...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Januari 16, 2015

Ada Saatnya Aku Boleh Menangis

Ada saatnya aku boleh menangis...
Ketika waktu terus berjalan, sementara aku berhenti mendadak
Sejenak melongok kepada yang entah sudah memberikanku apa atau membuatku menjadi apa

Ada saatnya aku boleh menangis...
Ketika waktu terus berjalan, sementara aku berhenti mendadak
Terduduk pada bangku-bangku taman yang baru dicat
Warnanya masih cerah bersih, tidak seperti kepalaku yang mulai penuh

Ada saatnya aku boleh menangis...
Ketika waktu terus berjalan, sementara aku berhenti mendadak
Berdalih menyusun rangkaian-rangkaian masa kedepan, sementara hayal selalu ke belakang

Ada saatnya aku boleh menangis...
Ketika waktu terus berjalan, sementara aku berhenti mendadak
Mencuci muka berharap lebih segar, nyatanya semakin buyar

Ada saatnya aku boleh menangis...
Ketika waktu terus berjalan, sementara aku berhenti mendadak
Yang lain masih bertenaga untuk berlari ketika pandang memilih menyempurnakan dahulu apa yang ada

Ada saatnya aku boleh menangis...
Ketika waktu terus berjalan, sementara aku berhenti mendadak
Dan ketika sadar tuk kembali memandang kedepan...........................
Aku masih berpikir



Jakarta, 16 Januari 2015 | N

Desember 07, 2014

Kagumku Kagum yang Tidak Biasa

Pada masa aku menjalani waktu yang hampa dengan raga teramat biasa, seolah ada percikkan cahaya. Cahaya yang menjaga, mengarahkan, menginspirasi.

Semula kuanggap biasa saja. Bahkan mungkin cenderung tak berniat kugubris. Hanya kujalani apa adanya dan sepatutnya. Sampai tiba sebuah rasa. Rasa yang bukan apa-apa. Rasa yang tidak bernama. Bukan sayang, apalagi cinta. Hanya seperti damai saja.

Sayangnya, sepeninggal waktu yang semakin menjauh, aku terlalu percaya diri akan balasan rasa yang lebih dari sama. Entah benar, entah salah. Hanya sang pemilik rasa dan Tuhan yang mengetahuinya.

Dan aku masih bertahan, dengan rasa yang sama.
Menanti kepastian, dengan kenyataan: hendaknya kita mendekatkan diri kepada Tuhan, masing-masing.


Jakarta, 08 Agustus 2014 | N

Desember 03, 2014

Terima Kasih, Ma...

Dok. Pribadi

Ini adalah bentuk kasih sayang yang tiada pernah terbandingkan.
Kecil, namun teramat berarti.
Sebab ketulusannya mampu mengalahkan segala hasrat bermanja.
Entah bangun, terbangun, atau belum beranjak tidur.

Ialah mama...
Yang meneguhkan kakinya untuk berdiri dan menghampiri kamar anaknya di sebuah sudut gubuk kecil nan indah.
Membawakan bentuk kepedulian kecil bersama momen yang agung.
Tak sering ini berulang.
Tak jarang ini terlewat.

Maaf aku mengganggu tidur lelapmu.
Aku pikir ini hanya terbatuk sesekali.
Namun justru mengalihkan hadap tidurmu pada raga yang tergerak bangun.
Maaf aku membuatmu khawatir pada gulita langit beberapa malam belakangan ini.

Terima kasih, Ma.
Bukan untuk obat yang kau berikan.
Tapi momen yang kau ciptakan.
Sekalipun sebenarnya kita berdua sama-sama dalam kantuk yang bergerak menjalar, hingga tak banyak kata yang saling terlontar.
Namun tetaplah saja......
Momen itu sudah terwujud.
Angin malam pun mengangguk menyetujuinya.


Jakarta, 03 Desember 2014 | N 

Desember 02, 2014

Aku Lupa...

Aku lupa caranya menari diatas barisan huruf yang pada periode silam setia menemaniku.
Pagi hingga terik...
Senja sampai gulita...
Ketika itu aku masih setia menyapanya.
Tak ada satu hari pun yang terlewat, bahkan untuk satu baris.
Pasti ada
Dan selalu ada.
Kini aku merindunya.
Kesenangan yang mampu selalu mendamaikan.

Aku lupa bagaimana caranya menyiasati coretan demi coretan menjadi frasa yang mampu berkembang biak lebih baik.
Lembar demi lembar yang biasanya kuhabiskan untuk menciptanya.
Kini tiada...
Entah tak mampu, entah tak bisa..
Ah, apa bedanya?
Entahlah.... Pun aku juga tak memahaminya kenapa.

Sumber: dari sini
Yang aku tahu hanya satu,
bahwa aku lupa....
Aku merasa lupa...


Jakarta, 02 Desember 2014 | N

Agustus 08, 2014

Muntah.

Ada yang aneh
Ada yang sakit
Fisik dan batin, semuanya tidak sehat

Mungkin lelah
Ya.
Lelah dengan semua ini
Lelah dengan apa yang ada disekitar
Lelah sampai muak
Lelah sampai bosan

Terjejali setiap waktu
Sampai ingin dimuntahkan


Jakarta, 08 Agustus 2014 | N

Kepadanya.

Dok. Pribadi

Kepadanya, kumanjakan rasa ini. Rasa yang tumbuh-hilang, namun menggalaukan. Rasa yang kuyakini sejak awal meski perih yang pada akhirnya justru meraba-raba. Perih-pedihnya masih akan selalu terasa, namun apa daya aku harus tau diri: akan sesuatu yang kujanjikan di awal.
Bahwa takkan pernah ada sesal, bagaimanapun dalam sakitnya.
Bahwa aku harus rela menjaga, yang dipikirnya tak perlu aku yang menjaga.
Bahwa ternyata aku bukan siapa-siapa, dan takkan pernah sebagai apa-apa atas apapun yang pernah ada.
Semuanya lenyap-hilang-musnah begitu saja. Berbalik 180 derajat. Oke, tak apa. Sudah dikatakan di awal, aku harus rela. Bagaimanapun.
Sampai pada akhirnya aku betul-betul nyata belajar bahwa: menjadi ikhlas dan sabar itu luar biasa :')

Jakarta, 08 Agustus 2014 | N


Kepada Diriku yang Bodoh

Entah sudah berapa lama aku seperti ini.
Merasakan perih tiada berperi yang tak kunjung henti.
Semakin hari selalu ada alasan untuk aku bangkit, namun kemudian jatuh lagi.
Kamu lagi.
Karena kamu lagi.
Dan selalu kamu lagi.

Kau berhasil mengiris hatiku tipis-tipis, sampai tak lagi mampu kukenali diriku sendiri.
Aku sudah kacau balau.

Mungkin kamu tak pernah tahu,
bahwa aku belum lagi mampu berdiri seutuhnya
bahwa aku teramat lemah untuk menghindari yang pernah ada
bahwa aku..... ah, sudahlah. Bukankah semua ini tak lagi penting untuk kau ketahui?
Sebab itulah aku pergi....



Jakarta, 08 Agustus 2014 | N