...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Mei 03, 2011

Dikala Sepi


D I K A L A   S E P IDikala sepi aku sendiri
merenungi waktu yang kian berganti
terfikir sejenak akan alam nanti
dapatkah aku mencapai sejati
           
Aku bukanlah padi yang berisi
 bukan pula mentari yang menyinari pagi hari
 aku hanyalah butiran pasir
 yang mengalir seperti air

Tidaklah berarti aku disini
tanpa sahabat yang menemani
tak pula dibutuhkan keberadaanku
tanpa kawan yang merubah arti hidupku
           
Sahabat, kawan, dan guru
hadirnya yang slalu aku tunggu
tuk sadari arti hidupku
tuk slalu ceriakan waktuku

Guruku , orang tua terbaikku
tak lelah slalu memberi
tak lelah slalu mengajari
tak lelah pula menempa pribadi ini

Sahabatku , saudaraku
warnai dikala pudar
ceriakan disaat sepi
menyatukan ketika rapuh

Kawan baruku , inspirasiku
mengenang, mempelajari, dan memanfaatkan
masa lalu yang telah terlewati
bersama ceria indah hari ini

Ucap syukur tak henti ku panjat
atas nikmat indah dunia
tuk kelak di akhirat
yang senantiasa ku damba

-selesai-


Ayu Utami


Bernama lengkap Justina Ayu Utami, Lahir di BogorJawa Barat21 November 1968. Sejak kecil sudah hobimembaca, khususnya cerita Tentang pertualangan seperti Lima Sekawan, Karl May, dan Tin Tin, walupun itu sempatmendapat pertentangan dari orangtua-nya. Menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Sastra Rusia Fakultas SastraUniversitas Indonesia.

Waktu mahasiswa, terpilih sebagai finalis model sampul majalah Femina, urutan kesepuluh. Pernah menjadisekretaris di perusahaan yang memasok senjata dan pernah bekerja di Hotel Arya Duta sebagai guest public relation. Tapi itu semua dia rasa tidak cocok. “Akhirnya saya masuk dunia jurnalistik dan saya merasa inilah duniasaya”, ungkapnya. Sempat menjadi wartawan di beberapa media massa, antara lain majalah Humor, Matra, ForumKeadilan, D & R, serta ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen. Kini ia menjadi Redaktur jurnal kebudayaanKalam dan di Teater Utan Kayu.

Ketika menjadi wartawan majalah Matra, ia banyak mendapat kesempatan untuk menulis. Dalam menulis, ia  lebihmenekankan kepada bentuk. Penulis penyuka karya novelis Ahmad Tohari dan penyair Sapardi Djoko Damono ini,dalam hal gaya penulisan, juga banyak belajar dari Alkitab. “Karena, cara menyampaikan suatu cerita antara satukitab dengan yang lain itu berbeda-beda. Misalnya, cara menyampaikan Lukas, berbeda dengan Mathius, Yohannes,dan sebagainya”, kata Ayu.

Dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman (1998) memenangi sayembara penulisan roman Dewan KesenianJakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu copy dan di terbitkan dalam enam bahasa asing. BerkatSaman, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, Belanda, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan.Menurut kritikus sastra dan penyair Sapardi Djoko Damono, Saman memamerkan teknik komposisi yang belumpernah dicoba oleh pengarang lain. di Indonesia

Akhir 2001, kembali ia meluncurkan novel berjudul Larung. Menyusul novelnya yang lain Bilangan Fu, yangberceritanya tentang tokoh pemanjat tebing. Atas karya itu, ia mendapat penghargaan dari Majelis Sastra AsiaTenggara (Mastera), yang beranggotakan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, sebagai penulis kreatif diHotel Borobudur, Jakarta. Lewat novel ini pula ia meraih Penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 untukkategori prosa. 

Di daulat menjadi penulis naskah Sidang Susila bersama Agus Noor, yang di kemudian di pentaskan oleh ButetKertaredjasa dengan Teater Gandrik di TIM pada bulan Februari 2008. Terakhir, ia baru saja menyelesaikan sebuahskenario film RumaMaida, rencananya film tersebut akan beredar awal Oktober 2009.
(Dari Berbagai Sumber)
“Kita hidup dengan apa yang kita dapatkan, kita menghidupi dengan apa yang kita berikan.” W. Churchill
“Menunda hal yang mudah menjadikannya sulit, dan menunda hal yang sulit menjadikannya mustahil.” G. H. Lonmer

“Ubahlah apa yang dapat diubah, terimalah apa yang tidak dapat diubah, dan lepaskan dirimu dari apa yang tidak dapat diterima.” Denis Waitley

Asma Nadia


Bernama lengkap Asmarani Rosalba. Lahir di Jakarta tahun 1972. Anak pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. Kiprah penulis yang masa kecilnya dihabiskan dirumah kontrakan sederhana di pinggir rel kereta api ini di mulai sejak ia lulus dari SMA 1 Budi Utomo, Jakarta. Saat itu ia aktif menulis dan kemudianmempublikasikan karyanya di berbagai majalah keislaman.

Dikenal sebagai penulis yang produktif. Namanya juga masuk dalam jejeran penulis ‘best seller’ wanita di Indonesia. Hingga saat ini, tercatat telah menulis lebih dari40 buku, yang di terbitkan dengan lebih dari 1 juta salinan yang didistribusikan secara nasional, baik yang di tulis sendiri olehnya maupun bersama-sama denganpenulis lain. Bukunya banyak di terbitkan oleh Penerbit Mizan, diantaranya ‘Derai Sunyi’ (novel), naskah drama dua bahasa ‘Preh (A Waiting)’ diterbitkan oleh DewanKesenian JakartaCinta Tak Pernah Menari’ (kumpulan cerpen‘Rembulan di Mata Ibu’ (novel, 2001). Ia juga menyusun puluhan antologi.

Atas peran aktifnya dalam dunia sastra, beberapa penghargaan nasional dan regional di bidang kepenulisan pernah diraih, diantaranya karya novelnya Derai Sunyi’,mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA), Kumpulan cerpennya Cinta Tak Pernah Menari’ meraih Pena Award, novelnya Rembulan di MataIbu’ (2001) memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI sebagai buku remaja terbaik nasional, karyanya Dialog Dua Layar’, memenangkan penghargaan AdikaryaIKAPI, 2002, dll.

Pernah beberapa kali diundang menghadiri acara kepenulisan di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Di tahun 2006 ia di daulat menjadi salah satu dari duasastrawan muda Indonesia yang diundang untuk tinggal oleh pemerintah Korea Selatan selama 6 bulan. Undangan yang sama diperolehnya dari Le Chateau deLavigny (2009) di Swiss.

Pernah juga menjadi pembicara pada forum Seoul Young Writers Festival di Korea Selatan dan The 2nd Asia Literature Forum di Gwangju, China, Public Reading diJenewa, Swiss. Memberikan workshop kepenulisan  kepada pelajar Indonesia di Mesir, Swiss, Inggris, Jerman, Roma (Italia) dan Vatikan, buruh migran di Hongkongdan Malaysia. Didalam negeri, ia sering di minta menjadi pembicara di hadapan banyak pemirsa termasuk di berbagai universitas ternama di Indonesia, sepertiUniversitas Indonesia, ITB, UNPAD, UGM, IPB, Unsyiah, Universitas Brawijaya, dan perguruan tinggi ternama lainnya.

Salah satu cerpennya berjudul ‘Emak Ingin Naik Haji’ telah difilmkan oleh aditya Gumay dan mendapat anugrah film terpuji dalam Festival Film Bandung danmengantarkan aktris Atty Kanser sebagai pemeran utama wanita terbaik Indonesian Movie Award 2010. Cerpen lainnya yang terdapat dalam buku ‘Emak Ingin NaikHaji’, berjudul ‘Jendela Rara’ juga turut difilmkan. Ketua Forum Linkar Pena, suatu perkumpulan yang ikut dibidaninya untuk membantu penulis-penulis muda ini, jugamenjadi CEO Asma Nadia Publishing House, sebuah perusahaan penerbitan yang didirikannya.

Dikenal sebagai penulis yang sangat perduli terhadap bahan-bahan bacaan, hal itu di wujudkan dengan menyumbangkan hasil royalti dari buku-buku yang telahditulisnya, sebagian bersama pengarang-pengarang lain, untuk kemudian dimanfaatkan guna mengembangkan RumahBaca AsmaNadia, sebuah perpustakaan dantempat mengasah kreativitas bagi anak dan remaja kurang mampu.

Kerap memanfaatkan kemajuan teknologi dalam upayanya menyemangati kaum perempuan untuk membaca melalui milisnya pembacaasmanadia@yahoogroups.com.Berawal dari milisnya tersebut lahirlah klub buku AsmaNadia (KBA) di berbagai kota di tanah air, sebagai kegiatan alternatif yang berisi, di mana setiap bulananggota berkumpul dan berdiskusi tentang buku yang telah mereka baca.

Adik dari penulis Helvy Tiana Rosa ini, menikah dengan Isa Alamsyah yang juga menulis buku motivasi berjudul No Excuse.
Dari perkawinannya tersebut di karuniai 2orang anak Putri Salsa dan Adam Putra Firdaus
(Dari Berbagai Sumber)

Bayang Harapan


B A Y A N G   H A R A P A NSesaat ku kedipkan mata
terbayang indah hari ini
penuh bunga taman surga
yang kekal lagi abadi

Terngiang olehku kalimat syahadat
yang senantiasa ku ucap
agar slalu dijauhkan dari laknat
yang siapapun pasti menjauh

Hidup ini seperti pohon padi
yang merunduk namun berisi
juga bagaikan matahari
tak lelah tuk menyinari

Taman surga pasti tercapai
pabila angan terus digapai
bukan hanya dalam mimpi
tetapi nyata yang kan terjadi

Bersama syahadat aku bernyanyi
bersama shalawat aku menari
berlayar menjadi sahabat samudera
mengarungi cinta Sang Pencipta

Tanganku menggenggam emas
yang berkilau teduhkan hati
ku pelajari dan ku maknai
kelak hari akan terbalas

Kepada-Nya hanya ku percaya
segenap hati, jiwa, dan raga
tuk indah yang slalu ku nanti
gapai bahagia, sempurnakan hari


-selesai-

23oktober 2009
UTS hari terakhir
di ruang 6 oleh 1326105

Emha Ainun Nadjib

Nama :
Emha Ainun Nadjib

Lahir :
Jombang, Jawa Timur,
 27 Mei 1953


Pendidikan :
SD, Jombang (1965);
SMP MuhammadiyahYogyakarta (1968),
Pesantren Gontor, Ponorogo(tidak tamat),
 SMA Muhammadiyah
 Yogyakarta (1971),
FE UGM (tidak tamat).

Karier :
Pengasuh ruang sastra diharian Masa Kini, Yogyakarta(1970),
 Wartawan/Redaktur diharian Masa Kini (1973-1976),
Penulis Puisi dan Kolumnis dibeberapa media

Penghargaan :
The Muslim News Award dariIslamic Excellence di London,Inggris (2005),
Satyalencana Kebudayaan(2011)

Karya :
Antologi Puisi ‘M’ Frusrasi(1975),
Sajak-Sajak Sepanjang Jalan(1977),
Tak Mati-Mati (1978),
Tidur Yang Panjang (1978)
Rotterdam, Juni 1984, disebuah park atau semacam alun-alun. Pada acara Poetry International’ 1984, Emha naik pentas didampingiZapata, pemain perkusi kelahiran Suriname yang berdomisili di Amsterdam. Kedua orang yang dirubung ribuan penonton ini melempar improvisasi Emha dengan kata, Zapata lewat tetabuhannya. Penonton bertepuk riuh. Di akhir pentas, tiba-tiba Emha berdzikirLaailaaha Illallah, dan Zapata segera mengentakan gendangnya. Ketika dzikir itu berakhir dengan raungan, Zapata menghentikanpukulannya. Akibatnya, penonton menggeliat, terkesima, lantas lebih gemuruh bertepuk tangan.


“Alhamdulillah, kami selamat,” tutur Emha, dalam sebuah suratnya ke tanah air, mengenai pertunjukannya itu. Sebelum naik pentas,penyair yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Gontor, Jawa Timur, ini sempat grogi melihat penampilan para pesertasebelumnya. Di tanah air, ulah Emha membaca puisi dengan iringan tetabuhan terdiri dari gong, bonang, gendang dan saron, pernahmembuat bingung Dewan Kesenian Jakarta. Pihak DKJ tidak tahu, puisi-puisi semacam itu mesti digolongkan apa sastra, musik, atauapa.

Emha sendiri tidak pernah pusing, keseniannya itu masuk mana. “Saya hanya ingin mengadakan pertunjukan berdasarkan prinsipsosial yang saya miliki,” kata anak keempat dari lima bersaudara itu. Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an,bekerja sama dengan Teater Dinasti yang berpangkalan dirumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernahmereka datangi, untuk satu kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga mulai tertarik menjadi kolumnis.

Ayahnya, Almarhum M.A. Lathif, adalah seorang petani, yang pernah memiliki kuda tunggang. “Waktu remaja, saya dulu suka naikkuda itu,”tutur Emha. Penyair yang pernah dikeluarkan dari Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo karena menjadi pemimpindemonstrasi ini pernah hidup di ‘jalanan’ Yogyakarta selama lima tahun. Mempelajari sastra dari Umbu Landu Paranggi, yang sangatmempengaruhi karya tulisnya.

Tahun 1984 s/d 1986, Emha, menetap di Amsterdam dan Den Haag, Belanda. Selama di Den Haag, dari membantu Prof. C. Browermelaksanakan lokakarya tentang agama, kebudayaan dan pembangunan. Salah satu pendiri Teater Dinasti dan ayah dari Noe, vokalisbad Letto ini menikah dengan penyanyi Novia Kolopaking. Pernah mengikuti festival sastra dan konser bersama Kiai Kanjeng keAustralia, Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara eropa.
(Dari Berbagai Sumber)