...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..
☂☂☂
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Februari 08, 2013
Januari 31, 2013
Januari 28, 2013
Tentang Kata "Sahabat"
Aku pernah terjaga ketika detik baru saja menyapa hari yang baru. Tidak sedang melakukan apa-apa. Hanya diam. Hanya terdiam. Karena tak ada satu hal pun yang dapat kulakukan, kecuali.... ya. Akhirnya aku menulis. Setelah lelah hanya memandang kosong pada langit-langit kamar yang mulai berdebu.
Huruf demi huruf menari dan membentuk serangkaian puisi. Tentang kata "sahabat". Tentang betapa bodohnya aku menganggap orang lain sahabat. Tentang dalamnya kecewaku pada kata ini. Juga tentang gilaku menantikan hal semu ini.
Benarkah "sahabat" itu hanya ilusi?
Bila kau bertanya padaku saat itu dan beberapa waktu setelahnya, maka aku akan berkata YA. Sebab tipu dayanya selalu menjerumuskanku pada sebuah pengharapan yang hanya bisa menyisakan luka. Berkali-kali aku bersabar dan berbaik hati pada mereka yang katanya sahabat. Tapi, nyatanya mereka hilang begitu saja tanpa jejak. Asyik dengan dunia baru dan bersikap (mungkin) seolah-olah aku tak pernah hadir. Sekalipun dulu kami begitu dekat.
Begitu selalu berulang.
Sayangnya, tidak untuk saat ini. Lebih tepatnya: TIDAK SEPENUHNYA. Sekalipun masih tersisa ketidakpercayaan tersebut, tapi kenyataan telah menghadirkan kisah indah dibalik sebuah jalinan persahabatan padaku. Dan sampai saat ini, senyum telah berkali-kali terpancar karenanya. Karena kehadiran malaikat-malaikat yang entah dari mana asalnya
Dulu aku menangis. Ketika aku merangkaikan puisi kesepianku itu.
Namun, kini aku tersenyum. Saat kunang-kunang malamku bergantian hadir dan memberi cahaya pada gelap ha(r/t)iku.
Aku yang dulu kece...pian :')
Januari 27, 2013
Terima Kasih :)
18!
Terima kasih:
Sepagi tadi, tiga perempuan menghampiri kamarku dengan kejutan yang tak pernah kusangka. Terima kasih; Nurul Sandriyani, Ina Nur Janah, Dania Clarisa.
Berlanjut kepada sebuah janji, berkaitan dengan tugas dan kewajiban--yang tiba-tiba digagalkan.
Alhasil, disinilah kami. Enam orang yang duduk manis pada sebuah sudut yang menghadap langsung ke luar.
Semula--ketika aku datang--baru ada dua diantara mereka. Tiga yang lain terlambat begitu lama. Ternyata, ketika mereka datang, dibawakannya kue dan hadiah :)
Terselip pula surprise yang lain. Yaitu, dua donat dengan lilin super besar :D
Terima kasih:
- Arnindia
- Donna Pratiwi
- Fadlillah Octa Noviari
- Naila Syahidah
- Zaenab Lubis
juga.... Astri Ratnasari yang tidak bisa hadir :')
Desember 17, 2012
shbt(?)
Sahabat.
Apa definisi sahabat menurutmu?
Mereka yang ada disaat kau butuh sandaran-kah?
Mereka yang memahami setiap keluh kesahmu-kah?
Ataukah mereka yang menyelipkan namamu di
setiap do’anya?
Yang mana?
Beri aku satu alasan mengapa ia patut
kusandangkan kata ‘sahabat’!!
dua tiga - empat puluh
5cm.
Seperti itulah kedekatan kita saat ini. Kebersamaan yang
baru berumur empat bulan. Namun, telah mampu melukiskan banyak hal. Tangis,
tawa, gundah, gelisah, bahagia. Luruh sudah semua angan yang semu ketika
bersama kalian.
Aku beruntung tumbuh di sudut bumi ini, dan bertemu
kalian. Sosok malaikat pembawa ‘kegilaan’ dalam hidupku.
Ah! Aku tak perlu berlebihan. Aku takut nantinya akan
dikecewakan. Tetapi kurasa kalian pantas mendapatkannya......ruangan terindah
dalam keping hati ini.
Teruntuk sahabat-sahabatku. SBT©
Kamis, 13 Desember 2012
23:40 WIB
aku pernah terluka
Aku
pernah terluka, oleh kamu yang kuanggap saudara.
Kamu
yang kuanggap sahabat.
Sahabat?
Oh! Apakah ini yang namanya sahabat?
Entahlah..
Entah
sudah berapa lama aku membiarkan hati ini menganggapmu sahabat, dan entah
berapa sering hati ini dikecewakan pula.
Padahal,
dirimu dan hatimu disana. Belum tentu menganggapku sahabatmu. Bahkan, belum
tentu pula kau mengingatku, ya?
Terkadang
logika bisa mati karena hati.
Hati
yang (mungkin) telah salah menganggapmu sahabat.
Tapi,
sejujurnya, aku masih ingin menganggapmu sahabat.
Sahabat
yang meluangkan waktunya untuk mendengar gundah dan bahagiaku.
Bukan
sahabat yang maunya hanya didengarkan saja...
Aku
lelah.
Aku
sudah lelah terus menerus iri padamu.
Sebab
kau dan cerita-cerita romantismu.
Tidak
pernahkah kau memahami sedikit perih hatiku ini??
Bukan
karena romantisme-mu itu. Melainkan sikapmu menempatkanku.
Apa
aku (masih) sahabatmu?
Sepertinya
bukan.
Bukan.
Mungkin.
09:15
WIB
Kamis, 13 Desember 2012katanya...sahabat?
Ternyata benar...
Tak sepenuhnya kita
selalu sependapat, aku akui.
Tak selamanya kita
selalu bersama, aku sadari.
Kadangkala aku harus
berjalan menyusuri medanku sendiri
Bertanggung jawab
terhadap rambu-rambu yang kupilih sendiri.
Kalian pula begitu,
kelak.
Tapi tidakkah kalian sadari
saat ini kita masih ‘bersama’.
Raga kita masih
dipersatukan. Namun dimana hati kalian?
Bisa-bisanya kalian
mengabaikanku. Mungkin sejenak sengaja mengabaikanku.
Membiarkan aku
terkurung dalam ketidaktahuan ini...
Aku kecewa, aku sedih,
aku tersakiti.
Namun entah aku kecewa
terhadap siapa, sedih karena apa, tersakiti oleh siapa. Entah...
Padahal kita
katanya.................’sahabat’
Dari sebuah raga kekecewaan.
Minggu, 14 Oktober 2012
12:51 WIB
September 09, 2012
Awalnya kukira..
Awalnya kukira..
OPK hanyalah sebuah rangkaian kecil kegiatan ospek fakultas dalam jangka waktu
tertentu dan langsung habis, tiada berbekas. Kemudian sibuk dengan kuliah dan
kesibukan masing-masing, tanpa menyisakan perasaan lain: kekerabatan. Ya,
masing-masing. Nyatanya...
Dipertemukan dengan
makhluk-makhluk asing dengan berbagai kepribadian dalam kelompok 25; SUBROTO. Ah,
mungkin mereka beranggapan sama denganku. Kelompok ini hanya sementara, kemudian
kami menjalani hari-hari dan kesibukan kuliah bersama teman yang sudah dikenal
lama saja. Oke, mari menjalani ‘penyiksaan’ ini seadanya. Segera berakhir. Dan...
sudah!
Hari-hari pertama;
hanya perkenalan dan fokus pada tugas. Hanya itu.
Selebihnya..?
Detik demi detik
habis begitu saja. Terjalin dan terangkum dalam memori kesibukan bersama SBT 25;
makhluk asing nan abstrak yang entah.. tak pernah terbayangkan sebelumnya
bertemu dengan mereka. Ditambah mentor-mentor kece yang sebelumnya hanya satu, yang membuatku sedikit tidak
nyaman dengan pertanyaan “Kenapa harus cowok?” Seperti hanya mendapatkan
sebelah orang tua. Hanya papa, mamanya pergi. Haha
Ternyata benar kata
ka Rafi.
Setiap hari, mau
tidak mau pasti bertemu dan bersama SBT larut dalam kesibukan. Pertemuan yang
intens ternyata sedikit demi sedikit meruntuhkan pertahanan kami. Pertahanan sikap.
Satu demi satu mulai terlihat sifat dan sikap aslinya.
Putri
permata sari. Satu-satunya yang kuingat namanya karena saat perkenalan dia
tepat disebelah kiri. Dan yang pertama kali aku tahu nomor handphonenya.
Hutomo
Danu. Ketua kelompok yang ketika berbicara akan selalu menampakkan aura jawanya, padahal berasal dari SMA di Depok. Danu adalah satu-satunya yang selalu mencari sensasi. Tak pelak julukan "Sensasional BangeT" kemi lekatkan pada dirinya.
Josephine Pinta Ruth Nevelyn Silitonga. Gadis cantik proporsional yang sangat aneh. Sekilas mungkin kalian akan berpendapat bahwa ia adalah anak yang manis dan tenang. Nyatanya, tidak! Cuma dia yang tiba-tiba histeris sendiri disaat kita sibuk atau bahkan diam. Cuma dia yang monolog sambil jalan dalam keadaan sadar, padahal yang lain sedang berbincang dengan ka faby menuju Departemen Akuntansi. Dan, cuma dia yang feelingnya sempurna tentang asisten dosen keren yang saat itu sedang berjalan di batang tegah gedung A. Entah asal bicara, entah sungguhan, Nev berharap dia menjadi salah satu asdos SBT 25. Dan..... yak! Benar. Kakak jernih itu menjadi asdos matekbis kelas kami. Bisa dibayangkan, Nev akan lebih sering mendadak kejang memandangi asdos kami itu. Bahkan, masih teringat kalimat Nev yang membuat tawa kami pecah ketika melihat tingkahnya memandangi tiap langkah asdos matekbis, "Ya kalau dia lihat biar saja, kalau dia nggak liat ya nikmati saja.." Aduh, Nev...
Josephine Pinta Ruth Nevelyn Silitonga. Gadis cantik proporsional yang sangat aneh. Sekilas mungkin kalian akan berpendapat bahwa ia adalah anak yang manis dan tenang. Nyatanya, tidak! Cuma dia yang tiba-tiba histeris sendiri disaat kita sibuk atau bahkan diam. Cuma dia yang monolog sambil jalan dalam keadaan sadar, padahal yang lain sedang berbincang dengan ka faby menuju Departemen Akuntansi. Dan, cuma dia yang feelingnya sempurna tentang asisten dosen keren yang saat itu sedang berjalan di batang tegah gedung A. Entah asal bicara, entah sungguhan, Nev berharap dia menjadi salah satu asdos SBT 25. Dan..... yak! Benar. Kakak jernih itu menjadi asdos matekbis kelas kami. Bisa dibayangkan, Nev akan lebih sering mendadak kejang memandangi asdos kami itu. Bahkan, masih teringat kalimat Nev yang membuat tawa kami pecah ketika melihat tingkahnya memandangi tiap langkah asdos matekbis, "Ya kalau dia lihat biar saja, kalau dia nggak liat ya nikmati saja.." Aduh, Nev...
Ani
Utami. Cowok tapi cewek. Komdis OPK FEUI 2013.
Utari
Indriani. Sabar-Berjilbab-TERBULLY. Sekian.
Selvi
Nur Yuliani. Tinggi dan kalem. Sepertinya gadis ini tidak terlalu banyak tingkah.
Nabilah
Aqila. Cewek semarang, tapi bukan asli semarang. Anehnya, dia sangat fasih berbahasa jawa dengan dialek-dialek khasnya. Bikin iri setengah mati kalau dia berbahasa jawa L
Fatimah
Shafiyyah. Mahasiswi manajemen yang juga calon wanita sholehah, begitu kalimat canda kami.
Rangga
Yodi. Apa ya? gebetannya dio, mungkin :p
Dio
Alif P. Jangan bingung dek!! Hahaha. Kasihan Dio dibilang bingung terus. Sebenernya
sih ekspresi wajahnya biasa aja, nggak lagi bingung, tapi SBT menyimpulkan Dio
adalah ter-bingung 2012.
Mamduch.
Paling alim di SBT. Jadi jengkel kalau udah repot-repot nyapa dia, tapi cuma
dibalas senyum yang sangatsangat simpel. Tanpa basa-basi lain._.
Atika
Rachmawati. Cewek KKI yang kecengannya bikin mupeng. Haha *abaikan
Pur.
(lupa nama aslinya nih-_-) Cowok KKI yang berusaha kita jodohkan sama atika. Tapi
sepertinya tak mungkin.
Auryn.
Aduuuh gadis ini imut banget. Kesannya apa yah?
Dimas.
Cuma mau ngajak berdoa sama-sama buat kesembuhan Dimas, supaya dia bisa turut
merasakan betapa ‘gila’nya SBT.
Yudhistira.
Satu-satunya cowok SBT yang penampilannya paling lumayan dari yang lain :p tapi
ternyataaaaaa... yudhis itu abstrak banget. Pertahanan jaim nya sudah sangat
runtuh kalau bareng SBT.
Ah! Makhluk-makhluk
abstrak ini..
Hari ini, klimaks
komdis di pasca OPK. Bener-bener terharu. Terlebih waktu Yudhis bilang dia
nggak akan pindah dan seakan menunda Jermannya. Hmpfh.. tergetar loh. Bersyukur
banget dipertemukan dengan SBT 25. Sampai akhirnya air mata luruh tak terbendung
lagi.
Ditambah waktu
lihat dua orang mentor kece yang sudah sangat seperti pasangan papa-mama bagi
SBT. Oase ditengah gurun pasir; komdis. Dua orang yang harus selalu siaga
menanggapi ketidaknormalan SBT. Daaaan mereka adalaaah.. Abdillah Rafi &
Amalia Malfira. Maaf ya kak, kalian kita ceburin ke kolam makara :P
Kalau komdis ada
dihati FEUI 2012. Kalian ada di hati kita, SBT 25.
SBT 25..
SOLID. BERKARYA.
TANGGUH. Yiiihaaa~
&langi-langit
bagi hamparan angin&
Minggu, 09
September 2012
22.10 WIB
Februari 29, 2012
sahabat baruku sudah ada yang memiliki
Baru dua hari yang
lalu aku mendengar setia cerita galaumu, memberikan nasehat terbaik yang
melintas. Menangkap sinar matamu yang penuh harap bahwa aku akan memberi secercah
cahaya atas gundah yang kau derita. Tapi, tadi pagi-pagi sekali, aku telah
mendapati kabar kau telah kembali. Ya.. kembali pada kasihmu yang lalu. Rupanya
gundahmu telah berakhir. Apakah kalimatku menyiratkan kesimpulan yang mampu kau
baca? Mungkin.
Aku turut bahagia,
sahabat. Tapi... Entah mengapa aku merasa kehilangan. Yang ada dalam pikiranku
hanya satu kesimpulan bahwa kau takkan pernah lagi membutuhkanku untuk sekedar
menggali tentang sedikit perasaan dari sudut pandang perempuan. Mungkin kau tak
lagi mengenaliku sebagai satu titik yang kau butuhkan sebagai pelampiasan
ceritamu. Bahkan, mungkin aku harus membangun tembok kokoh untuk membatasi
kita. Dan aku harus terbebani rasa menjaga perasaan kekasihmu.
Baru satu hari kau
kembali padanya, aku sudah kehilangan banyak waktu untuk menggali perasaan
seorang laki-laki darimu, sahabat. Padahal, kedekatan kitapun baru saja
terjalin. Aku nyaman berkeluh kesah tentang kasihku disisimu. Kaupun begitu,
bukan?
Aku kehilanganmu,
sahabat.
Perlu kau tau, aku
butuh lebih banyak waktu untuk meretas cerita gundah dan pendapatmu!
10:44 WIB
Rabu, 29 Februari
2012
∞langit-langit bagi hamparan angin∞
Februari 04, 2012
surat untuk sahabat
Untuk sahabat yang melupakanku..
Sahabat, ingatkah kau ketika di hari bahagiamu aku hadir ditengah suasana asing yang baru kukenal? Dan apakah kau tahu yang sungguhnya kurasakan?
Sahabat, ingatkah kau ketika di hari bahagiamu aku hadir ditengah suasana asing yang baru kukenal? Dan apakah kau tahu yang sungguhnya kurasakan?
Hatiku bergejolak. Kau tahu kenapa? Karena
aku merasa sangat tidak nyaman berada pada lingkaran samar berwarna abu-abu
yang menamakan dirinya sebagai ‘sahabat’. Ya.. ‘sahabat’ barumu, bukan
sahabatku. Bahkan, bukan pula teman yang mengenalku. Mereka hanya sekedar ‘tahu’
aku.
Awalnya, nurani ini ingin menolak
ajakan mereka. Namun, tak sanggup lidahku berkata ‘tidak’. Karena kau
sahabatku. Seorang yang sebagian hatinya telah disisipkan namaku. Meskipun hanya
sebagai sebatas tempat sampah ketika duka mendera. Tapi senyummu telah tergores
indah dalam memoriku selama dua tahun kebersamaan raga kita. Tidak mudah
untukku menghapusnya begitu saja, sebab yang telah tergores akan selamanya
membekas. Itulah yang kuharapkan dari kebersamaan kita dahulu, meskipun telah
tiga tahun raga kita tak lagi selalu berdampingan. Tapi aku selalu merasakan
hadirmu dalam jiwa ini. Entahlah dengan dirimu…
Sahabat,
Sekalipun raga dan batinku hadir
memeluk hari bahagiamu, agaknya jiwamu tak merengkuhnya. Tanpa kau sadari, kau
sudah mengecewakanku dengan sikap acuhmu yang kau balut dengan sutera. Tapi perlu
kau tahu, seindah dan selembut apapun kau berusaha menutupinya, pikiranku
selalu mampu menembus dan membaca yang tak tersurat.
Hari itu kau begitu asik dengan ‘sahabat-sahabatmu’.
Hingga tak ada kisah baru yang biasa kau tumpahkan setiap hadirku singgah. Bahkan,
obrolan tak penting pun tak juga menghampiriku dari bibirmu yang mungil itu.
Sungguh hatiku sepi. Padahal itu
hari bahagiamu.
Harusnya kau ingat; siapa yang hadir
waktu kau kabari kau sedang sedih? Siapa yang dengar ceritamu ketika ‘sahabat’
barumu menusuk dari belakang? Siapa yang berikan semangat ketika pacar yang
sekaligus sahabatmu itu mendua? Siapa yang relakan bahunya tuk jadi sandaran
ketika kau menangis? Siapa yang selalu tahu keadaanmu sekalipun tak sedang
bersama? Siapa yang selalu rela mengorbankan waktunya hanya untuk mendengar
lukamu? Dan... siapa yang selalu mengingatmu?
Itu aku!
Bahkan, ketika kau selalu lupa kapan
aku ulang tahun, aku selalu ingat dan memberimu hadiah terindah buatanku
sendiri.
Sadarkah kau betapa pilunya aku
mengingat semua kenangan manis kita disaat kau tak pernah menyadarinya?!
Mungkin, sekarang raga kita tak
pernah lagi bersama. Hanya sesekali saja. Dan kaupun telah menemukan banyak
sahabatmu yang baru. Akupun tak berhak egois mengharap kau selalu menumpahkan
kisahmu padaku. Tapi aku selalu bahagia saat kau bersedia membagi kisahmu
dengan dunia barumu padaku. Hatiku terbuka lebar menerima tumpah ruah gejolak
suka-dukamu.
Aku berharap, meski kau tak pernah
lagi memintaku tiba-tiba datang kerumahmu hanya untuk mendengar tangismu,
jiwamu masih mengingatku. Menempatkannya pada posisi yang sama ketika kita
masih bersama. Sebab senyummu masih tergores indah dalam relung iniJ
#Langit-langit bagi hamparan angin#
Januari 30, 2012
17=padam!
Entah telah berapa
kali aku termenung meratapi angka 17-ku yang padam. Ya... Padam! Tak sedikitpun
cahaya singgah untuk menerangi. Mungkin aku terlalu banyak berharap. Sehingga sekejap
mata semuanya musnah. Tiada berbekas.
Tak ada satupun
yang kuterima di angka 17 ini._. meskipun aku memilikinya, mereka. Sekalipun pada
hari mereka aku meluruhkan sedikit waktuku. Namun, kini nyatanya? Tak secuilpun
balasan kuterima.
Ah! Mungkin aku
terlalu jauh bermimpi mendapat ucapan darinya. Kue ulang tahun dengan lilin
manis angka usiaku. Surprise pagi yang mengganggu lelapku. Atau kado sederhana
pilihan mereka. Semuanya tak ada. Tak satupun kudapat.
Tuhan... engkau
Maha Adil. Tapi mengapa kau kirim sepi di hari ku yang banyak orang nanti,
terlebih juga aku. Dimana perhatian lebih sahabat-sahabatku kau simpan? Mereka tidak
ada di hariku yang genap tujuh belas tahun. Mereka tidak muncul member moment
indah seperti yang aku lakukan untuknya. Mereka hanya mengintip sebatas ucpan
selamat ‘formalitas’. Inikah nasibku ya Tuhan...?!
Sungguh aku
bersedih mengingat angka 17 ku. Bahkan, tak satu bendapun aku terima sebagai
hadiah. Dari keluargaku sekalipun. Benar-benar tak satu hadiahpun kuterima. Menyedihkan
ya?!! Kasihan! Dan... dia yang disisiku pun begitu. Tak sebutir pasirpun
dipersembahkan. Entahlah... aku sampai bingung apa yang harus kukenang dari
ulang tahun ke 17-ku, yang oleh banyak orang biasanya dinanti-nantikan.
Januari 25, 2012
entah... (part 1)
Aku bagai titik putih
yang dikelilingi jutaan butir titik hitam disekitarku. Tumpah ruah canda tawa
diantara mereka. Euforia bahagia turut pula menyapa dan mengajakku turut
serta. Ragaku mengangguk. Namun, hanya mengangguk. Tidak pada jiwaku. Nurani seakan
terombang-ambing tidak berarah. Entah apa yang sedang singgah dalam pikiranku. Aku
berusaha menggali... mencaro... hingga kutemukan sepetik arah yang ternyata
menghantui satu bait batin ini. Aku gali kembali... aku mencari kembali... Kutemukan
lagi sehelai cahaya luka yang selama ini menggoreskan bidang halus hati ini.
Apa kabar kau yang senang menggangguku?
Apa kabar
kamu? Masihkah kau mengingatku? Masihkah kau ingat kalimat yang membuatku pada
tidak percaya paling puncak? Kenapa kau tiba-tiba menghilang? Kenapa kau
berhenti mengganggu hari-hariku?
Tak terasa...
hari ini aku merasa merindukan semua pesan singkat perhatianmu. Meskipun aku
selalu menganggapnya sebagai gangguan. Namun, yang aku tak pernah percaya, kala
itu kau justru tetap selalu memenuhi inbox-ku. Padahal kaupun tahu bahwa aku
telah ada yang memiliki. Anehnya kau tak pernah jengah. Justru aku lah yang
berusaha membatasi diri darimu. Maaf. Mungkin sampai saat ini, hatiku masih
terperangkap pada yang lain. Bukan kamu. Belum mampu berpaling.
Tak terasa
pula... hari ini tepat satu tahun setelah kau mengutarakan kalimat itu. Kalimat
yang sebelumnya pun pernah kau ucapkan. Dengan tanggapan yang sama. Keadaan yang
sama pula, aku bersama yang lain.
Aku masih
mengingatnya, kejujuran mengatakan ketertarikanmu padaku. Tapi ku menanggapinya
biasa, bahkan sangat biasa. Aku menganggapmu masih sebatas temanku dan teman
pacarku. Aku pikir kamu tahu itu, juga tentang persinggahan hatiku.
Namun, entah... Mengapa saat
ini aku justru mengharap pesanmu kembali meramaikan ponselku. Sekalipun tak
pernah aku berniat membalasnya sungguh-sungguh. Aku merindu. Merindu keberanianmu
mengganggu datarnya hari-hariku.
♔langit-langit
bagi hamparan angin ♔
Sabtu,
21 Januari 2012
empat huruf satu nama yang tak pernah terbayangkan
kisah
kita tak pernah terjalin sempurna, kawan
selalu
saja ada pertentangan batin setiap ku bersikap padamu
entahlah...
refleks
saja itu terjadi
sungguhnyapun
aku tak pernah ingin memerlakukanmu seperti itu
namun
jujurnya batinku yang menentukan apa yang ragaku hendak sempurnakan
namun
satu yang selalu kubanggakan,
meski
kisah kita tak pernah larut tak bersisa, kita masih mampu berdampingan
saling
bercerita apa yang dirasa,
walaupun
perang batin antara kita belum juga reda :’)
dan
walau kau masih (selalu) memperlihatkannya jelas
aku
selalu ingin mengecuhkanmu dari perjalanan kisah hidupku
tapi...
aku
pernah mendengar kalimat;
“yang
terlihat paling membencimu ialah yang sungguh-sungguh memperdulikanmu”
dan...
yang aku paling takutkan ialah kau
satu
nama yang tak pernah aku hiraukan
satu
nama yang kuanggap tidak penting
satu
nama yang tidak aku sukai
namun,
satu
nama yang memperdulikanku kelak
satu
nama yang melukiskan seribu warna kenangan dalam memori
satu
nama yang tulus bertanya tentang keadaanku
aku
takut...
ya...
takut...
amat
sangat takut...
♔langit-langit bagi hamparan angin♔
sabtu,
17 desember 2011
22.33
wib
Januari 02, 2012
bukan aku yang bersama sahabatku di hari bahagianya ._.
untuk sahabat yang melupakanku,
hari itu hari bahagia sahabatku, namun tiba-tiba aku terkaku. tak sedikitpun keberanian tuk turut dalam cerianya. keraguan.
aku mengenal mereka, yang kala itu menorehkan hari bahagia dan disisi sahabatku. mereka yang menamakan diri 'sahabat' bagi sahabatku.
lalu dimanakah aku?
entah terbuang, entah terinjak.
nyatanya aku selalu ada. namun sedikitpun tak dihiraukan. tapi aku sahabatmu... lihat aku!!!
sadari aku yang selalu ada untukmu, meski bukan aku yang ada di hari bahagiamu.
♔langit-langit bagi hamparan angin♔
Jum'at, 16 Desember 2011
23.08 WIB
hari itu hari bahagia sahabatku, namun tiba-tiba aku terkaku. tak sedikitpun keberanian tuk turut dalam cerianya. keraguan.
aku mengenal mereka, yang kala itu menorehkan hari bahagia dan disisi sahabatku. mereka yang menamakan diri 'sahabat' bagi sahabatku.
lalu dimanakah aku?
entah terbuang, entah terinjak.
nyatanya aku selalu ada. namun sedikitpun tak dihiraukan. tapi aku sahabatmu... lihat aku!!!
sadari aku yang selalu ada untukmu, meski bukan aku yang ada di hari bahagiamu.
♔langit-langit bagi hamparan angin♔
Jum'at, 16 Desember 2011
23.08 WIB
Juni 04, 2011
Dia menyayangimu tapi bukan kekasihmu,
Dia perhatian kepadamu tapi bukan keluargamu,
Dia siap berbagi rasa sakit tapi dia tidak
berhubungan darah denganmu,
Dia adalah….. SAHABATMU…
Sahabat sejati..
Marah seperti ayah,
Peduli seperti ibu,
Mengganggu seperti kakak,
Mengesalkan seperti adik,
Dan terakhir~ menyayangimu lebih dari kekasih.
Langganan:
Postingan (Atom)








