa. Saking luar biasanya, kelas baru ramai setelah lewat bel masuk sekolah. Bukan karena mereka semua pendiam, namun lebih tepatnya dikatakan bahwa mereka baru datang.
Lima belas menit berlalu. Suasana sedikit berubah setelah mereka selesai melaksanakan tadarus Al-Qur’an -meskipun yang melaksanakan rutinitas itu hanya beberapa saja, masih dapat dihitung dengan jari tangan-. Mereka mulai mengeluarkan buku catatan dari dalam tas masing-masing. Aku yang hari itu duduk di bari keempat dekat pintu-pun turut mengeluarkan buku catatan ekonomi beserta alat tulis seperlunya.
Wanita berkerudung yang berdiri dekat laptop itu mulai menggerakkan jemarinya, berbicara lantang, memulai Jum’at yang biru. Beliau mulai mulai menjelaskan materi baru. Kalimatnya lugas dan pasti. Tiap hal dijelaskan sungguh detail hingga kami mengerti. Namun suasana apa yang kutangkap…………
Beberapa murid di baris belakang, bahkan depan sekalipun, menyandarkan dagunya di meja, bertumpu pada tangan yang masih harum nan halus. Perhatian mereka tak tercurahkan untuk wanita yang bersusah mendidik dengan ikhlas di depan kelas. Sebagian sibuk dengan kebanggannya terhadap teknologi yang demikian canggih berbentuk ‘handphone’. Yang lainnya terkantuk-kantuk. Sungguh bukanlah hal yang indah dipandang. Namun kenyataannya inilah yang terjadi disekitar remaja pelajar yang mengaku ‘jaman sekarang’.
@xi ips 3 , jum’at 25 februari 2011 pk 07.03
Langganan:
Postingan (Atom)



