...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Januari 31, 2013

friend.

"Life is an awful, ugly place to not have a best friend."

 - Sarah Dessen, Someone Like You

Januari 28, 2013

Tentang Kata "Sahabat"

Aku pernah terjaga ketika detik baru saja menyapa hari yang baru. Tidak sedang melakukan apa-apa. Hanya diam. Hanya terdiam. Karena tak ada satu hal pun yang dapat kulakukan, kecuali.... ya. Akhirnya aku menulis. Setelah lelah hanya memandang kosong pada langit-langit kamar yang mulai berdebu. 

Huruf demi huruf menari dan membentuk serangkaian puisi. Tentang kata "sahabat". Tentang betapa bodohnya aku menganggap orang lain sahabat. Tentang dalamnya kecewaku pada kata ini. Juga tentang gilaku menantikan hal semu ini.

Benarkah "sahabat" itu hanya ilusi?
Bila kau bertanya padaku saat itu dan beberapa waktu setelahnya, maka aku akan berkata YA. Sebab tipu dayanya selalu menjerumuskanku pada sebuah pengharapan yang hanya bisa menyisakan luka. Berkali-kali aku bersabar dan berbaik hati pada mereka yang katanya sahabat. Tapi, nyatanya mereka hilang begitu saja tanpa jejak. Asyik dengan dunia baru dan bersikap (mungkin) seolah-olah aku tak pernah hadir. Sekalipun dulu kami begitu dekat.
Begitu selalu berulang.


Sayangnya, tidak untuk saat ini. Lebih tepatnya: TIDAK SEPENUHNYA. Sekalipun masih tersisa ketidakpercayaan tersebut, tapi kenyataan telah menghadirkan kisah indah dibalik sebuah jalinan persahabatan padaku. Dan sampai saat ini, senyum telah berkali-kali terpancar karenanya. Karena kehadiran malaikat-malaikat yang entah dari mana asalnya

Dulu aku menangis. Ketika aku merangkaikan puisi kesepianku itu. 
Namun, kini aku tersenyum. Saat kunang-kunang malamku bergantian hadir dan memberi cahaya pada gelap ha(r/t)iku.

Aku yang dulu kece...pian :')

Januari 27, 2013

Terima Kasih :)

18!

Sepagi tadi, tiga perempuan menghampiri kamarku dengan kejutan yang tak pernah kusangka. Terima kasih; Nurul Sandriyani, Ina Nur Janah, Dania Clarisa.




Berlanjut kepada sebuah janji, berkaitan dengan tugas dan kewajiban--yang tiba-tiba digagalkan.

Alhasil, disinilah kami. Enam orang yang duduk manis pada sebuah sudut yang menghadap langsung ke luar. 
Semula--ketika aku datang--baru ada dua diantara mereka. Tiga yang lain terlambat begitu lama. Ternyata, ketika mereka datang, dibawakannya kue dan hadiah :)


Terselip pula surprise yang lain. Yaitu, dua donat dengan lilin super besar :D 


Terima kasih:

  • Arnindia
  • Donna Pratiwi
  • Fadlillah Octa Noviari
  • Naila Syahidah
  • Zaenab Lubis
juga.... Astri Ratnasari yang tidak bisa hadir :')



Desember 17, 2012

shbt(?)


Sahabat.
Apa definisi sahabat menurutmu?
Mereka yang ada disaat kau butuh sandaran-kah?
Mereka yang memahami setiap keluh kesahmu-kah?
Ataukah mereka yang menyelipkan namamu di setiap do’anya?

Yang mana?

Beri aku satu alasan mengapa ia patut kusandangkan kata ‘sahabat’!!

dua tiga - empat puluh


5cm.
Seperti itulah kedekatan kita saat ini. Kebersamaan yang baru berumur empat bulan. Namun, telah mampu melukiskan banyak hal. Tangis, tawa, gundah, gelisah, bahagia. Luruh sudah semua angan yang semu ketika bersama kalian.
Aku beruntung tumbuh di sudut bumi ini, dan bertemu kalian. Sosok malaikat pembawa ‘kegilaan’ dalam hidupku.
Ah! Aku tak perlu berlebihan. Aku takut nantinya akan dikecewakan. Tetapi kurasa kalian pantas mendapatkannya......ruangan terindah dalam keping hati ini.


Teruntuk sahabat-sahabatku. SBT©
Kamis, 13 Desember 2012
23:40 WIB

aku pernah terluka


Aku pernah terluka, oleh kamu yang kuanggap saudara.
Kamu yang kuanggap sahabat.
Sahabat? Oh! Apakah ini yang namanya sahabat?
Entahlah..
Entah sudah berapa lama aku membiarkan hati ini menganggapmu sahabat, dan entah berapa sering hati ini dikecewakan pula.
Padahal, dirimu dan hatimu disana. Belum tentu menganggapku sahabatmu. Bahkan, belum tentu pula kau mengingatku, ya?
Terkadang logika bisa mati karena hati.
Hati yang (mungkin) telah salah menganggapmu sahabat.
Tapi, sejujurnya, aku masih ingin menganggapmu sahabat.
Sahabat yang meluangkan waktunya untuk mendengar gundah dan bahagiaku.
Bukan sahabat yang maunya hanya didengarkan saja...
Aku lelah.
Aku sudah lelah terus menerus iri padamu.
Sebab kau dan cerita-cerita romantismu.
Tidak pernahkah kau memahami sedikit perih hatiku ini??
Bukan karena romantisme-mu itu. Melainkan sikapmu menempatkanku.
Apa aku (masih) sahabatmu?
Sepertinya bukan.
Bukan.
Mungkin.

09:15 WIB
Kamis, 13 Desember 2012

katanya...sahabat?


Ternyata benar...
Tak sepenuhnya kita selalu sependapat, aku akui.
Tak selamanya kita selalu bersama, aku sadari.
Kadangkala aku harus berjalan menyusuri medanku sendiri
Bertanggung jawab terhadap rambu-rambu yang kupilih sendiri.
Kalian pula begitu, kelak.
Tapi tidakkah kalian sadari saat ini kita masih ‘bersama’.
Raga kita masih dipersatukan. Namun dimana hati kalian?
Bisa-bisanya kalian mengabaikanku. Mungkin sejenak sengaja mengabaikanku.
Membiarkan aku terkurung dalam ketidaktahuan ini...
Aku kecewa, aku sedih, aku tersakiti.
Namun entah aku kecewa terhadap siapa, sedih karena apa, tersakiti oleh siapa. Entah...
Padahal kita katanya.................’sahabat’

Dari sebuah raga kekecewaan.
Minggu, 14 Oktober 2012   
 12:51 WIB

September 09, 2012

Awalnya kukira..


Awalnya kukira.. OPK hanyalah sebuah rangkaian kecil kegiatan ospek fakultas dalam jangka waktu tertentu dan langsung habis, tiada berbekas. Kemudian sibuk dengan kuliah dan kesibukan masing-masing, tanpa menyisakan perasaan lain: kekerabatan. Ya, masing-masing. Nyatanya...
Dipertemukan dengan makhluk-makhluk asing dengan berbagai kepribadian dalam kelompok 25; SUBROTO. Ah, mungkin mereka beranggapan sama denganku. Kelompok ini hanya sementara, kemudian kami menjalani hari-hari dan kesibukan kuliah bersama teman yang sudah dikenal lama saja. Oke, mari menjalani ‘penyiksaan’ ini seadanya. Segera berakhir. Dan... sudah!
Hari-hari pertama; hanya perkenalan dan fokus pada tugas. Hanya itu.
Selebihnya..?
Detik demi detik habis begitu saja. Terjalin dan terangkum dalam memori kesibukan bersama SBT 25; makhluk asing nan abstrak yang entah.. tak pernah terbayangkan sebelumnya bertemu dengan mereka. Ditambah mentor-mentor kece yang sebelumnya  hanya satu, yang membuatku sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan “Kenapa harus cowok?” Seperti hanya mendapatkan sebelah orang tua. Hanya papa, mamanya pergi. Haha
Ternyata benar kata ka Rafi.
Setiap hari, mau tidak mau pasti bertemu dan bersama SBT larut dalam kesibukan. Pertemuan yang intens ternyata sedikit demi sedikit meruntuhkan pertahanan kami. Pertahanan sikap. Satu demi satu mulai terlihat sifat dan sikap aslinya.
Putri permata sari. Satu-satunya yang kuingat namanya karena saat perkenalan dia tepat disebelah kiri. Dan yang pertama kali aku tahu nomor handphonenya.
Hutomo Danu. Ketua kelompok yang ketika berbicara akan selalu menampakkan aura jawanya, padahal berasal dari SMA di Depok. Danu adalah satu-satunya yang selalu mencari sensasi. Tak pelak julukan "Sensasional BangeT" kemi lekatkan pada dirinya.
Josephine Pinta Ruth Nevelyn Silitonga. Gadis cantik proporsional yang sangat aneh. Sekilas mungkin kalian akan berpendapat bahwa ia adalah anak yang manis dan tenang. Nyatanya, tidak! Cuma dia yang tiba-tiba histeris sendiri disaat kita sibuk atau bahkan diam. Cuma dia yang monolog sambil jalan dalam keadaan sadar, padahal yang lain sedang berbincang dengan ka faby menuju Departemen Akuntansi. Dan, cuma dia yang feelingnya sempurna tentang asisten dosen keren yang saat itu sedang berjalan di batang tegah gedung A. Entah asal bicara, entah sungguhan, Nev berharap dia menjadi salah satu asdos SBT 25. Dan..... yak! Benar. Kakak jernih itu menjadi asdos matekbis kelas kami. Bisa dibayangkan, Nev akan lebih sering mendadak kejang memandangi asdos kami itu. Bahkan, masih teringat kalimat Nev yang membuat tawa kami pecah ketika melihat tingkahnya memandangi tiap langkah asdos matekbis, "Ya kalau dia lihat biar saja, kalau dia nggak liat ya nikmati saja.." Aduh, Nev...
Ani Utami. Cowok tapi cewek. Komdis OPK FEUI 2013.
Utari Indriani. Sabar-Berjilbab-TERBULLY. Sekian.
Selvi Nur Yuliani. Tinggi dan kalem. Sepertinya gadis ini tidak terlalu banyak tingkah.
Nabilah Aqila. Cewek semarang, tapi bukan asli semarang. Anehnya, dia sangat fasih berbahasa jawa dengan dialek-dialek khasnya. Bikin iri setengah mati kalau dia berbahasa jawa L
Fatimah Shafiyyah. Mahasiswi manajemen yang juga calon wanita sholehah, begitu kalimat canda kami.
Rangga Yodi. Apa ya? gebetannya dio, mungkin :p
Dio Alif P. Jangan bingung dek!! Hahaha. Kasihan Dio dibilang bingung terus. Sebenernya sih ekspresi wajahnya biasa aja, nggak lagi bingung, tapi SBT menyimpulkan Dio adalah ter-bingung 2012.
Mamduch. Paling alim di SBT. Jadi jengkel kalau udah repot-repot nyapa dia, tapi cuma dibalas senyum yang sangatsangat simpel. Tanpa basa-basi lain._.
Atika Rachmawati. Cewek KKI yang kecengannya bikin mupeng. Haha *abaikan
Pur. (lupa nama aslinya nih-_-) Cowok KKI yang berusaha kita jodohkan sama atika. Tapi sepertinya tak mungkin.
Auryn. Aduuuh gadis ini imut banget. Kesannya apa yah?
Dimas. Cuma mau ngajak berdoa sama-sama buat kesembuhan Dimas, supaya dia bisa turut merasakan betapa ‘gila’nya SBT.
Yudhistira. Satu-satunya cowok SBT yang penampilannya paling lumayan dari yang lain :p tapi ternyataaaaaa... yudhis itu abstrak banget. Pertahanan jaim nya sudah sangat runtuh kalau bareng SBT.
Ah! Makhluk-makhluk abstrak ini..

Hari ini, klimaks komdis di pasca OPK. Bener-bener terharu. Terlebih waktu Yudhis bilang dia nggak akan pindah dan seakan menunda Jermannya. Hmpfh.. tergetar loh. Bersyukur banget dipertemukan dengan SBT 25. Sampai akhirnya air mata luruh tak terbendung lagi.
Ditambah waktu lihat dua orang mentor kece yang sudah sangat seperti pasangan papa-mama bagi SBT. Oase ditengah gurun pasir; komdis. Dua orang yang harus selalu siaga menanggapi ketidaknormalan SBT. Daaaan mereka adalaaah.. Abdillah Rafi & Amalia Malfira. Maaf ya kak, kalian kita ceburin ke kolam makara :P
Kalau komdis ada dihati FEUI 2012. Kalian ada di hati kita, SBT 25.

love you guys{}


SBT 25..
SOLID. BERKARYA. TANGGUH. Yiiihaaa~




&langi-langit bagi hamparan angin&
Minggu, 09 September 2012
22.10 WIB


Februari 29, 2012

sahabat baruku sudah ada yang memiliki


Baru dua hari yang lalu aku mendengar setia cerita galaumu, memberikan nasehat terbaik yang melintas. Menangkap sinar matamu yang penuh harap bahwa aku akan memberi secercah cahaya atas gundah yang kau derita. Tapi, tadi pagi-pagi sekali, aku telah mendapati kabar kau telah kembali. Ya.. kembali pada kasihmu yang lalu. Rupanya gundahmu telah berakhir. Apakah kalimatku menyiratkan kesimpulan yang mampu kau baca? Mungkin.

Aku turut bahagia, sahabat. Tapi... Entah mengapa aku merasa kehilangan. Yang ada dalam pikiranku hanya satu kesimpulan bahwa kau takkan pernah lagi membutuhkanku untuk sekedar menggali tentang sedikit perasaan dari sudut pandang perempuan. Mungkin kau tak lagi mengenaliku sebagai satu titik yang kau butuhkan sebagai pelampiasan ceritamu. Bahkan, mungkin aku harus membangun tembok kokoh untuk membatasi kita. Dan aku harus terbebani rasa menjaga perasaan kekasihmu.

Baru satu hari kau kembali padanya, aku sudah kehilangan banyak waktu untuk menggali perasaan seorang laki-laki darimu, sahabat. Padahal, kedekatan kitapun baru saja terjalin. Aku nyaman berkeluh kesah tentang kasihku disisimu. Kaupun begitu, bukan?

Aku kehilanganmu, sahabat.

Perlu kau tau, aku butuh lebih banyak waktu untuk meretas cerita gundah dan pendapatmu!





10:44 WIB
Rabu, 29 Februari 2012
langit-langit bagi hamparan angin

Februari 10, 2012

if you're not prepared to be wrong, you'll never come up with anything original.

Februari 04, 2012

surat untuk sahabat


Untuk sahabat yang melupakanku..

Sahabat, ingatkah kau ketika di hari bahagiamu aku hadir ditengah suasana asing yang baru kukenal? Dan apakah kau tahu yang sungguhnya kurasakan?
Hatiku bergejolak. Kau tahu kenapa? Karena aku merasa sangat tidak nyaman berada pada lingkaran samar berwarna abu-abu yang menamakan dirinya sebagai ‘sahabat’. Ya.. ‘sahabat’ barumu, bukan sahabatku. Bahkan, bukan pula teman yang mengenalku. Mereka hanya sekedar ‘tahu’ aku.

Awalnya, nurani ini ingin menolak ajakan mereka. Namun, tak sanggup lidahku berkata ‘tidak’. Karena kau sahabatku. Seorang yang sebagian hatinya telah disisipkan namaku. Meskipun hanya sebagai sebatas tempat sampah ketika duka mendera. Tapi senyummu telah tergores indah dalam memoriku selama dua tahun kebersamaan raga kita. Tidak mudah untukku menghapusnya begitu saja, sebab yang telah tergores akan selamanya membekas. Itulah yang kuharapkan dari kebersamaan kita dahulu, meskipun telah tiga tahun raga kita tak lagi selalu berdampingan. Tapi aku selalu merasakan hadirmu dalam jiwa ini. Entahlah dengan dirimu…

Sahabat,
Sekalipun raga dan batinku hadir memeluk hari bahagiamu, agaknya jiwamu tak merengkuhnya. Tanpa kau sadari, kau sudah mengecewakanku dengan sikap acuhmu yang kau balut dengan sutera. Tapi perlu kau tahu, seindah dan selembut apapun kau berusaha menutupinya, pikiranku selalu mampu menembus dan membaca yang tak tersurat.

Hari itu kau begitu asik dengan ‘sahabat-sahabatmu’. Hingga tak ada kisah baru yang biasa kau tumpahkan setiap hadirku singgah. Bahkan, obrolan tak penting pun tak juga menghampiriku dari bibirmu yang mungil itu.

Sungguh hatiku sepi. Padahal itu hari bahagiamu.
Harusnya kau ingat; siapa yang hadir waktu kau kabari kau sedang sedih? Siapa yang dengar ceritamu ketika ‘sahabat’ barumu menusuk dari belakang? Siapa yang berikan semangat ketika pacar yang sekaligus sahabatmu itu mendua? Siapa yang relakan bahunya tuk jadi sandaran ketika kau menangis? Siapa yang selalu tahu keadaanmu sekalipun tak sedang bersama? Siapa yang selalu rela mengorbankan waktunya hanya untuk mendengar lukamu? Dan... siapa yang selalu mengingatmu?
Itu aku!
Bahkan, ketika kau selalu lupa kapan aku ulang tahun, aku selalu ingat dan memberimu hadiah terindah buatanku sendiri.
Sadarkah kau betapa pilunya aku mengingat semua kenangan manis kita disaat kau tak pernah menyadarinya?!

Mungkin, sekarang raga kita tak pernah lagi bersama. Hanya sesekali saja. Dan kaupun telah menemukan banyak sahabatmu yang baru. Akupun tak berhak egois mengharap kau selalu menumpahkan kisahmu padaku. Tapi aku selalu bahagia saat kau bersedia membagi kisahmu dengan dunia barumu padaku. Hatiku terbuka lebar menerima tumpah ruah gejolak suka-dukamu.
Aku berharap, meski kau tak pernah lagi memintaku tiba-tiba datang kerumahmu hanya untuk mendengar tangismu, jiwamu masih mengingatku. Menempatkannya pada posisi yang sama ketika kita masih bersama. Sebab senyummu masih tergores indah dalam relung iniJ

#Langit-langit bagi hamparan angin#

Januari 30, 2012

17=padam!


Entah telah berapa kali aku termenung meratapi angka 17-ku yang padam. Ya... Padam! Tak sedikitpun cahaya singgah untuk menerangi. Mungkin aku terlalu banyak berharap. Sehingga sekejap mata semuanya musnah. Tiada berbekas.

Tak ada satupun yang kuterima di angka 17 ini._. meskipun aku memilikinya, mereka. Sekalipun pada hari mereka aku meluruhkan sedikit waktuku. Namun, kini nyatanya? Tak secuilpun balasan kuterima.

Ah! Mungkin aku terlalu jauh bermimpi mendapat ucapan darinya. Kue ulang tahun dengan lilin manis angka usiaku. Surprise pagi yang mengganggu lelapku. Atau kado sederhana pilihan mereka. Semuanya tak ada. Tak satupun kudapat.

Tuhan... engkau Maha Adil. Tapi mengapa kau kirim sepi di hari ku yang banyak orang nanti, terlebih juga aku. Dimana perhatian lebih sahabat-sahabatku kau simpan? Mereka tidak ada di hariku yang genap tujuh belas tahun. Mereka tidak muncul member moment indah seperti yang aku lakukan untuknya. Mereka hanya mengintip sebatas ucpan selamat ‘formalitas’. Inikah nasibku ya Tuhan...?!

Sungguh aku bersedih mengingat angka 17 ku. Bahkan, tak satu bendapun aku terima sebagai hadiah. Dari keluargaku sekalipun. Benar-benar tak satu hadiahpun kuterima. Menyedihkan ya?!! Kasihan! Dan... dia yang disisiku pun begitu. Tak sebutir pasirpun dipersembahkan. Entahlah... aku sampai bingung apa yang harus kukenang dari ulang tahun ke 17-ku, yang oleh banyak orang biasanya dinanti-nantikan.

Entahlah! Tangisku mengalir~

Januari 25, 2012

entah... (part 1)


Aku bagai titik putih yang dikelilingi jutaan butir titik hitam disekitarku. Tumpah ruah canda tawa diantara mereka. Euforia bahagia turut pula menyapa dan mengajakku turut serta. Ragaku mengangguk. Namun, hanya mengangguk. Tidak pada jiwaku. Nurani seakan terombang-ambing tidak berarah. Entah apa yang sedang singgah dalam pikiranku. Aku berusaha menggali... mencaro... hingga kutemukan sepetik arah yang ternyata menghantui satu bait batin ini. Aku gali kembali... aku mencari kembali... Kutemukan lagi sehelai cahaya luka yang selama ini menggoreskan bidang halus hati ini.

Apa kabar kau yang senang menggangguku?


          Apa kabar kamu? Masihkah kau mengingatku? Masihkah kau ingat kalimat yang membuatku pada tidak percaya paling puncak? Kenapa kau tiba-tiba menghilang? Kenapa kau berhenti mengganggu hari-hariku?
          Tak terasa... hari ini aku merasa merindukan semua pesan singkat perhatianmu. Meskipun aku selalu menganggapnya sebagai gangguan. Namun, yang aku tak pernah percaya, kala itu kau justru tetap selalu memenuhi inbox-ku. Padahal kaupun tahu bahwa aku telah ada yang memiliki. Anehnya kau tak pernah jengah. Justru aku lah yang berusaha membatasi diri darimu. Maaf. Mungkin sampai saat ini, hatiku masih terperangkap pada yang lain. Bukan kamu. Belum mampu berpaling.
          Tak terasa pula... hari ini tepat satu tahun setelah kau mengutarakan kalimat itu. Kalimat yang sebelumnya pun pernah kau ucapkan. Dengan tanggapan yang sama. Keadaan yang sama pula, aku bersama yang lain.
          Aku masih mengingatnya, kejujuran mengatakan ketertarikanmu padaku. Tapi ku menanggapinya biasa, bahkan sangat biasa. Aku menganggapmu masih sebatas temanku dan teman pacarku. Aku pikir kamu tahu itu, juga tentang persinggahan hatiku.
Namun, entah... Mengapa saat ini aku justru mengharap pesanmu kembali meramaikan ponselku. Sekalipun tak pernah aku berniat membalasnya sungguh-sungguh. Aku merindu. Merindu keberanianmu mengganggu datarnya hari-hariku.


langit-langit bagi hamparan angin
Sabtu, 21 Januari 2012


empat huruf satu nama yang tak pernah terbayangkan


kisah kita tak pernah terjalin sempurna, kawan
selalu saja ada pertentangan batin setiap ku bersikap padamu
entahlah...
refleks saja itu terjadi
sungguhnyapun aku tak pernah ingin memerlakukanmu seperti itu
namun jujurnya batinku yang menentukan apa yang ragaku hendak sempurnakan
namun satu yang selalu kubanggakan,
meski kisah kita tak pernah larut tak bersisa, kita masih mampu berdampingan
saling bercerita apa yang dirasa,
walaupun perang batin antara kita belum juga reda :’)
dan walau kau masih (selalu) memperlihatkannya jelas

aku selalu ingin mengecuhkanmu dari perjalanan kisah hidupku
tapi...
aku pernah mendengar kalimat;
“yang terlihat paling membencimu ialah yang sungguh-sungguh memperdulikanmu”
dan... yang aku paling takutkan ialah kau
satu nama yang tak pernah aku hiraukan
satu nama yang kuanggap tidak penting
satu nama yang tidak aku sukai
namun,
satu nama yang memperdulikanku kelak
satu nama yang melukiskan seribu warna kenangan dalam memori
satu nama yang tulus bertanya tentang keadaanku
aku takut...
ya... takut...
amat sangat takut...

langit-langit bagi hamparan angin

sabtu, 17 desember 2011
22.33 wib

Januari 02, 2012

bukan aku yang bersama sahabatku di hari bahagianya ._.

untuk sahabat yang melupakanku,



hari itu hari bahagia sahabatku, namun tiba-tiba aku terkaku. tak sedikitpun keberanian tuk turut dalam cerianya. keraguan.
aku mengenal mereka, yang kala itu menorehkan hari bahagia dan disisi sahabatku. mereka yang menamakan diri 'sahabat' bagi sahabatku.
lalu dimanakah aku?
entah terbuang, entah terinjak.
nyatanya aku selalu ada. namun sedikitpun tak dihiraukan. tapi aku sahabatmu... lihat aku!!!
sadari aku yang selalu ada untukmu, meski bukan aku yang ada di hari bahagiamu.



langit-langit bagi hamparan angin

Jum'at, 16 Desember 2011
23.08 WIB

Juni 04, 2011


Dia menyayangimu tapi bukan kekasihmu,
Dia perhatian kepadamu tapi bukan keluargamu,
Dia siap berbagi rasa sakit tapi dia tidak berhubungan darah denganmu,
Dia adalah….. SAHABATMU…

Sahabat sejati..
Marah seperti ayah,
Peduli seperti ibu,
Mengganggu seperti kakak,
Mengesalkan seperti adik,
Dan terakhir~ menyayangimu lebih dari kekasih.