...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Tampilkan postingan dengan label sendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sendiri. Tampilkan semua postingan

Mei 31, 2014

Salahkah?

Ada yang pernah tahu definisi "tulus" yang sebenarnya?
Saya rasa, tidak.
Tidak satupun pernah mengerti makna "tulus" yang sesungguhnya, sampai ia merasakannya sendiri: sebuah ketulusan rasa yang tak pernah mampu terdefinisikan secara sempurna.
Kemudian, mengapa ada manusia-manusia yang merasa bangga membahas hal tersebut? Bukankah dia tak pernah tahu bagaimana sebuah ketulusan menjalari nadi individu lain? Pun dirinya sendiri. Ya, ketulusan diri sendiri. Ada yang pernah mengerti? Saya pikir hanya sedikit. Kenapa? Karena tulus adalah hal yang paling sulit untuk didefinisikan di dunia ini. Sekali lagi saya ulang, sulit.
Maka, salahkah jika saya sedikit benci pada bahasan kata "tulus", apalagi jika sampai muncul judgement atas kata tersebut. Salahkah?

Mei 09, 2014

Manusia Bodoh

Ada lagu yang berjudul: "Manusia Bodoh".
Ada pula kisah yang bertajuk manusia bodoh.
Ada saja jika diadakan.

Banyak kecewa yang kemudian hilang, karena sayang.
Banyak marah yang kemudian padam, bukan karena muram.

April 01, 2014

Tentang Hati

Bersandar ku pada hening suasana yang selalu kujumpai. Tembok kokoh menjadi saksi bagaimana manusia seorang diri mampu menghadapi kerasnya hati yang selalu merasa dilukai. Semuanya tidak berasal dari mana-mana, tapi dari dalam diri. Ya. Akuilah bahwa memahami hati tidak selamanya mudah, juga tak selamanya sulit. Entahlah apa namanya.

Skywalk. 01 April 2014.
4:38 pm

Sebuah Cerita

Tentang ketidaksanggupan sebuah pagi.
Tentang kepedihan yang mengiris tipis-tipis.
Tentang ingatan akan masa yang.... ah, sudahlah. 

Maret 12, 2014

Surat luka sudut tak berbahasa

Aku masih bisa berlagak sok kuat dan tegar di depan apapun, siapapun. Tapi pernahkah kalian telisik lebih dalam bahwa aku memendam luka? Luka yang hanya aku yang bisa merasakannya. Merasakan perihnya. Merasakan pedihnya. Luka yang muncul ketika aku tersakiti, sementara tampilanku masih menunjukkan senyum. Sungguhnya itulah luka yang teramat menyakitkan.

Aku sadar bahwa aku hidup bukan sendirian di muka bumi ini, tapi mengapa semua yang kulakukan seolah selalu salah hingga membuatku merasa sepi. Bahkan yang paling dekat denganku sekalipun. Ya, mereka juga. Aku tahu mereka menyayangiku, dengan cara mereka sendiri tentunya. Tapi apakah pernah mereka ketahui bahwa aku juga ingin disayangi melalui cara yang aku mengerti?

Aku ingin bertanya pada kalian. Apakah 'nasihat' itu selalu identik dengan unsur kebaikan?
Tolong jawab aku...
Mungkin akan banyak yang menjawab 'ya'.
Kemudian aku ingin bertanya lagi, apakah termasuk pada 'nasihat yang dibalut intonasi tinggi'?
Iya kah?
Jelaskan padaku mengapa.

Aku cukup sadar bahwa tiap orang memiliki caranya masing-masing. Entah dalam menunjukkan rasa sayangnya, entah dalam menunjukkan kepeduliannya. Mungkin termasuk pula dalam menunjukkan kesal dan benci nya.

Mungkin yang mereka anggap wujud sayang itu, ternyata dianggap lain oleh yang disayang. Mungkin salah persepsi dan pemahaman. Mungkin. Bahkan, sangat mungkin. Bisa jadi karena salah cara penyampaian. Termasuk yang sering ada dalam kehidupan. Nasihat, sungguhnya baik. Sayangnya, tidak, menurutku, ketika ia disandingkan dengan intonasi tinggi yang cenderung menyudutkan. Sebesar apapun power penyampainya. Bahkan bisa dibilang justru akan memunculkan benci. A'udzubillahi min dzalik.



Sesepi ini. Aku bisa menangis hanya karena nasihat. Hm... Mungkin lebih tepatnya bukan hanya nasihat, tapi penyampaian nasihat. Ya, cengeng memang. Tapi kalian tidak akan pernah mengerti betapa kaget dan shock jantung ini dihujam bentakkan yang katanya nasihat. Lemas organ ini. Mau copot begitu saja. Sampai sampai tiada upaya yang mampu dilakukan selain meluruhkan air hangat dari sudut berkaca mata ini.

Terima kasih telah mengingatkan kembali padaku caranya menangis. Semoga setelah ini aku kembali lupa, kembali acuh, kembali arogan.
Salam, 
Dua sudut tak bersalah yang akhirnya hujan.

Maret 07, 2014

Cit, aku sedih kalau kamu berubah nggak jadi lebih baik karena aku. Kadang aku berpikir untuk lebih baik kamu nggak kenal aku daripada dengan kenal aku justru nggak bikin kamu jadi lebih baik, bahkan banyak anggapan (pasti) justru kamu berubah nggak jadi diri kamu sendiri seperti yang dulu. Aku sedih, Cit :"(

Maret 05, 2014

Yang kurasakan-hendak kukatakan

Pagi beranjak pergi
Siang berniat hilang

Menangis lagi. Bukan, bukan karena tidak terima terhadap apa yang dikatakan tentangku. Justru karena aku sangat menerima. Bahkan, lebih dari itu. Memunculkan banyak ketakutanku, seperti apa yang diutarakannya. Aku hanya hidup dan menjalani kehidupan ini mengalir begitu saja selayaknya unsur kehidupan yang menyapaku. Aku tak pernah berekspektasi apa-apa. Sungguh. Maka hadirnya kisah ini hanya mampu aku jalankan sesuai apa yang seharusnya aku laksanakan. Kemudian, terhadap cerita belakangan yang terlanjur terjadi? Aku memilih untuk berdiri, tak memilih untuk dipilih. Namun semuanya berjalan begitu saja. Aku yakin, akan apa yang terjadi belakangan ini akan ada hikmahnya. Pasti. Maka aku tak pernah meragukan-menyedihkan sebagian kisah hidup ini. Dan aku tak pernah menyalahkan apa yang terlanjur terjadi hingga saat ini. Kembali pada ketakutanku. Ketakutan seperti apa? Sungguhnya aku ragu. Ya, kukatakan ragu. Sudah kubilang bahwa aku menjalani hidup ini mengalir selayaknya hidup yang menyodorkan kisah kearahku. (Meski sayangnya, orang lain selalu salah mengartikannya, hingga berujung pada judge tertentu terhadapku). Maka kuterima, kujalani sepenuh hati. Sesimple itu, bukan? Sayangnya muncul kehadiran dan kisah yang (aku yakini) memang digariskan untuk hadir sebagai pembelajaran.
Kalau aku harus jabarkan ketakutan seperti apa, maka biarkan aku tarik napas sebentar...
...satu menit...
...dua menit...
...tiga menit...
...tiga puluh menit...
Maaf, ternyata aku belum mampu menjabarkannya saat ini juga. Kelak, ketika aku siap, maka akan kutorehkan dalam tinta. Pasti. Itu janjiku.

Maka sebelum menutup ini, kuucap dan kusampaikan salam kasih teruntuk kalian semua yang masih menganggapku ada melalui kritik dan pendapat versi kalian masing-masing. Ketakutanku tidak membutakan diriku terhadapnya. Yakin. Terima kasih.

Aku yang lemah tapi tegar :)
N.

Terima kasih, ya :)

Untuk kamu, yang dalam pandanganmu berkata bahwa akulah penyebab perubahan yang terjadi ini. Yang dalam pikiranmu terpatri bahwa akulah penyebab memburuknya perasaan mu karena perlakuan yang lainnya. Yang dalam otakmu tersusun tentara kebencian terhadapku. Oke, mungkin yang terakhir berlebihan. Tapi, maaf, setidaknya itu yang dapat diterjemahkan dari puluhan-bahkan-ratusan gerbong kata yang kau tuliskan. Terima kasih, ya. Sungguh, aku berterima kasih sebab kau menuliskannya. Hingga terbaca semua. Jelas semua. Terima kasih.
Terima kasih membuat aku semakin bingung harus mengekspresikan respon seperti apa. Tapi tenang saja, tak ada lagi kebencian terhadapmu. Aku semakin belajar untuk mengerti, bahwa memang kaulah yang pantas dimengerti. Maka aku tak lagi menuntut untuk dimengerti. Cukup aku yang berusaha mengerti melalui caraku sendiri. Mungkin kau yang membaca ini akan berpikiran bahwa 'terima kasih' ku adalah sebatas kalimat saja. Terserah. Aku tak peduli apapun pendapat itu. Yang jelas, senyum tulus di wajah dan hatiku ini membuktikannya, setidaknya sebagai bukti pada diriku sendiri. Aku sudah terbiasa dinilai buruk dimata orang lain. Sebab ia tak tahu aku. Tidak. Yang tahu diriku secara baik hanyalah diriku sendiri. Orang lain menilaiku sebatas apa yang mereka tangkap melalui sudut pandangnya sendiri, atau bahkan juga beberapa sudut pandang terdekatnya.
Kamu, terima kasih, ya. Semoga kita sama-sama belajar menjadi lebih baik: kamu&aku belajar menilai satu sama lain secara lebih objektif-bukan hanya dari sudut pandang yang diterima sendiri saja. Aamiin.
Senyum tulusku ini kupersembahkan padamu, yang katanya merasa tersakiti sebab kehadiranku :")

November 21, 2013

Saat Ku Diam.

Pernahkah suatu kali kau merasakan ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar?
Tak tahu datangnya dari mana. Dia muncul begitu saja dan terasa pergerakannya di dada, kemudian naik, menciptakan getar tertentu yang (sebetulnya) sakit, tapi kutahan. Itulah mengapa aku bisa tiba-tiba diam. Menarik napas panjang sesekali. Tapi sayang tidak sering membantu. Justru membuat dada semakin sesak. Rasanya semakin sakit. Iri. Mungkin. Ya.
pict. source: agustingoeslowku.blogspot.com

November 16, 2013

Mungkin.

Mungkin ku sudah mampu tersenyum. Mungkin ku sudah mampu memamerkan barisan cahaya yang tercipta dari raut wajah. Sayangnya aku masih belum mampu menerjemahkan apa yang ada didalamnya. Sebab tiada lagi hak untuk 'merasa perlu'. Sebab tiada otoritas untuk 'mengetahui' bahkan 'merasakan' banyak hal serupa sekalipun tak sama, karena memang takkan pernah bisa disamakan. Jelas berbeda sebab tiada apa-apanya.
Itulah sebab tiadanya kejujuran yang gamblang. Sebab tiadanya 'ingin' yang terungkap jelas. Dan hanya kode lah satu-satunya perantara. Meskipun tak bisa ku menuntut ada yang memahami anehnya.

16 November 2013
09:11 WIB

April 27, 2013

Otot Senyum

Otot senyum, bisakah kau behenti bekerja barang sejenak?
Aku sudah lelah tersenyum sepanjang hari ini.


Nyaman



Ternyata, beginilah perasaan nyaman itu. Berasal dari sumber yang kadang tak pasti, namun pengaruhnya terasa amat bermakna dan mungkin tak terlupakan.

Hei…
Lihat saya disini?
Lihat perasaan nyaman saya?
Andai nyaman ini bisa dirasakan sama-sama.
Andai, loh, ya..
Ya, andai.
Pasti semuanya akan lebih bermakna dan berharga. Apalagi ketika ditambah dengan kesadaran sosial kita yang saling melengkapi.

Aku…
Aku…
Aku pasti berbahagia, ketika menyadari pujangga sosial dapat melebur menciptakan satu makna. Makna yang takkan lekang oleh masa. Seperti kagum ini. Kagum yang tak kusadari darimana asalnya, namun yang pasti sudah terpaut hanya pada hatimu. Terima kasih.

Maret 26, 2013

Bisik Rindu Sudut Keyakinan

Merindumu bukan perkara mudah.
Sebab...
Tak sedikitpun kisah yang terlanjur terjadi dapat dihapus.
Hanya seluruh rasa yang mampu menenggelamkannya.
Namun, apa daya?

Perlahan.. namun (mungkin) pasti.
Ya.
Kelak.
Suatu saat.



Salam untukmu, langit yang selalu dirindu bintangnya :")

Maret 15, 2013

"Lingkaran Kecil"-ku

Terlambat.
Sudah dua jam berjalan ketika aku baru saja datang. Mungkin ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Setidaknya, seluruh niat sudah terkumpul sempurna untuk hadir, sekalipun kesempatan tak sepenuhnya mendukung. 

Acara berjalan begitu mengalir. Meskipun aku merasa belum sepenuhnya paham. Tapi... aku mau belajar! Sungguh! Biarlah niat ini tersimpan dan mengekspresikan diri dengan caranya sendiri. Nanti. 

Kami tertawa dan sesekali bercanda ringan ditengah topik yang dibahas dalam forum. Semula aku merasa nyaman. Sayangnya, ketika isu mulai minta ditanggapi, lingkaran kecil ini mulai menunjukkan keseriusannya. Dan--lagi-lagi--aku merasa belum paham dengan semua ini. Seolah-olah penerimaanku disini adalah salah, hanya karena aku yang selalu merasa paling tidak tahu apa-apa tentang hal-hal yang dibahas disini.

Harus kuakui, sejak waktu penerimaan tersebut, detik dan menit meraut kepolosan hidup ini. Mulai muncul setitik ambisi dan keinginan lain. Sayangnya, hal itu sekarang seolah mustahil. Sebab ku merasa salah stretegi sejak awal. Kemudian aku harus apa?



Fokus disini dan mulai "menunjukkan" diri.
Ya! Sepertinya itu hal yang tepat.
Bukan! Bukan lagi 'sepertinya'. Melainkan: Itulah hal yang tepat!
Bismillah...

n's

Maret 12, 2013

Terlahir Kecewa

Pernahkah kau berpikir untuk apa kau dilahirkan?

Renungkan satu detik pagi harimu, dan rasakan aroma ketidakpastian darinya. Kemudian rentangkan asa segenap jiwa, maka kau akan merasa lepas. Tapi tidak ketika kecewa sudah terlalu tergesa-gesa mengejarmu. Senyum tulus yang susah payah kau kumpulkan dari baris-baris energi akan sirna tiada berbekas. Yang tinggal hanyalah haru kekecewaan.


dari sudut yang terlahir untuk dikecewakan.

Maret 11, 2013

Ketika Sudut Bercerita

Sesore ini aku masih termangu dalam sepi. Tak sesenti perjalananpun memunculkan makna tersembunyinya. Ingatanku terhambur pada hujan tahun-tahun silam.

Pada hujan kala itu, kita berteduh dibawah genting yang sudah renta. Dua motor terparkir tak beraturan. Aku berdiri pada sisi aman lebih dalam. Sementara kalian berdua berdiri membelakangiku. Pembicaraan kalian kurasakan semakin hangat dalam aroma keakraban dua sahabat. Sesekali kepala kalian menoleh satu per satu, seolah mengajakku untuk larut. Sayangnya, tak sepenuhnya perbincangan kalian kumengerti. Sebagai satu-satunya perempuan sekaligus yang termuda, aku hanya bisa diam dan sesekali tersenyum. Hingga akhirnya, satu diantara kalian berhasil membuatku jatuh. Jatuh dalam lubang pengkhianatan.


Pada hujan yang sama dalam dimensi waktu yang berbeda. Deru motor mengalun semakin lambat. Lajunya tiba-tiba terhenti pada sebuah kios yang ditinggalkan pemiliknya. Atap yang sempit terpaksa menaungi kami berdua. Hanya tempat inilah yang paling cepat kami capai ketika rombongan rintik hujan menyerbu. Tidak ada pilihan lain.
Detik dan menit berlarian dihadapan kami. Namun hujan tak kunjung pergi. Sementara aku masih saja meratap pada langit terang bersimbah petir.

Sudut hujanku menembus waktu. Kini ceritanya usai tapi belum hangus. Masih ada ruang yang menyimpannya. Abadi.

Februari 16, 2013

"Arc du Triomphe"


One day, I read a novel by Ilana Tan. The title is "Autumn in Paris". Why was I interestedin reading it? Because, It's about Eiffel. Eiffel is the most interesting place that I want to visit. So, Paris is interesting, too.



When I continued reading the novel, I found a name of a place. It was "Arc du Triomphe". The author says that the view from the top of this place is the most beautiful view. Actually, I was so curious of that place.

"Arc du Triomphe" is the most famous monument in Paris. This monument stands at the end of the Champ Elysees road. From the top, we can see the best view of Paris. Apparently, this monument was built to commemorate the victory of Napoleon military campaigns.

We can see this building from 10.00 am - 11.30 pm from 1st October to 31st March and 10.00 am - 10.00 pm from 1st April to 30 September. The entry ticket cost is 8 euro for each person. To get there, we can walk  from the underground Champ Elysees or the Avenue de la Grande Armee.


I hope, someday I will visit Arc du Triomphe.

Amin. o:)


Februari 15, 2013

Hidup Bukan Mimpi, Melangkah adalah Pasti.


Hidup bukan mimpi, melangkah adalah pasti. Hidup bukan perihal berapa lama kita terjaga, apa yang kita lakukan, atau apa yang kita banggakan. Melainkan apa yang telah kita perjuangkan dan bagaimana kita memaknainya.

Jangan pernah pikir untuk menyepelekan tiap detik yang berdenting, tapi resapilah detik sia-sia yang telah lewat. Semua hal yang terjadi di hidup ini adalah sempurna, tapi tidak berarti sukar. Namun tak berarti mudah pula. Bahkan, hal semudah apapun bila kita tidak memperjuangkannya, ia pasti akan tinggal kemudian lepas.

Sudah se-bermakna apa hidupmu?

Bukan jawaban "cukup" atau "lumayan" yang diperlukan. Melainkan pengaruhnya terhadap diri sendiri. Kamu boleh berkata dengan bangga tentang segala pencapaian dirimu. Tapi pernahkah kamu bercermin sudah sebaik apa dirimu? Kalau kau masih sempat berpikir untuk bermalas-malasan sementara kamu pernah berkata bangga bahwa kau berhasil menyemangati orang lain; apa itu sudah dikatakan bermakna? Tidak.

Kontemplasi Jum'at, 15 Februari 2013

Februari 14, 2013

Blue, and Melancholy..


Every people has a differences in personality and  favorite colour. But it makes no disunity.
In this world, there's some people who loved  the blue colour. Blue symbolizes calmness and tenderness. It is like the nature of a melancholyst that always tried to stay calm under all the circumstances in order to think clearly. In a real life, the blue colour was identified with the blue sky, blue light, and no rain. Although sometimes grayish, but in the top of grey clouds are still blue. The positive side of a person who likes the blue colour is having good sense of confidence. But unfortunately, they have an over suspicious nature and tends to be melancholy.
Melancholy has a richest temprament. Every people with this personality has a strong analyctical ability, perfectionist, sensitive, talented, and willing to sacrifice. As an introvert, feeling will be very influential because they are too delicate and sensitive. Unfortunately, they can become a vengeful and morose. They will choose a job that requires sacrifice and perseverance. Their loyalty are unmatched.