...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Maret 09, 2014

Sebuah tulisan tanpa judul

Untukmu, sebuah tulisan tanpa judul ini aku tuliskan. Entah apa yang ingin diutarakan. Hanya saja ingin ini lebih dari apapun. Harusnya kau tahu apa yang ingin aku sampaikan. Semoga, ya.
Sekian.

Maret 07, 2014

Cit, aku sedih kalau kamu berubah nggak jadi lebih baik karena aku. Kadang aku berpikir untuk lebih baik kamu nggak kenal aku daripada dengan kenal aku justru nggak bikin kamu jadi lebih baik, bahkan banyak anggapan (pasti) justru kamu berubah nggak jadi diri kamu sendiri seperti yang dulu. Aku sedih, Cit :"(

Maret 05, 2014

Yang kurasakan-hendak kukatakan

Pagi beranjak pergi
Siang berniat hilang

Menangis lagi. Bukan, bukan karena tidak terima terhadap apa yang dikatakan tentangku. Justru karena aku sangat menerima. Bahkan, lebih dari itu. Memunculkan banyak ketakutanku, seperti apa yang diutarakannya. Aku hanya hidup dan menjalani kehidupan ini mengalir begitu saja selayaknya unsur kehidupan yang menyapaku. Aku tak pernah berekspektasi apa-apa. Sungguh. Maka hadirnya kisah ini hanya mampu aku jalankan sesuai apa yang seharusnya aku laksanakan. Kemudian, terhadap cerita belakangan yang terlanjur terjadi? Aku memilih untuk berdiri, tak memilih untuk dipilih. Namun semuanya berjalan begitu saja. Aku yakin, akan apa yang terjadi belakangan ini akan ada hikmahnya. Pasti. Maka aku tak pernah meragukan-menyedihkan sebagian kisah hidup ini. Dan aku tak pernah menyalahkan apa yang terlanjur terjadi hingga saat ini. Kembali pada ketakutanku. Ketakutan seperti apa? Sungguhnya aku ragu. Ya, kukatakan ragu. Sudah kubilang bahwa aku menjalani hidup ini mengalir selayaknya hidup yang menyodorkan kisah kearahku. (Meski sayangnya, orang lain selalu salah mengartikannya, hingga berujung pada judge tertentu terhadapku). Maka kuterima, kujalani sepenuh hati. Sesimple itu, bukan? Sayangnya muncul kehadiran dan kisah yang (aku yakini) memang digariskan untuk hadir sebagai pembelajaran.
Kalau aku harus jabarkan ketakutan seperti apa, maka biarkan aku tarik napas sebentar...
...satu menit...
...dua menit...
...tiga menit...
...tiga puluh menit...
Maaf, ternyata aku belum mampu menjabarkannya saat ini juga. Kelak, ketika aku siap, maka akan kutorehkan dalam tinta. Pasti. Itu janjiku.

Maka sebelum menutup ini, kuucap dan kusampaikan salam kasih teruntuk kalian semua yang masih menganggapku ada melalui kritik dan pendapat versi kalian masing-masing. Ketakutanku tidak membutakan diriku terhadapnya. Yakin. Terima kasih.

Aku yang lemah tapi tegar :)
N.

Terima kasih, ya :)

Untuk kamu, yang dalam pandanganmu berkata bahwa akulah penyebab perubahan yang terjadi ini. Yang dalam pikiranmu terpatri bahwa akulah penyebab memburuknya perasaan mu karena perlakuan yang lainnya. Yang dalam otakmu tersusun tentara kebencian terhadapku. Oke, mungkin yang terakhir berlebihan. Tapi, maaf, setidaknya itu yang dapat diterjemahkan dari puluhan-bahkan-ratusan gerbong kata yang kau tuliskan. Terima kasih, ya. Sungguh, aku berterima kasih sebab kau menuliskannya. Hingga terbaca semua. Jelas semua. Terima kasih.
Terima kasih membuat aku semakin bingung harus mengekspresikan respon seperti apa. Tapi tenang saja, tak ada lagi kebencian terhadapmu. Aku semakin belajar untuk mengerti, bahwa memang kaulah yang pantas dimengerti. Maka aku tak lagi menuntut untuk dimengerti. Cukup aku yang berusaha mengerti melalui caraku sendiri. Mungkin kau yang membaca ini akan berpikiran bahwa 'terima kasih' ku adalah sebatas kalimat saja. Terserah. Aku tak peduli apapun pendapat itu. Yang jelas, senyum tulus di wajah dan hatiku ini membuktikannya, setidaknya sebagai bukti pada diriku sendiri. Aku sudah terbiasa dinilai buruk dimata orang lain. Sebab ia tak tahu aku. Tidak. Yang tahu diriku secara baik hanyalah diriku sendiri. Orang lain menilaiku sebatas apa yang mereka tangkap melalui sudut pandangnya sendiri, atau bahkan juga beberapa sudut pandang terdekatnya.
Kamu, terima kasih, ya. Semoga kita sama-sama belajar menjadi lebih baik: kamu&aku belajar menilai satu sama lain secara lebih objektif-bukan hanya dari sudut pandang yang diterima sendiri saja. Aamiin.
Senyum tulusku ini kupersembahkan padamu, yang katanya merasa tersakiti sebab kehadiranku :")

November 21, 2013

Saat Ku Diam.

Pernahkah suatu kali kau merasakan ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar?
Tak tahu datangnya dari mana. Dia muncul begitu saja dan terasa pergerakannya di dada, kemudian naik, menciptakan getar tertentu yang (sebetulnya) sakit, tapi kutahan. Itulah mengapa aku bisa tiba-tiba diam. Menarik napas panjang sesekali. Tapi sayang tidak sering membantu. Justru membuat dada semakin sesak. Rasanya semakin sakit. Iri. Mungkin. Ya.
pict. source: agustingoeslowku.blogspot.com

November 16, 2013

Mungkin.

Mungkin ku sudah mampu tersenyum. Mungkin ku sudah mampu memamerkan barisan cahaya yang tercipta dari raut wajah. Sayangnya aku masih belum mampu menerjemahkan apa yang ada didalamnya. Sebab tiada lagi hak untuk 'merasa perlu'. Sebab tiada otoritas untuk 'mengetahui' bahkan 'merasakan' banyak hal serupa sekalipun tak sama, karena memang takkan pernah bisa disamakan. Jelas berbeda sebab tiada apa-apanya.
Itulah sebab tiadanya kejujuran yang gamblang. Sebab tiadanya 'ingin' yang terungkap jelas. Dan hanya kode lah satu-satunya perantara. Meskipun tak bisa ku menuntut ada yang memahami anehnya.

16 November 2013
09:11 WIB