...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Desember 03, 2014

Saya, Idealis Penyelaras

Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala.

Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan dengan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. 
Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen--mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang-gemilang.

Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus

Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapapun karenanya.

Sumber

Desember 02, 2014

Aku Lupa...

Aku lupa caranya menari diatas barisan huruf yang pada periode silam setia menemaniku.
Pagi hingga terik...
Senja sampai gulita...
Ketika itu aku masih setia menyapanya.
Tak ada satu hari pun yang terlewat, bahkan untuk satu baris.
Pasti ada
Dan selalu ada.
Kini aku merindunya.
Kesenangan yang mampu selalu mendamaikan.

Aku lupa bagaimana caranya menyiasati coretan demi coretan menjadi frasa yang mampu berkembang biak lebih baik.
Lembar demi lembar yang biasanya kuhabiskan untuk menciptanya.
Kini tiada...
Entah tak mampu, entah tak bisa..
Ah, apa bedanya?
Entahlah.... Pun aku juga tak memahaminya kenapa.

Sumber: dari sini
Yang aku tahu hanya satu,
bahwa aku lupa....
Aku merasa lupa...


Jakarta, 02 Desember 2014 | N

Mei 09, 2013

Bicara Lewat Kata

Bukan aku malu mengucap kata. Hanya saja waktu yang belum mempersilakanku. Sekalipun detik semakin membuatku tersudut, keberanian waktu belum mencapai sempurna.

Kak, kau bilang, "ngomong, dong!" Kau menyuruhku bicara tanpa sekat pelafalan. Namun, berbanding semu dengan ekspresi. Aku hanya mendongakkan senyum samar. Bibirku mengucap "iya", tapi tidak dengan hatiku. Bukan sekadar malas ataupun belum ingin. Lebih dari sekadar itu. Aku bercinta dengan kata. "Aku, kan, bicara lewat tulisan," begitu jawabku selanjutnya. Kemudian senyum lagi.

Karena ketika waktu mempersilakan dengan anggunnya, aku akan mulai bicara lewat suara tanpa diperintah. Bukan lagi kata--yang sampai saat ini--selalu meneduhkan hatiku. Sekalipun goresan kata takkan pernah kutinggalkan.

Sejatinya, bicara lewat tulisan takkan pernah mati. Akan terus hidup bahkan sampai aku tidak pernah menulis lagi. Sebab menulis itu juga bicara, membicarakan apa yang didengar melalui tulisan. Juga membicarakanmu, yang mengingatkanku untuk bicara.



Maret 31, 2013

Sedekat Jarak

Bukan aku tak berniat menghampiri, hanya saja masih banyak sekat tak kentara disini. Langkahku tersekap dalam balutan jaring-jaring alasan ketidakberanian. Semula aku hanya berpikir bahwa mengagumi dari jauh saja cukup. Dan batas aku memandangimu ini akan selalu menjadi saksi. Sebab nyatanya, selalu ditempat inilah aku berhasil menggapai rupamu yang gagah.



Bicara jarak, begitu banyak yang tercipta diantara kita. Entahlah. Tapi itu justru membuatku selalu bersinar saat menyadari aku bisa mengagumi sosokmu. Ada yang bilang, bahwa yang diawali dengan rasa kagum akan mengalir fluktuatif seindah arus yang bermuara pada lautan. Mungkinkahku?

Padahal, kita bukan teman satu angkatan. Kita belum pernah berkenalan. Tak satupun ada yang menjadi perantara kenalnya kita. Kita belum pernah terlibat pada satu hal yang sama. Kita pribadi yang berbeda. Intinya semua alasan berpihak pada jarak antara kita berdua. Bahkan mungkin kau belum pernah melihatku. Namun, pada kenyataannya, jarak-jarak itulah yang membuatku sedekat ini mengagumimu. Salam, staff bidang serupa berbeda dimensi waktu dan masa.

Maret 11, 2013

Ketika Sudut Bercerita

Sesore ini aku masih termangu dalam sepi. Tak sesenti perjalananpun memunculkan makna tersembunyinya. Ingatanku terhambur pada hujan tahun-tahun silam.

Pada hujan kala itu, kita berteduh dibawah genting yang sudah renta. Dua motor terparkir tak beraturan. Aku berdiri pada sisi aman lebih dalam. Sementara kalian berdua berdiri membelakangiku. Pembicaraan kalian kurasakan semakin hangat dalam aroma keakraban dua sahabat. Sesekali kepala kalian menoleh satu per satu, seolah mengajakku untuk larut. Sayangnya, tak sepenuhnya perbincangan kalian kumengerti. Sebagai satu-satunya perempuan sekaligus yang termuda, aku hanya bisa diam dan sesekali tersenyum. Hingga akhirnya, satu diantara kalian berhasil membuatku jatuh. Jatuh dalam lubang pengkhianatan.


Pada hujan yang sama dalam dimensi waktu yang berbeda. Deru motor mengalun semakin lambat. Lajunya tiba-tiba terhenti pada sebuah kios yang ditinggalkan pemiliknya. Atap yang sempit terpaksa menaungi kami berdua. Hanya tempat inilah yang paling cepat kami capai ketika rombongan rintik hujan menyerbu. Tidak ada pilihan lain.
Detik dan menit berlarian dihadapan kami. Namun hujan tak kunjung pergi. Sementara aku masih saja meratap pada langit terang bersimbah petir.

Sudut hujanku menembus waktu. Kini ceritanya usai tapi belum hangus. Masih ada ruang yang menyimpannya. Abadi.

Desember 17, 2012

dua tiga - empat puluh


5cm.
Seperti itulah kedekatan kita saat ini. Kebersamaan yang baru berumur empat bulan. Namun, telah mampu melukiskan banyak hal. Tangis, tawa, gundah, gelisah, bahagia. Luruh sudah semua angan yang semu ketika bersama kalian.
Aku beruntung tumbuh di sudut bumi ini, dan bertemu kalian. Sosok malaikat pembawa ‘kegilaan’ dalam hidupku.
Ah! Aku tak perlu berlebihan. Aku takut nantinya akan dikecewakan. Tetapi kurasa kalian pantas mendapatkannya......ruangan terindah dalam keping hati ini.


Teruntuk sahabat-sahabatku. SBT©
Kamis, 13 Desember 2012
23:40 WIB

dia yang lain


Satu tahun lalu. Saat aku masih perih memendam seluruh rasa ini. Saat sayap-sayapku terpaksa diisolasi. Saat semua bintang terpaksa kubenci. Hatiku milikmu, Fab.

Sekarang? Lelahku memuncak. Entah apa sebabnya. Raga dan batinku mulai berontak. Mereka tak sanggup lagi seperti ini. Mungkin sebaiknya aku yang pergi. Mencari tambatan yang lain. Objek yang pantas kukagumi.

-Diva-

Oktober 07, 2012

sastra akuntansi

Ketika deretan angka dan laporan keuangan tidak membatasi penciptaan aksara, disitulah aku berdiri. Diantara bayang-bayang status 'mahasiswi akuntansi' dan jembatan rangkaian kegemaran akan aksara. 

Aku masih sanggup tegak. Menyeimbangkan keduanya, 
juga aku-kamu-kita; SBT 25

September 09, 2012

Awalnya kukira..


Awalnya kukira.. OPK hanyalah sebuah rangkaian kecil kegiatan ospek fakultas dalam jangka waktu tertentu dan langsung habis, tiada berbekas. Kemudian sibuk dengan kuliah dan kesibukan masing-masing, tanpa menyisakan perasaan lain: kekerabatan. Ya, masing-masing. Nyatanya...
Dipertemukan dengan makhluk-makhluk asing dengan berbagai kepribadian dalam kelompok 25; SUBROTO. Ah, mungkin mereka beranggapan sama denganku. Kelompok ini hanya sementara, kemudian kami menjalani hari-hari dan kesibukan kuliah bersama teman yang sudah dikenal lama saja. Oke, mari menjalani ‘penyiksaan’ ini seadanya. Segera berakhir. Dan... sudah!
Hari-hari pertama; hanya perkenalan dan fokus pada tugas. Hanya itu.
Selebihnya..?
Detik demi detik habis begitu saja. Terjalin dan terangkum dalam memori kesibukan bersama SBT 25; makhluk asing nan abstrak yang entah.. tak pernah terbayangkan sebelumnya bertemu dengan mereka. Ditambah mentor-mentor kece yang sebelumnya  hanya satu, yang membuatku sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan “Kenapa harus cowok?” Seperti hanya mendapatkan sebelah orang tua. Hanya papa, mamanya pergi. Haha
Ternyata benar kata ka Rafi.
Setiap hari, mau tidak mau pasti bertemu dan bersama SBT larut dalam kesibukan. Pertemuan yang intens ternyata sedikit demi sedikit meruntuhkan pertahanan kami. Pertahanan sikap. Satu demi satu mulai terlihat sifat dan sikap aslinya.
Putri permata sari. Satu-satunya yang kuingat namanya karena saat perkenalan dia tepat disebelah kiri. Dan yang pertama kali aku tahu nomor handphonenya.
Hutomo Danu. Ketua kelompok yang ketika berbicara akan selalu menampakkan aura jawanya, padahal berasal dari SMA di Depok. Danu adalah satu-satunya yang selalu mencari sensasi. Tak pelak julukan "Sensasional BangeT" kemi lekatkan pada dirinya.
Josephine Pinta Ruth Nevelyn Silitonga. Gadis cantik proporsional yang sangat aneh. Sekilas mungkin kalian akan berpendapat bahwa ia adalah anak yang manis dan tenang. Nyatanya, tidak! Cuma dia yang tiba-tiba histeris sendiri disaat kita sibuk atau bahkan diam. Cuma dia yang monolog sambil jalan dalam keadaan sadar, padahal yang lain sedang berbincang dengan ka faby menuju Departemen Akuntansi. Dan, cuma dia yang feelingnya sempurna tentang asisten dosen keren yang saat itu sedang berjalan di batang tegah gedung A. Entah asal bicara, entah sungguhan, Nev berharap dia menjadi salah satu asdos SBT 25. Dan..... yak! Benar. Kakak jernih itu menjadi asdos matekbis kelas kami. Bisa dibayangkan, Nev akan lebih sering mendadak kejang memandangi asdos kami itu. Bahkan, masih teringat kalimat Nev yang membuat tawa kami pecah ketika melihat tingkahnya memandangi tiap langkah asdos matekbis, "Ya kalau dia lihat biar saja, kalau dia nggak liat ya nikmati saja.." Aduh, Nev...
Ani Utami. Cowok tapi cewek. Komdis OPK FEUI 2013.
Utari Indriani. Sabar-Berjilbab-TERBULLY. Sekian.
Selvi Nur Yuliani. Tinggi dan kalem. Sepertinya gadis ini tidak terlalu banyak tingkah.
Nabilah Aqila. Cewek semarang, tapi bukan asli semarang. Anehnya, dia sangat fasih berbahasa jawa dengan dialek-dialek khasnya. Bikin iri setengah mati kalau dia berbahasa jawa L
Fatimah Shafiyyah. Mahasiswi manajemen yang juga calon wanita sholehah, begitu kalimat canda kami.
Rangga Yodi. Apa ya? gebetannya dio, mungkin :p
Dio Alif P. Jangan bingung dek!! Hahaha. Kasihan Dio dibilang bingung terus. Sebenernya sih ekspresi wajahnya biasa aja, nggak lagi bingung, tapi SBT menyimpulkan Dio adalah ter-bingung 2012.
Mamduch. Paling alim di SBT. Jadi jengkel kalau udah repot-repot nyapa dia, tapi cuma dibalas senyum yang sangatsangat simpel. Tanpa basa-basi lain._.
Atika Rachmawati. Cewek KKI yang kecengannya bikin mupeng. Haha *abaikan
Pur. (lupa nama aslinya nih-_-) Cowok KKI yang berusaha kita jodohkan sama atika. Tapi sepertinya tak mungkin.
Auryn. Aduuuh gadis ini imut banget. Kesannya apa yah?
Dimas. Cuma mau ngajak berdoa sama-sama buat kesembuhan Dimas, supaya dia bisa turut merasakan betapa ‘gila’nya SBT.
Yudhistira. Satu-satunya cowok SBT yang penampilannya paling lumayan dari yang lain :p tapi ternyataaaaaa... yudhis itu abstrak banget. Pertahanan jaim nya sudah sangat runtuh kalau bareng SBT.
Ah! Makhluk-makhluk abstrak ini..

Hari ini, klimaks komdis di pasca OPK. Bener-bener terharu. Terlebih waktu Yudhis bilang dia nggak akan pindah dan seakan menunda Jermannya. Hmpfh.. tergetar loh. Bersyukur banget dipertemukan dengan SBT 25. Sampai akhirnya air mata luruh tak terbendung lagi.
Ditambah waktu lihat dua orang mentor kece yang sudah sangat seperti pasangan papa-mama bagi SBT. Oase ditengah gurun pasir; komdis. Dua orang yang harus selalu siaga menanggapi ketidaknormalan SBT. Daaaan mereka adalaaah.. Abdillah Rafi & Amalia Malfira. Maaf ya kak, kalian kita ceburin ke kolam makara :P
Kalau komdis ada dihati FEUI 2012. Kalian ada di hati kita, SBT 25.

love you guys{}


SBT 25..
SOLID. BERKARYA. TANGGUH. Yiiihaaa~




&langi-langit bagi hamparan angin&
Minggu, 09 September 2012
22.10 WIB


Februari 29, 2012

sahabat baruku sudah ada yang memiliki


Baru dua hari yang lalu aku mendengar setia cerita galaumu, memberikan nasehat terbaik yang melintas. Menangkap sinar matamu yang penuh harap bahwa aku akan memberi secercah cahaya atas gundah yang kau derita. Tapi, tadi pagi-pagi sekali, aku telah mendapati kabar kau telah kembali. Ya.. kembali pada kasihmu yang lalu. Rupanya gundahmu telah berakhir. Apakah kalimatku menyiratkan kesimpulan yang mampu kau baca? Mungkin.

Aku turut bahagia, sahabat. Tapi... Entah mengapa aku merasa kehilangan. Yang ada dalam pikiranku hanya satu kesimpulan bahwa kau takkan pernah lagi membutuhkanku untuk sekedar menggali tentang sedikit perasaan dari sudut pandang perempuan. Mungkin kau tak lagi mengenaliku sebagai satu titik yang kau butuhkan sebagai pelampiasan ceritamu. Bahkan, mungkin aku harus membangun tembok kokoh untuk membatasi kita. Dan aku harus terbebani rasa menjaga perasaan kekasihmu.

Baru satu hari kau kembali padanya, aku sudah kehilangan banyak waktu untuk menggali perasaan seorang laki-laki darimu, sahabat. Padahal, kedekatan kitapun baru saja terjalin. Aku nyaman berkeluh kesah tentang kasihku disisimu. Kaupun begitu, bukan?

Aku kehilanganmu, sahabat.

Perlu kau tau, aku butuh lebih banyak waktu untuk meretas cerita gundah dan pendapatmu!





10:44 WIB
Rabu, 29 Februari 2012
langit-langit bagi hamparan angin

Februari 04, 2012

surat untuk sahabat


Untuk sahabat yang melupakanku..

Sahabat, ingatkah kau ketika di hari bahagiamu aku hadir ditengah suasana asing yang baru kukenal? Dan apakah kau tahu yang sungguhnya kurasakan?
Hatiku bergejolak. Kau tahu kenapa? Karena aku merasa sangat tidak nyaman berada pada lingkaran samar berwarna abu-abu yang menamakan dirinya sebagai ‘sahabat’. Ya.. ‘sahabat’ barumu, bukan sahabatku. Bahkan, bukan pula teman yang mengenalku. Mereka hanya sekedar ‘tahu’ aku.

Awalnya, nurani ini ingin menolak ajakan mereka. Namun, tak sanggup lidahku berkata ‘tidak’. Karena kau sahabatku. Seorang yang sebagian hatinya telah disisipkan namaku. Meskipun hanya sebagai sebatas tempat sampah ketika duka mendera. Tapi senyummu telah tergores indah dalam memoriku selama dua tahun kebersamaan raga kita. Tidak mudah untukku menghapusnya begitu saja, sebab yang telah tergores akan selamanya membekas. Itulah yang kuharapkan dari kebersamaan kita dahulu, meskipun telah tiga tahun raga kita tak lagi selalu berdampingan. Tapi aku selalu merasakan hadirmu dalam jiwa ini. Entahlah dengan dirimu…

Sahabat,
Sekalipun raga dan batinku hadir memeluk hari bahagiamu, agaknya jiwamu tak merengkuhnya. Tanpa kau sadari, kau sudah mengecewakanku dengan sikap acuhmu yang kau balut dengan sutera. Tapi perlu kau tahu, seindah dan selembut apapun kau berusaha menutupinya, pikiranku selalu mampu menembus dan membaca yang tak tersurat.

Hari itu kau begitu asik dengan ‘sahabat-sahabatmu’. Hingga tak ada kisah baru yang biasa kau tumpahkan setiap hadirku singgah. Bahkan, obrolan tak penting pun tak juga menghampiriku dari bibirmu yang mungil itu.

Sungguh hatiku sepi. Padahal itu hari bahagiamu.
Harusnya kau ingat; siapa yang hadir waktu kau kabari kau sedang sedih? Siapa yang dengar ceritamu ketika ‘sahabat’ barumu menusuk dari belakang? Siapa yang berikan semangat ketika pacar yang sekaligus sahabatmu itu mendua? Siapa yang relakan bahunya tuk jadi sandaran ketika kau menangis? Siapa yang selalu tahu keadaanmu sekalipun tak sedang bersama? Siapa yang selalu rela mengorbankan waktunya hanya untuk mendengar lukamu? Dan... siapa yang selalu mengingatmu?
Itu aku!
Bahkan, ketika kau selalu lupa kapan aku ulang tahun, aku selalu ingat dan memberimu hadiah terindah buatanku sendiri.
Sadarkah kau betapa pilunya aku mengingat semua kenangan manis kita disaat kau tak pernah menyadarinya?!

Mungkin, sekarang raga kita tak pernah lagi bersama. Hanya sesekali saja. Dan kaupun telah menemukan banyak sahabatmu yang baru. Akupun tak berhak egois mengharap kau selalu menumpahkan kisahmu padaku. Tapi aku selalu bahagia saat kau bersedia membagi kisahmu dengan dunia barumu padaku. Hatiku terbuka lebar menerima tumpah ruah gejolak suka-dukamu.
Aku berharap, meski kau tak pernah lagi memintaku tiba-tiba datang kerumahmu hanya untuk mendengar tangismu, jiwamu masih mengingatku. Menempatkannya pada posisi yang sama ketika kita masih bersama. Sebab senyummu masih tergores indah dalam relung iniJ

#Langit-langit bagi hamparan angin#

Januari 30, 2012

berharap itu...


berharap itu... tak lebih dari keberanian menghunuskan pedang dalam dada sendiri. menjatuhkan diri dari lantai dua puluh tujuh ke permukaan paku dimana telah banyak orang menunggu untuk mencela betapa bodohnya kamu!

17=padam!


Entah telah berapa kali aku termenung meratapi angka 17-ku yang padam. Ya... Padam! Tak sedikitpun cahaya singgah untuk menerangi. Mungkin aku terlalu banyak berharap. Sehingga sekejap mata semuanya musnah. Tiada berbekas.

Tak ada satupun yang kuterima di angka 17 ini._. meskipun aku memilikinya, mereka. Sekalipun pada hari mereka aku meluruhkan sedikit waktuku. Namun, kini nyatanya? Tak secuilpun balasan kuterima.

Ah! Mungkin aku terlalu jauh bermimpi mendapat ucapan darinya. Kue ulang tahun dengan lilin manis angka usiaku. Surprise pagi yang mengganggu lelapku. Atau kado sederhana pilihan mereka. Semuanya tak ada. Tak satupun kudapat.

Tuhan... engkau Maha Adil. Tapi mengapa kau kirim sepi di hari ku yang banyak orang nanti, terlebih juga aku. Dimana perhatian lebih sahabat-sahabatku kau simpan? Mereka tidak ada di hariku yang genap tujuh belas tahun. Mereka tidak muncul member moment indah seperti yang aku lakukan untuknya. Mereka hanya mengintip sebatas ucpan selamat ‘formalitas’. Inikah nasibku ya Tuhan...?!

Sungguh aku bersedih mengingat angka 17 ku. Bahkan, tak satu bendapun aku terima sebagai hadiah. Dari keluargaku sekalipun. Benar-benar tak satu hadiahpun kuterima. Menyedihkan ya?!! Kasihan! Dan... dia yang disisiku pun begitu. Tak sebutir pasirpun dipersembahkan. Entahlah... aku sampai bingung apa yang harus kukenang dari ulang tahun ke 17-ku, yang oleh banyak orang biasanya dinanti-nantikan.

Entahlah! Tangisku mengalir~

Januari 25, 2012

entah... (part 1)


Aku bagai titik putih yang dikelilingi jutaan butir titik hitam disekitarku. Tumpah ruah canda tawa diantara mereka. Euforia bahagia turut pula menyapa dan mengajakku turut serta. Ragaku mengangguk. Namun, hanya mengangguk. Tidak pada jiwaku. Nurani seakan terombang-ambing tidak berarah. Entah apa yang sedang singgah dalam pikiranku. Aku berusaha menggali... mencaro... hingga kutemukan sepetik arah yang ternyata menghantui satu bait batin ini. Aku gali kembali... aku mencari kembali... Kutemukan lagi sehelai cahaya luka yang selama ini menggoreskan bidang halus hati ini.

Apa kabar kau yang senang menggangguku?


          Apa kabar kamu? Masihkah kau mengingatku? Masihkah kau ingat kalimat yang membuatku pada tidak percaya paling puncak? Kenapa kau tiba-tiba menghilang? Kenapa kau berhenti mengganggu hari-hariku?
          Tak terasa... hari ini aku merasa merindukan semua pesan singkat perhatianmu. Meskipun aku selalu menganggapnya sebagai gangguan. Namun, yang aku tak pernah percaya, kala itu kau justru tetap selalu memenuhi inbox-ku. Padahal kaupun tahu bahwa aku telah ada yang memiliki. Anehnya kau tak pernah jengah. Justru aku lah yang berusaha membatasi diri darimu. Maaf. Mungkin sampai saat ini, hatiku masih terperangkap pada yang lain. Bukan kamu. Belum mampu berpaling.
          Tak terasa pula... hari ini tepat satu tahun setelah kau mengutarakan kalimat itu. Kalimat yang sebelumnya pun pernah kau ucapkan. Dengan tanggapan yang sama. Keadaan yang sama pula, aku bersama yang lain.
          Aku masih mengingatnya, kejujuran mengatakan ketertarikanmu padaku. Tapi ku menanggapinya biasa, bahkan sangat biasa. Aku menganggapmu masih sebatas temanku dan teman pacarku. Aku pikir kamu tahu itu, juga tentang persinggahan hatiku.
Namun, entah... Mengapa saat ini aku justru mengharap pesanmu kembali meramaikan ponselku. Sekalipun tak pernah aku berniat membalasnya sungguh-sungguh. Aku merindu. Merindu keberanianmu mengganggu datarnya hari-hariku.


langit-langit bagi hamparan angin
Sabtu, 21 Januari 2012


Satu kulepas, satu kutemukan~


Ketika aku mulai bosan dengan geraknya selama ini
Kecewa menemani kesendirian ini
Benci dengan semua ‘tidak’ nya
Entah aku harus apa lagi
Lelah rasa menghadapi
Memuncak
Geram

Mungkin aku kan menjauh
Lari...
Mengacuhkannya...

Disaat yang sama, muncul sebuah ketenangan
Memberikan kenyamanan yang belum pernah kutemui selama ini

Tapi ini belum tepat
Aku masih harus membatasi diri
Mengingat kenyataan

Hati semakin gundah
Ah!


Mungkin aku masih harus menunggu
Entah yang kulupakan, entah yang kutemukan.

♔langit-langit bagi hamparan angin ♔

Minggu, 08 Januari 2012
16.44 WIB

empat huruf satu nama yang tak pernah terbayangkan


kisah kita tak pernah terjalin sempurna, kawan
selalu saja ada pertentangan batin setiap ku bersikap padamu
entahlah...
refleks saja itu terjadi
sungguhnyapun aku tak pernah ingin memerlakukanmu seperti itu
namun jujurnya batinku yang menentukan apa yang ragaku hendak sempurnakan
namun satu yang selalu kubanggakan,
meski kisah kita tak pernah larut tak bersisa, kita masih mampu berdampingan
saling bercerita apa yang dirasa,
walaupun perang batin antara kita belum juga reda :’)
dan walau kau masih (selalu) memperlihatkannya jelas

aku selalu ingin mengecuhkanmu dari perjalanan kisah hidupku
tapi...
aku pernah mendengar kalimat;
“yang terlihat paling membencimu ialah yang sungguh-sungguh memperdulikanmu”
dan... yang aku paling takutkan ialah kau
satu nama yang tak pernah aku hiraukan
satu nama yang kuanggap tidak penting
satu nama yang tidak aku sukai
namun,
satu nama yang memperdulikanku kelak
satu nama yang melukiskan seribu warna kenangan dalam memori
satu nama yang tulus bertanya tentang keadaanku
aku takut...
ya... takut...
amat sangat takut...

langit-langit bagi hamparan angin

sabtu, 17 desember 2011
22.33 wib

Januari 02, 2012

bukan aku yang bersama sahabatku di hari bahagianya ._.

untuk sahabat yang melupakanku,



hari itu hari bahagia sahabatku, namun tiba-tiba aku terkaku. tak sedikitpun keberanian tuk turut dalam cerianya. keraguan.
aku mengenal mereka, yang kala itu menorehkan hari bahagia dan disisi sahabatku. mereka yang menamakan diri 'sahabat' bagi sahabatku.
lalu dimanakah aku?
entah terbuang, entah terinjak.
nyatanya aku selalu ada. namun sedikitpun tak dihiraukan. tapi aku sahabatmu... lihat aku!!!
sadari aku yang selalu ada untukmu, meski bukan aku yang ada di hari bahagiamu.



langit-langit bagi hamparan angin

Jum'at, 16 Desember 2011
23.08 WIB