...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Mei 31, 2014

Salahkah?

Ada yang pernah tahu definisi "tulus" yang sebenarnya?
Saya rasa, tidak.
Tidak satupun pernah mengerti makna "tulus" yang sesungguhnya, sampai ia merasakannya sendiri: sebuah ketulusan rasa yang tak pernah mampu terdefinisikan secara sempurna.
Kemudian, mengapa ada manusia-manusia yang merasa bangga membahas hal tersebut? Bukankah dia tak pernah tahu bagaimana sebuah ketulusan menjalari nadi individu lain? Pun dirinya sendiri. Ya, ketulusan diri sendiri. Ada yang pernah mengerti? Saya pikir hanya sedikit. Kenapa? Karena tulus adalah hal yang paling sulit untuk didefinisikan di dunia ini. Sekali lagi saya ulang, sulit.
Maka, salahkah jika saya sedikit benci pada bahasan kata "tulus", apalagi jika sampai muncul judgement atas kata tersebut. Salahkah?

Maret 16, 2013

Hanya dengan Senyum

Pagi, semesta.
Salam untuk seluruh makhluk yang menutup hari kemarin penuh senyuman :)
Karena:
Hanya dengan senyum gundahmu sirna
Hanya dengan senyum harimu bercahaya
Hanya dengan senyum bahagiamu bermula
Hanya dengan senyum kisahmu bercerita
Hanya dengan senyum lelah pasti berdusta
Hanya dengan senyum sukses kian tercipta
Hanya dengan senyum pangeran akan jatuh cinta
Dan..
Hanya dengan senyum, kau bersahabat dengan seluruh isi dunia..

Maret 12, 2013

Terlahir Kecewa

Pernahkah kau berpikir untuk apa kau dilahirkan?

Renungkan satu detik pagi harimu, dan rasakan aroma ketidakpastian darinya. Kemudian rentangkan asa segenap jiwa, maka kau akan merasa lepas. Tapi tidak ketika kecewa sudah terlalu tergesa-gesa mengejarmu. Senyum tulus yang susah payah kau kumpulkan dari baris-baris energi akan sirna tiada berbekas. Yang tinggal hanyalah haru kekecewaan.


dari sudut yang terlahir untuk dikecewakan.

Februari 15, 2013

Hidup Bukan Mimpi, Melangkah adalah Pasti.


Hidup bukan mimpi, melangkah adalah pasti. Hidup bukan perihal berapa lama kita terjaga, apa yang kita lakukan, atau apa yang kita banggakan. Melainkan apa yang telah kita perjuangkan dan bagaimana kita memaknainya.

Jangan pernah pikir untuk menyepelekan tiap detik yang berdenting, tapi resapilah detik sia-sia yang telah lewat. Semua hal yang terjadi di hidup ini adalah sempurna, tapi tidak berarti sukar. Namun tak berarti mudah pula. Bahkan, hal semudah apapun bila kita tidak memperjuangkannya, ia pasti akan tinggal kemudian lepas.

Sudah se-bermakna apa hidupmu?

Bukan jawaban "cukup" atau "lumayan" yang diperlukan. Melainkan pengaruhnya terhadap diri sendiri. Kamu boleh berkata dengan bangga tentang segala pencapaian dirimu. Tapi pernahkah kamu bercermin sudah sebaik apa dirimu? Kalau kau masih sempat berpikir untuk bermalas-malasan sementara kamu pernah berkata bangga bahwa kau berhasil menyemangati orang lain; apa itu sudah dikatakan bermakna? Tidak.

Kontemplasi Jum'at, 15 Februari 2013

Februari 07, 2013


"Di dalam hati manusia ada kekusutan dan tidak akan terurai kecuali menerima kehendak Allah SWT."

Januari 27, 2013

Nyatanya, Inilah Hidup..


Aku pernah merasa begitu diperhatikan
Namun tak jarang aku terabaikan

Dua tahun lalu hariku begitu ramai
Tapi tak sama dengan tahun lalu yang penuh kehampaan

Pernah aku disapa bahagia bertubi-tubi
Tepat setelah itu semuanya sirna sekejap mata

Mereka berpasangan
Semua tercipta berpasangan
Erat
Tak terpisahkan

Maka tak pantas kita berkata bahwa hidup ini tak adil.
Karena sebenarnya...
Hidup ini tak sepenuhnya adil,
Namun juga tak sepenuhnya tak adil.

Maknai detik yang masih terlukis dalam harimu secara berarti.
Karena sejatinya, detik yang sudah lewat itu memiliki kisahnya sendiri di masa datang.
Ia bukan hanya sembarang lewat, tetapi juga meninggalkan ceritanya masing-masing.
Kelak kau akan mengingatnya. Susah payah.

Dan nyatanya, inilah hidup...
Suka dan duka akan bergiliran menghampirimu, dengan proporsi yang sempurna :')

Januari 16, 2013

Mengapa Harus Kecewa?



Mengapa kau kecewa saat kau patah hati?
Padahal kau sadar, Sang Pencipta telah menyediakan yang terbaik dari yang paling baik.

Mengapa kau kecewa saat tak satupun mampu memahami dirimu?
Padahal Sang Penguasa telah menyediakan sahabat terbaik yang menunggumu di alam yang lebih abadi.

Mengapa kau kecewa saat banyak masalah menghampiri?
Padahal kau tahu, Pencipta Alam ini telah menyediakan petunjuk beserta jalan keluarnya.

Lantas, mengapa kau harus kecewa?

Desember 18, 2012

Lihat Dirimu.. Bangsamu..


Bukan mencaci, bukan memaki. Kami hanya masih memahami. Bukankah kalian yang berkata "komentar saja tiada guna." Kemudian tidakkah kalian berkaca apa yang sedari tadi kalian suguhkan? Bukankah itu juga bentuk komentar terhadap bangsa ini yang kalian kemas secara halus? Lalu, hal apa yang kalian lakukan dibalik itu?

Cukup!
Kali, generasi yang masih terduduk di kursi ruangan luar biasa ini masih memahami. Menelaah apa yang terjadi. Pikiran kami sudah muak dituntut untuk melakukan pembangunan negeri. Kalian seakan menyalahkan perkembangan. Kalian menyuguhkan itu semua pada dua sisi yang begitu kontras. Kalian menyudutkan yang satu dan membanggakan yang lain. Sebenarnya salah. Tidak harus seperti itu!
Kalian boleh saja menerima semuanya. boleh! itu hak kalian.

Kemudian, apa pernah sekali saja berpikir apa yang hendak kalian lakukan? Oke, mungkin cukup rumit. Yang simple saja, apa pernah kalian berpikir untuk apa kalian ada disini? Di universitas ternama negeri ini. Tujuan akhir kalian pasti sebagian besar tidak bersinggungan dengan apa yang kita permasalahkan saat ini. Kelak pasti ada pemikiran untuk mengacuhkannya.

Lalu, apa guna saat ini? Padahal itu kalian. Kalian!!

-n’s-

13:15 WIB
Selasa, 18 Desember 2012

Desember 17, 2012

shbt(?)


Sahabat.
Apa definisi sahabat menurutmu?
Mereka yang ada disaat kau butuh sandaran-kah?
Mereka yang memahami setiap keluh kesahmu-kah?
Ataukah mereka yang menyelipkan namamu di setiap do’anya?

Yang mana?

Beri aku satu alasan mengapa ia patut kusandangkan kata ‘sahabat’!!

Oktober 13, 2012

Snowballove. You..


Terlahir ditengah kesempurnaan raga dan keterbatasan penghidupan, tak pelak membuatnya berprinsip seperti air yang pasrah saja terbawa kesana kemari sealur oleh derasnya arus. Ia, seorang ayah yang hampir memasuki usia setengah abad, yang begitu luar biasa. Ya, memang.. setiap ayah di dunia ini pasti luar biasa, dan mereka memiliki ke-luarbiasa-annya masing-masing. Namun, satu yang membedakannya dari ayah-ayah lain yang pernah ada di dunia ini, yaitu ketulusan.

Aku ingat.. dahulu, di hari ketika aku baru saja genap berusia enam tahun dan merengek minta dibelikan sepeda, aku kehilangan mereka sepanjang hari. Tidak kurasakan sedetikpun kehangatan ditemani mereka sepenjang hari bahagia itu. Aku kesepian, tapi tak terlalu terasa, sebab aku masih kecil. Namun, ketika senja menjelang dan yang menemaniku hari itu beranjak pulang, aku menemukan siluet sosok gagah dan wanita dewasa berdampingan berjalan mengarah padaku dengan menuntun sebuah benda kecil ditengah mereka, sepeda. Mereka ayah dan ibuku. Dalam sadar aku kemudian berlari, memeluk mereka. Ternyata ini yang mereka persembahkan. Aku memeluknya erat, ayahku. Aku melihat matanya berbinar, seakan ada suatu hal yang tersiratkan. Entah mengapa aku bisa begitu dalam merasakannya, padahal saat itu aku masih belum mengerti kehidupan, dan masih sangat jelas terekam hingga saat ini. Mungkin bila aku yang sekarang yang menatap mata itu, pasti aku mengerti apa yang sebenarnya tak tersampaikan. Sayangnya, bukan...

Dari balik kubikel berwarna abu-abu ruang laboratorium bahasa Gedung Sumitro Djojohadikusumo, aku merasakan getaran hangat pada kedua pelupuk amata. Bulir air hangat ini seakan mendesak keluar sesaat ketika tuannya menangkap sinyal paling buruk sepanjang perjalanan cita-cita.

Otak reptil ini tiba-tiba membeku. Limbic system mengaktifkan kinerja hippocampus. Dan seketika itu pula terbayang sosoknya, panutan sepanjang masa yang mengajariku menitikkan air mata. Mengajariku memaknai pedih dan kerasnya hidup ini.

Aku merasa telah begitu bersalah. Setelah banyak pengorbanan dan air mata yang ia tahan, masih saja aku tega mengecewakannya. Sungguh, tak pernah berniat sedikitpun aku menorehkan kecewa dalam hatinya. Hanya saja aku sedang terjerembab dalam kelemahanku sendiri. Namun, aku tak akan membiarkan kelemahan ini tumbuh dan berkembang semaunya. Aku masih memiliki kuasa atas hidup dan penghidupanku.

Maka,...
Dua lembar saksi bisu ini akan kupastikan tetap membisu dan sekaligus menjadi saksi keberhasilanku bangkit kelak.

Demi dia.


Sabtu, 13 Oktober 2012
19.55 WIB
&langit-langit bagi hamparan angin&


Agustus 14, 2012

What I like and dislike from myself...


I am Nita Larasati. I’m a little girl who is growing up into adulthood. All of the inconsistency of myself gradually erased and replaced with a logical and critical thinking. Here I tried to know myself more deeply.
Characteristically, I was a girl who loved the blue colour. Blue, symbolizes calmness and tenderness. It is like the nature of me that always tried to stay calm under all the circumstances in order to think clearly. In life, the blue colour was identified with the blue sky, blue light and no rain. Although sometimes grayish, but in the top of gray clouds are still blue. The positive side of a person who likes the blue colour is having good sense of confidence. But unfortunately, she has an over suspicious nature and tends to be melancholy.
One thing I liked best about myself is when I have particular desires, then I will work hard to achieve it. As much as possible through my own, without burdening others. And it will be the pride that I will always remember. For instance, three years ago when I started feel the importance of the role of computers in supporting learning activities in school, I was willing spent my savings. Whereas, the savings comes from the persistence of me in set my pocket money aside each day for several years. Since I was a child, I was accustomed to fulfill my others desire by myself. It has been attached to myself because I have realized that it was my personal wishes beyond the primary needs such as education.
From the persistence of my determination, I became accustomed to independence. In any interaction I am able to implement it. Through self-reliance, I am able to work well in groups. I can be a guide in the group, took over division of duties and roles, also representing the other group members in delivering information outside the group.
Personally, I liked to keeping busy. And so, I like to be a member of any organization, which is I need to. In my opinion, through the activity or organization, we can find a lot of new things that does not necessarily we get only in formal education or family environments. Many rare and valuable opportunities exactly came from the organization. For example, I could feel the euphoria of governor bike parade or speaks on ceremony stage, because of my position in organization. All of the occasion made ​​me learn actively. That is, direct experience, not just theory.
Blue; serenity and gentleness. Persistence of determination. Independence. The flurry of organizing. All this has provided many benefits inside me. Either directly or indirectly. I started dare to speak in front of crowds is one example of the impact.
From the many of my nature, I do not like myself who are too closed. I tend to be more difficult to be familiar with new people I met in the free environment. However, it was not when we are engaged in a particular group. I often do not feel comfortable with new people who I know. I'm too picky. All because I find it hard to fit with new people, especially those with different lifestyles and thoughts. All because I always judge them from the first impressions. I felt this feeling since I was aware of the balance inherent in the interaction, which requires reciprocity.
Second, I would rather work alone than work in groups. Although I can work well in groups, it does not mean I like it. I was more comfortable working alone, because everything does not need to rely on others. I can set it up whenever I want. Then, I can also work according to plan the flow of my own creativity without having to involve the complex ideas of others. This attitude made ​​me become more critical in choosing the members of the group, where I feel comfort at work. Work itself is not bad, but there are times that we do have to interact with others in the group. Moreover, the new things that require information as possible.
Then, in the work, I prefer to complete the job quickly and precisely, and tried to do perfectly. Whereas, I have realized that in this world nothing is perfect. This selfishness brings me to nothingness. Because, I often act surreptitiously in doing my jobs. It is in order to no one knows when I'm done. I do not expect other people see my task. And others do not need to know that my task has been completed. Actually, my initial goal is to ensure that others do their task themselves. However, this attitude makes me isolated. Some people think I'm stingy. Perhaps, I should be able to put the time to share and when to apply these principles.
Too closed, self-employed, and selfish. The three thing I dislike about myself have given some negative impact on me. If allowed to continue, maybe I will not be able to develop better. Therefore, I want to change those three attitudes to be open, working in groups in a professional manner, and be rational. Not as easy as turning the palm of the hand, all it requires a process. And the process would take time. I gradually began to improve towards the better. For the sake of self-advancement.
In conclusion, I am is what I think. The power of mind is so enormous. So, never think of things beyond the limits of human ability. Make sure all the good stuff, so we really become a good human being too.

Agustus 2012
&langit-langit bagi hamparan angin&            

Februari 04, 2012

surat untuk sahabat


Untuk sahabat yang melupakanku..

Sahabat, ingatkah kau ketika di hari bahagiamu aku hadir ditengah suasana asing yang baru kukenal? Dan apakah kau tahu yang sungguhnya kurasakan?
Hatiku bergejolak. Kau tahu kenapa? Karena aku merasa sangat tidak nyaman berada pada lingkaran samar berwarna abu-abu yang menamakan dirinya sebagai ‘sahabat’. Ya.. ‘sahabat’ barumu, bukan sahabatku. Bahkan, bukan pula teman yang mengenalku. Mereka hanya sekedar ‘tahu’ aku.

Awalnya, nurani ini ingin menolak ajakan mereka. Namun, tak sanggup lidahku berkata ‘tidak’. Karena kau sahabatku. Seorang yang sebagian hatinya telah disisipkan namaku. Meskipun hanya sebagai sebatas tempat sampah ketika duka mendera. Tapi senyummu telah tergores indah dalam memoriku selama dua tahun kebersamaan raga kita. Tidak mudah untukku menghapusnya begitu saja, sebab yang telah tergores akan selamanya membekas. Itulah yang kuharapkan dari kebersamaan kita dahulu, meskipun telah tiga tahun raga kita tak lagi selalu berdampingan. Tapi aku selalu merasakan hadirmu dalam jiwa ini. Entahlah dengan dirimu…

Sahabat,
Sekalipun raga dan batinku hadir memeluk hari bahagiamu, agaknya jiwamu tak merengkuhnya. Tanpa kau sadari, kau sudah mengecewakanku dengan sikap acuhmu yang kau balut dengan sutera. Tapi perlu kau tahu, seindah dan selembut apapun kau berusaha menutupinya, pikiranku selalu mampu menembus dan membaca yang tak tersurat.

Hari itu kau begitu asik dengan ‘sahabat-sahabatmu’. Hingga tak ada kisah baru yang biasa kau tumpahkan setiap hadirku singgah. Bahkan, obrolan tak penting pun tak juga menghampiriku dari bibirmu yang mungil itu.

Sungguh hatiku sepi. Padahal itu hari bahagiamu.
Harusnya kau ingat; siapa yang hadir waktu kau kabari kau sedang sedih? Siapa yang dengar ceritamu ketika ‘sahabat’ barumu menusuk dari belakang? Siapa yang berikan semangat ketika pacar yang sekaligus sahabatmu itu mendua? Siapa yang relakan bahunya tuk jadi sandaran ketika kau menangis? Siapa yang selalu tahu keadaanmu sekalipun tak sedang bersama? Siapa yang selalu rela mengorbankan waktunya hanya untuk mendengar lukamu? Dan... siapa yang selalu mengingatmu?
Itu aku!
Bahkan, ketika kau selalu lupa kapan aku ulang tahun, aku selalu ingat dan memberimu hadiah terindah buatanku sendiri.
Sadarkah kau betapa pilunya aku mengingat semua kenangan manis kita disaat kau tak pernah menyadarinya?!

Mungkin, sekarang raga kita tak pernah lagi bersama. Hanya sesekali saja. Dan kaupun telah menemukan banyak sahabatmu yang baru. Akupun tak berhak egois mengharap kau selalu menumpahkan kisahmu padaku. Tapi aku selalu bahagia saat kau bersedia membagi kisahmu dengan dunia barumu padaku. Hatiku terbuka lebar menerima tumpah ruah gejolak suka-dukamu.
Aku berharap, meski kau tak pernah lagi memintaku tiba-tiba datang kerumahmu hanya untuk mendengar tangismu, jiwamu masih mengingatku. Menempatkannya pada posisi yang sama ketika kita masih bersama. Sebab senyummu masih tergores indah dalam relung iniJ

#Langit-langit bagi hamparan angin#

Mei 06, 2011

Soliloqui Hutan-Hutan

Dari Aceh, Kalimantan, Philipina, Meksiko dan Dataran Afrika
Hutan-hutan sedang menangis
Tangan-tangan peradaban dengan rakus
mencerabut keperawanan mereka
sampai ke akar-akarnya.

Suara hutan kini bukan lagi desau angin, gemericik air, ranting patah dan suara-suara binatang
Tapi gemuruh mesin-mesin
memekakkan telinga
:angkuh dan bising

Gerak angin hutan adalah suara kecemasan
Kecemasan penghuni jagad raya
Dan manusia?
Manusia yang selalu tergoda
terus saja membabat hutan tanpa kecemasan

Bumi bergetar
Udara panas dan beracun
Ozone bocor

Selaksa awan hitam dari balik jendela langit
bergerak ke bumi
mengabarkan duka yang panjang
bahkan episode kematian

Apakah hutan ini sebuah hadiah
untuk kita habiskan
ataukah titipan
untuk kita jaga?

Ternyata,
hutan adalah hadiah besar
dari sebuah pesta besar
dan kita merasa berhak
menghabiskan secepat-cepatnya.

Solo, 15 September 1995
(Dibacakan saat peringatan Hari Bumi 22 April 1996,di F. Geografi UMS)

Obituari Kota

Menelususri trotoar kota tengah malam
adalah menelususri jejak-jejak sejarah
dan keping-keping cerita yang tertinggal
Dalam setiap langkah terkuak satu-persatu sejarah
tentang kota-kota

Kota-kota dibangun di atas semangat eksploitasi
dan bukan keselarasan
hingga nampak wajah kota
yang dingin dan kejam

Semua orang berputar
dalam arus kuat perburuan
bagai laba-laba lepas dari jaringnya
:memakan atau dimakan

Seakan tak pernah henti
dalam lompatan waktu
orang-orang bergerak cepat
dikejar-kejar bayangnnya sendiri

Menelusuri kota tengah malam
adalah melihat jalanan yang macet dan pengap
debu-debu mengotori wajah
dan panas memanggang kepala
serta melihat manusia berebut tulang,
seperti anjing
Kemakmuran kota hanyalah milik mereka
yang diam di gedung-gedung menara
dan sisa-sisa hanya untuk mereka yang di pinggir kali, emper toko dan di jalanan

Menelusuri trotoar kota tengah malam
adalah mendengar suara-suara yang sulit dimengerti
karena setiap orang menciptakan kehidupan kota
di pikiran, hati, tangan, perut, taring dan air liur sendiri-sendiri

Orang-orang bertegur sapa hanya karena kepentingan
dan bukan cinta
karena cinta bisa didapat kelewat gampang
di diskotik, nite club, panti pijat sampai keremangan malam pinggir jalan
dengan beribu aroma purba yang ditawarkan

Menelusuri trotoar kota tengah malam
adalah meraskan diri sendiri sepi
di tengah keriuhan manusia dan kota

Solo, 15 September 1995
(Dibacakan saat peringatan Hari Bumi 22 April 1996,di F. Geografi UMS)