...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..
☂☂☂
Oktober 07, 2012
September 12, 2012
The Man Who Can't Be Moved
Going
back to the corner where he first saw you
Gonna
camp in his sleeping bag, he’se not gonna move
Got some
words on cardboard, got your picture in his hand
Saying
if you see this girl can you tell her where i am
Some try
to hand him money, they don’t understand
He’s
not broke he’s just a broken hearted guy
He know
it makes no sense, but what else can he do
How can
he move on when he’s been in love with you
‘Cause
if one day you wake up and find that you’re missing him
And your
heart starts to wonder where on this earth he could be
Thinking
maybe you’ll come back here to the place that you’d meet
And you’d
see him waiting for you on the corner of the street
So he’s
not moving
He’s
not moving
Policeman
says ”son you can’t stay here”
He said
“there’s someone I’m waiting for if it’s a day, a month, a year”
Gotta
stand his ground even if it rains or snows
If she
changes her mind this is the first place she will go
‘Cause
if one day you wake up and find that you’re missing him
And your
heart starts to wonder where on this earth he could be
Thinking
maybe you’ll come back here to the place that you’d meet
And you’d
see him waiting for you on the corner of the street
So he’s
not moving
He’s
not moving
He’s
not moving
He’s
not moving
People
talk about the guy
Who’s
waiting on a girl
There
are no holes in his shoes
But a
big hole in his world
Maybe
he’ll get famous as the man who can’t be moved
And maybe
you won’t mean to but you’ll see him on the news
And you’ll
come running to the corner
‘Cause
you’ll know it’s just for you
He’s
the man who can’t be moved
He’s
the man who can’t be moved
‘Cause
if one day you wake up and find that you’re missing him
And your
heart starts to wonder where on this earth he could be
Thinking
maybe you’ll come back here to the place that you’d meet
And you’d
see him waiting for you on the corner of the street
So he’s
not moving
( ‘Cause
if one day you wake up and find that you’re missing him)
He’s
not moving
(And your
heart starts to wonder where on this earth he could be)
He’s
not moving
(Thinking
maybe you’ll come back here to the place that you’d meet)
He’s
not moving
(And you’d
see him waiting for you on the corner of the street)
Going
back to the corner where he first saw you
Gonna
camp in his sleeping bag, he’se not gonna move...
&langit-langit
bagi hamparan angin&
-senja-
September 09, 2012
Awalnya kukira..
Awalnya kukira..
OPK hanyalah sebuah rangkaian kecil kegiatan ospek fakultas dalam jangka waktu
tertentu dan langsung habis, tiada berbekas. Kemudian sibuk dengan kuliah dan
kesibukan masing-masing, tanpa menyisakan perasaan lain: kekerabatan. Ya,
masing-masing. Nyatanya...
Dipertemukan dengan
makhluk-makhluk asing dengan berbagai kepribadian dalam kelompok 25; SUBROTO. Ah,
mungkin mereka beranggapan sama denganku. Kelompok ini hanya sementara, kemudian
kami menjalani hari-hari dan kesibukan kuliah bersama teman yang sudah dikenal
lama saja. Oke, mari menjalani ‘penyiksaan’ ini seadanya. Segera berakhir. Dan...
sudah!
Hari-hari pertama;
hanya perkenalan dan fokus pada tugas. Hanya itu.
Selebihnya..?
Detik demi detik
habis begitu saja. Terjalin dan terangkum dalam memori kesibukan bersama SBT 25;
makhluk asing nan abstrak yang entah.. tak pernah terbayangkan sebelumnya
bertemu dengan mereka. Ditambah mentor-mentor kece yang sebelumnya hanya satu, yang membuatku sedikit tidak
nyaman dengan pertanyaan “Kenapa harus cowok?” Seperti hanya mendapatkan
sebelah orang tua. Hanya papa, mamanya pergi. Haha
Ternyata benar kata
ka Rafi.
Setiap hari, mau
tidak mau pasti bertemu dan bersama SBT larut dalam kesibukan. Pertemuan yang
intens ternyata sedikit demi sedikit meruntuhkan pertahanan kami. Pertahanan sikap.
Satu demi satu mulai terlihat sifat dan sikap aslinya.
Putri
permata sari. Satu-satunya yang kuingat namanya karena saat perkenalan dia
tepat disebelah kiri. Dan yang pertama kali aku tahu nomor handphonenya.
Hutomo
Danu. Ketua kelompok yang ketika berbicara akan selalu menampakkan aura jawanya, padahal berasal dari SMA di Depok. Danu adalah satu-satunya yang selalu mencari sensasi. Tak pelak julukan "Sensasional BangeT" kemi lekatkan pada dirinya.
Josephine Pinta Ruth Nevelyn Silitonga. Gadis cantik proporsional yang sangat aneh. Sekilas mungkin kalian akan berpendapat bahwa ia adalah anak yang manis dan tenang. Nyatanya, tidak! Cuma dia yang tiba-tiba histeris sendiri disaat kita sibuk atau bahkan diam. Cuma dia yang monolog sambil jalan dalam keadaan sadar, padahal yang lain sedang berbincang dengan ka faby menuju Departemen Akuntansi. Dan, cuma dia yang feelingnya sempurna tentang asisten dosen keren yang saat itu sedang berjalan di batang tegah gedung A. Entah asal bicara, entah sungguhan, Nev berharap dia menjadi salah satu asdos SBT 25. Dan..... yak! Benar. Kakak jernih itu menjadi asdos matekbis kelas kami. Bisa dibayangkan, Nev akan lebih sering mendadak kejang memandangi asdos kami itu. Bahkan, masih teringat kalimat Nev yang membuat tawa kami pecah ketika melihat tingkahnya memandangi tiap langkah asdos matekbis, "Ya kalau dia lihat biar saja, kalau dia nggak liat ya nikmati saja.." Aduh, Nev...
Josephine Pinta Ruth Nevelyn Silitonga. Gadis cantik proporsional yang sangat aneh. Sekilas mungkin kalian akan berpendapat bahwa ia adalah anak yang manis dan tenang. Nyatanya, tidak! Cuma dia yang tiba-tiba histeris sendiri disaat kita sibuk atau bahkan diam. Cuma dia yang monolog sambil jalan dalam keadaan sadar, padahal yang lain sedang berbincang dengan ka faby menuju Departemen Akuntansi. Dan, cuma dia yang feelingnya sempurna tentang asisten dosen keren yang saat itu sedang berjalan di batang tegah gedung A. Entah asal bicara, entah sungguhan, Nev berharap dia menjadi salah satu asdos SBT 25. Dan..... yak! Benar. Kakak jernih itu menjadi asdos matekbis kelas kami. Bisa dibayangkan, Nev akan lebih sering mendadak kejang memandangi asdos kami itu. Bahkan, masih teringat kalimat Nev yang membuat tawa kami pecah ketika melihat tingkahnya memandangi tiap langkah asdos matekbis, "Ya kalau dia lihat biar saja, kalau dia nggak liat ya nikmati saja.." Aduh, Nev...
Ani
Utami. Cowok tapi cewek. Komdis OPK FEUI 2013.
Utari
Indriani. Sabar-Berjilbab-TERBULLY. Sekian.
Selvi
Nur Yuliani. Tinggi dan kalem. Sepertinya gadis ini tidak terlalu banyak tingkah.
Nabilah
Aqila. Cewek semarang, tapi bukan asli semarang. Anehnya, dia sangat fasih berbahasa jawa dengan dialek-dialek khasnya. Bikin iri setengah mati kalau dia berbahasa jawa L
Fatimah
Shafiyyah. Mahasiswi manajemen yang juga calon wanita sholehah, begitu kalimat canda kami.
Rangga
Yodi. Apa ya? gebetannya dio, mungkin :p
Dio
Alif P. Jangan bingung dek!! Hahaha. Kasihan Dio dibilang bingung terus. Sebenernya
sih ekspresi wajahnya biasa aja, nggak lagi bingung, tapi SBT menyimpulkan Dio
adalah ter-bingung 2012.
Mamduch.
Paling alim di SBT. Jadi jengkel kalau udah repot-repot nyapa dia, tapi cuma
dibalas senyum yang sangatsangat simpel. Tanpa basa-basi lain._.
Atika
Rachmawati. Cewek KKI yang kecengannya bikin mupeng. Haha *abaikan
Pur.
(lupa nama aslinya nih-_-) Cowok KKI yang berusaha kita jodohkan sama atika. Tapi
sepertinya tak mungkin.
Auryn.
Aduuuh gadis ini imut banget. Kesannya apa yah?
Dimas.
Cuma mau ngajak berdoa sama-sama buat kesembuhan Dimas, supaya dia bisa turut
merasakan betapa ‘gila’nya SBT.
Yudhistira.
Satu-satunya cowok SBT yang penampilannya paling lumayan dari yang lain :p tapi
ternyataaaaaa... yudhis itu abstrak banget. Pertahanan jaim nya sudah sangat
runtuh kalau bareng SBT.
Ah! Makhluk-makhluk
abstrak ini..
Hari ini, klimaks
komdis di pasca OPK. Bener-bener terharu. Terlebih waktu Yudhis bilang dia
nggak akan pindah dan seakan menunda Jermannya. Hmpfh.. tergetar loh. Bersyukur
banget dipertemukan dengan SBT 25. Sampai akhirnya air mata luruh tak terbendung
lagi.
Ditambah waktu
lihat dua orang mentor kece yang sudah sangat seperti pasangan papa-mama bagi
SBT. Oase ditengah gurun pasir; komdis. Dua orang yang harus selalu siaga
menanggapi ketidaknormalan SBT. Daaaan mereka adalaaah.. Abdillah Rafi &
Amalia Malfira. Maaf ya kak, kalian kita ceburin ke kolam makara :P
Kalau komdis ada
dihati FEUI 2012. Kalian ada di hati kita, SBT 25.
SBT 25..
SOLID. BERKARYA.
TANGGUH. Yiiihaaa~
&langi-langit
bagi hamparan angin&
Minggu, 09
September 2012
22.10 WIB
Agustus 14, 2012
What I like and dislike from myself...
I am Nita Larasati. I’m a little girl who is
growing up into adulthood. All of the inconsistency of myself gradually erased
and replaced with a logical and critical thinking. Here I tried to know myself
more deeply.
Characteristically, I was a girl who loved the
blue colour. Blue, symbolizes calmness and tenderness. It is like the nature of
me that always tried to stay calm under all the circumstances in order to think
clearly. In life, the blue colour was identified with the blue sky, blue light
and no rain. Although sometimes grayish, but in the top of gray clouds are still
blue. The positive side of a person who likes the blue colour is having good
sense of confidence. But unfortunately, she has an over suspicious nature and tends
to be melancholy.
One thing I liked best about myself is when I
have particular desires, then I will work hard to achieve it. As much as
possible through my own, without burdening others. And it will be the pride
that I will always remember. For instance, three years ago when I started feel
the importance of the role of computers in supporting learning activities in
school, I was willing spent my savings. Whereas, the savings comes from the
persistence of me in set my pocket money aside each day for several years.
Since I was a child, I was accustomed to fulfill my others desire by myself. It
has been attached to myself because I have realized that it was my personal
wishes beyond the primary needs such as education.
From the persistence of my determination, I
became accustomed to independence. In any interaction I am able to implement
it. Through self-reliance, I am able to work well in groups. I can be a guide
in the group, took over division of duties and roles, also representing the
other group members in delivering information outside the group.
Personally, I liked to keeping busy. And so, I
like to be a member of any organization, which is I need to. In my opinion,
through the activity or organization, we can find a lot of new things that does
not necessarily we get only in formal education or family environments. Many rare and
valuable opportunities exactly came from the organization. For example, I could
feel the euphoria of governor bike parade or speaks on ceremony stage, because
of my position in organization. All of the occasion made me
learn actively. That is, direct experience, not just theory.
Blue; serenity and gentleness. Persistence of
determination. Independence. The flurry of organizing. All this has provided
many benefits inside me. Either directly or indirectly. I started dare to speak
in front of crowds is one example of the impact.
From the many of my nature, I do not like
myself who are too closed. I tend to be more difficult to be familiar with new
people I met in the free environment. However, it was not when we are engaged
in a particular group. I often do not feel comfortable with new people who I
know. I'm too picky. All because I find it hard to fit with new people,
especially those with different lifestyles and thoughts. All because I always
judge them from the first impressions. I felt this feeling since I was aware of
the balance inherent in the interaction, which requires reciprocity.
Second, I would rather work alone than work in
groups. Although I can work well in groups, it does not mean I like it. I was
more comfortable working alone, because everything does not need to rely on
others. I can set it up whenever I want. Then, I can also work according to
plan the flow of my own creativity without having to involve the complex ideas
of others. This attitude made me become more critical in choosing the
members of the group, where I feel comfort at work. Work itself is not bad, but
there are times that we do have to interact with others in the group. Moreover,
the new things that require information as possible.
Then, in the work, I prefer to complete the
job quickly and precisely, and tried to do perfectly. Whereas, I have realized
that in this world nothing is perfect. This selfishness brings me to
nothingness. Because, I often act surreptitiously in doing my jobs. It is in
order to no one knows when I'm done. I do not expect other people see my task.
And others do not need to know that my task has been completed. Actually, my
initial goal is to ensure that others do their task themselves. However, this
attitude makes me isolated. Some people think I'm stingy. Perhaps, I should be
able to put the time to share and when to apply these principles.
Too closed, self-employed, and selfish. The
three thing I dislike about myself have given some negative impact on me. If
allowed to continue, maybe I will not be able to develop better. Therefore, I
want to change those three attitudes to be open, working in groups in a
professional manner, and be rational. Not as easy as turning the palm of the
hand, all it requires a process. And the process would take time. I gradually began
to improve towards the better. For the sake of self-advancement.
In conclusion, I am is what I think. The power
of mind is so enormous. So, never think of things beyond the limits of human
ability. Make sure all the good stuff, so we really become a good human being
too.
Agustus 2012
&langit-langit bagi hamparan angin&
Juli 25, 2012
Ketika Kagum Menghangatkanku
Jum’at.
Ketika itu, mentari masih menghangatkan tubuhku.
Awan-awan lembut dilangit mengiringi langkahku. Rambutku yang sengaja digerai
tertiup lembut oleh semilir angin yang menyusup melalui jendela kelas yang baru
saja kubuka. Kesejukan menghampiriku melalui pori-pori angan yang
mengelilingiku. Hayalku melayang menuju saat bahagia itu, ketika sesosok
manusia sangat biasa menyita separuh dari kekagumanku.
Sepintas tak ada sedikitpun hal yang membanggakan.
Parasnya yang biasa dan pribadinya yang tak jauh berbeda dengan kebanyakan
remaja seusianya semakin menguatkan bahwa tak ada kekaguman untuknya. Namun
tidak bagiku. Kepribadiannya sebagai anak asrama menyilaukan pandanganku.
Kesehariannya beberapa minggu setelah perkenalan kami memupuk rasa kagum dalam
hatiku. Betapa tidak? Rasa malasnya menyebabkan ia selalu jujur terhadap segala
kesibukannya. Dan entah mengapa, aku selalu ingin menjadi bagian dari
kemalasannya dengan selalu menjadi pengingat berjalan baginya.
Pernah aku bertanya padanya, perihal kebiasaannya
tidur ketika guru menjelaskan di depan kelas, berujung pada keluhnya padaku.
“Haduh iya nih, gue selalu kekurangan waktu buat tidur. Bayangin aja, setiap
hari sekolah pulang sore bahkan ngga jarang malem. Mulai dari maghrib sampai
malem, harus ikut jadwal kajian asrama dan lain sebagainya. Setelah itu,
ngerjain tugas sekolah sampai larut malem, bahkan sering ngga selesai karena
udah kecapean. Bukan cuma itu, pagi-pagi buta udah dibangunin lagi buat
tahajjud dan tadarus Al-Qur’an. Waah. Menyita tenaga banget, tapi sangat
menyenangkan.” Tanggapanku kala itu hanya, “hmm.. oh gitu, pantes...”
“Hayoo, Ifa lagi mikirin apa?” tiba-tiba sosok
Huwaida Azzahra memutus lamunanku dari alam yang entah ada dimana.
“Eh, Zahra. Baru dateng? Tumben agak siang, biasanya
kamu duluan daripada aku.”
“Iya, tadi umi nganterin Alfi dulu. Oh iya, nanti
kamu sama Riani jadi ke rumah aku?”
“Iya, jadi kok.”
“Oke deh, aku udah bilang umi kalau kalian mau main
ke rumah,” senyumnya mengembang, “tadi lagi mikirin apa hayo? Kok pandangannya
ke arah Fakhri terus sih?”
“Hah? Masa? Enggak kok.” Jawabku agak gugup.
“Kamu suka ya sama Fakhri?”
“Enggak kok. Kamu ada-ada aja sih. Udah ah, nggak
usah dibahas lagi.” Aku berusaha menutupi apa yang baru saja aku lakukan.
őőő
“Assalamu’alaikum, umi...”
“Wa’alaikumsalam...”
“Umi, ini ada temen-temen Zahra, Riani dan Ifa.”
“Sore, tante.” Sapaku dan Riani bersamaan.
“Sore. Ayo kalian langsung ke atas ya, ke kamar
Zahra aja. Satu lagi, jangan panggil tante ya, panggilnya umi aja, kalian kan
temannya Zahra.”
“Iya.... umi...” ucap kami masih agak canggung,
kemudian beranjak menuju kamar Zahra di lantai atas.
Hatiku sungguh damai berada di lingkungan keluarga
Zahra. Begitu islami. Aroma Al-Qur’an tercium begitu kuat dari sini. Membuatku
iri. Astaghfirullah...
Sepanjang sore itu, kami bertiga bersantai di kamar
Zahra yang penuh nuansa hijau. Batinku merasa bercahaya disini. Seakan ada
butiran salju yang menentramkan jiwa. Entah apa itu.
Terlebih ketika Zahra akan mengantar kami pulang. Ia
bercermin mengenakan jilbab. Mataku tak beralih dari memandangi gerak-geriknya.
Sebuah ketertarikan luar biasa. Bahkan, aku sampai meminta Zahra mengajariku
mengenakan jilbab dengan rapi.
őőő
Malam harinya, aku terus mematut diri di depan
cermin. Baying-bayang sosok Fakhri, Zahra, dan Bu Devi, wali kelas yang begitu
akrab denganku, seolah menari-nari bekeliling di sepanjang lintasan pigura
cermin. Tanpa kusadari, mataku terus meniti wajah dan rambutku di cermin. Mulai
dari gurat wajah sampai tekstur rambut.
Tiba-tiba tanganku tergerak mengambil ponsel dari
atas meja belajar. Mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Zahra.
Ifa : Zahra,
Zahra : Iya, ada apa fa?
Ifa : Mau Tanya...
Zahra : Tanya apa?
Ifa : Kamu pakai jilbab sejak kapan?
Zahra : Aku sejak kecil, kenapa?
Ifa : Gimana rasanya berjilbab?
Zahra : Hmm... nyaman loh pakai jilbab. Kok tiba-tiba tanya
ini?
Ifa : Hehe ngga apa-apa kok. Makasih ya.
Aku masih mematut diri di depan cermin. Muncul
sesosok bayangan. Namun kali ini haya ada satu bayangan, hanya bayangan Fakhri,
Muhammad Amam Fakhri. Seorang laki-laki yang selama ini menyita kekagumanku.
Sosok panutan yang begitu kental dengan aroma keislaman yang selama ini aku
rindukan.
őőő
Senin, disekolah.
Langkahku terayun menapaki tiap-tiap anak tangga.
Suasana masih sepi, tapi aku merasakan telah ada sesosok yang menantiku. Aku
meneruskan langkah hingga mencapai kelas. Ketika tiba pada daun pintu, sosok
Fakhri tiba-tiba menatap ke arahku dengan pandangan yang agak berbeda. “Ifa...”
ucapnya reflesk.
Aku mengabaikannya, hanya membalas senyum sepintas.
Ia mengambil posisi mendekat. Wajahnya agak sedikit bercahaya, “kamu pakai
jilbab?” tanyanya ramah.
Aku hanya mengangguk tersenyum. Merasakan bait-bait
ketenangan mulai menyusup diantara rongga-rongga batinku. Perkenalanku dengan
Fakhri dan Zahra membawaku semakin hangat dengan Penciptaku. Satu hal yang sangat aku
dambakan.
Sabtu, 19 November 2011
&langit-langit bagi hamparan angin&
Februari 29, 2012
sahabat baruku sudah ada yang memiliki
Baru dua hari yang
lalu aku mendengar setia cerita galaumu, memberikan nasehat terbaik yang
melintas. Menangkap sinar matamu yang penuh harap bahwa aku akan memberi secercah
cahaya atas gundah yang kau derita. Tapi, tadi pagi-pagi sekali, aku telah
mendapati kabar kau telah kembali. Ya.. kembali pada kasihmu yang lalu. Rupanya
gundahmu telah berakhir. Apakah kalimatku menyiratkan kesimpulan yang mampu kau
baca? Mungkin.
Aku turut bahagia,
sahabat. Tapi... Entah mengapa aku merasa kehilangan. Yang ada dalam pikiranku
hanya satu kesimpulan bahwa kau takkan pernah lagi membutuhkanku untuk sekedar
menggali tentang sedikit perasaan dari sudut pandang perempuan. Mungkin kau tak
lagi mengenaliku sebagai satu titik yang kau butuhkan sebagai pelampiasan
ceritamu. Bahkan, mungkin aku harus membangun tembok kokoh untuk membatasi
kita. Dan aku harus terbebani rasa menjaga perasaan kekasihmu.
Baru satu hari kau
kembali padanya, aku sudah kehilangan banyak waktu untuk menggali perasaan
seorang laki-laki darimu, sahabat. Padahal, kedekatan kitapun baru saja
terjalin. Aku nyaman berkeluh kesah tentang kasihku disisimu. Kaupun begitu,
bukan?
Aku kehilanganmu,
sahabat.
Perlu kau tau, aku
butuh lebih banyak waktu untuk meretas cerita gundah dan pendapatmu!
10:44 WIB
Rabu, 29 Februari
2012
∞langit-langit bagi hamparan angin∞
Februari 04, 2012
surat untuk sahabat
Untuk sahabat yang melupakanku..
Sahabat, ingatkah kau ketika di hari bahagiamu aku hadir ditengah suasana asing yang baru kukenal? Dan apakah kau tahu yang sungguhnya kurasakan?
Sahabat, ingatkah kau ketika di hari bahagiamu aku hadir ditengah suasana asing yang baru kukenal? Dan apakah kau tahu yang sungguhnya kurasakan?
Hatiku bergejolak. Kau tahu kenapa? Karena
aku merasa sangat tidak nyaman berada pada lingkaran samar berwarna abu-abu
yang menamakan dirinya sebagai ‘sahabat’. Ya.. ‘sahabat’ barumu, bukan
sahabatku. Bahkan, bukan pula teman yang mengenalku. Mereka hanya sekedar ‘tahu’
aku.
Awalnya, nurani ini ingin menolak
ajakan mereka. Namun, tak sanggup lidahku berkata ‘tidak’. Karena kau
sahabatku. Seorang yang sebagian hatinya telah disisipkan namaku. Meskipun hanya
sebagai sebatas tempat sampah ketika duka mendera. Tapi senyummu telah tergores
indah dalam memoriku selama dua tahun kebersamaan raga kita. Tidak mudah
untukku menghapusnya begitu saja, sebab yang telah tergores akan selamanya
membekas. Itulah yang kuharapkan dari kebersamaan kita dahulu, meskipun telah
tiga tahun raga kita tak lagi selalu berdampingan. Tapi aku selalu merasakan
hadirmu dalam jiwa ini. Entahlah dengan dirimu…
Sahabat,
Sekalipun raga dan batinku hadir
memeluk hari bahagiamu, agaknya jiwamu tak merengkuhnya. Tanpa kau sadari, kau
sudah mengecewakanku dengan sikap acuhmu yang kau balut dengan sutera. Tapi perlu
kau tahu, seindah dan selembut apapun kau berusaha menutupinya, pikiranku
selalu mampu menembus dan membaca yang tak tersurat.
Hari itu kau begitu asik dengan ‘sahabat-sahabatmu’.
Hingga tak ada kisah baru yang biasa kau tumpahkan setiap hadirku singgah. Bahkan,
obrolan tak penting pun tak juga menghampiriku dari bibirmu yang mungil itu.
Sungguh hatiku sepi. Padahal itu
hari bahagiamu.
Harusnya kau ingat; siapa yang hadir
waktu kau kabari kau sedang sedih? Siapa yang dengar ceritamu ketika ‘sahabat’
barumu menusuk dari belakang? Siapa yang berikan semangat ketika pacar yang
sekaligus sahabatmu itu mendua? Siapa yang relakan bahunya tuk jadi sandaran
ketika kau menangis? Siapa yang selalu tahu keadaanmu sekalipun tak sedang
bersama? Siapa yang selalu rela mengorbankan waktunya hanya untuk mendengar
lukamu? Dan... siapa yang selalu mengingatmu?
Itu aku!
Bahkan, ketika kau selalu lupa kapan
aku ulang tahun, aku selalu ingat dan memberimu hadiah terindah buatanku
sendiri.
Sadarkah kau betapa pilunya aku
mengingat semua kenangan manis kita disaat kau tak pernah menyadarinya?!
Mungkin, sekarang raga kita tak
pernah lagi bersama. Hanya sesekali saja. Dan kaupun telah menemukan banyak
sahabatmu yang baru. Akupun tak berhak egois mengharap kau selalu menumpahkan
kisahmu padaku. Tapi aku selalu bahagia saat kau bersedia membagi kisahmu
dengan dunia barumu padaku. Hatiku terbuka lebar menerima tumpah ruah gejolak
suka-dukamu.
Aku berharap, meski kau tak pernah
lagi memintaku tiba-tiba datang kerumahmu hanya untuk mendengar tangismu,
jiwamu masih mengingatku. Menempatkannya pada posisi yang sama ketika kita
masih bersama. Sebab senyummu masih tergores indah dalam relung iniJ
#Langit-langit bagi hamparan angin#
Langganan:
Postingan (Atom)