...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

Agustus 14, 2012

What I like and dislike from myself...


I am Nita Larasati. I’m a little girl who is growing up into adulthood. All of the inconsistency of myself gradually erased and replaced with a logical and critical thinking. Here I tried to know myself more deeply.
Characteristically, I was a girl who loved the blue colour. Blue, symbolizes calmness and tenderness. It is like the nature of me that always tried to stay calm under all the circumstances in order to think clearly. In life, the blue colour was identified with the blue sky, blue light and no rain. Although sometimes grayish, but in the top of gray clouds are still blue. The positive side of a person who likes the blue colour is having good sense of confidence. But unfortunately, she has an over suspicious nature and tends to be melancholy.
One thing I liked best about myself is when I have particular desires, then I will work hard to achieve it. As much as possible through my own, without burdening others. And it will be the pride that I will always remember. For instance, three years ago when I started feel the importance of the role of computers in supporting learning activities in school, I was willing spent my savings. Whereas, the savings comes from the persistence of me in set my pocket money aside each day for several years. Since I was a child, I was accustomed to fulfill my others desire by myself. It has been attached to myself because I have realized that it was my personal wishes beyond the primary needs such as education.
From the persistence of my determination, I became accustomed to independence. In any interaction I am able to implement it. Through self-reliance, I am able to work well in groups. I can be a guide in the group, took over division of duties and roles, also representing the other group members in delivering information outside the group.
Personally, I liked to keeping busy. And so, I like to be a member of any organization, which is I need to. In my opinion, through the activity or organization, we can find a lot of new things that does not necessarily we get only in formal education or family environments. Many rare and valuable opportunities exactly came from the organization. For example, I could feel the euphoria of governor bike parade or speaks on ceremony stage, because of my position in organization. All of the occasion made ​​me learn actively. That is, direct experience, not just theory.
Blue; serenity and gentleness. Persistence of determination. Independence. The flurry of organizing. All this has provided many benefits inside me. Either directly or indirectly. I started dare to speak in front of crowds is one example of the impact.
From the many of my nature, I do not like myself who are too closed. I tend to be more difficult to be familiar with new people I met in the free environment. However, it was not when we are engaged in a particular group. I often do not feel comfortable with new people who I know. I'm too picky. All because I find it hard to fit with new people, especially those with different lifestyles and thoughts. All because I always judge them from the first impressions. I felt this feeling since I was aware of the balance inherent in the interaction, which requires reciprocity.
Second, I would rather work alone than work in groups. Although I can work well in groups, it does not mean I like it. I was more comfortable working alone, because everything does not need to rely on others. I can set it up whenever I want. Then, I can also work according to plan the flow of my own creativity without having to involve the complex ideas of others. This attitude made ​​me become more critical in choosing the members of the group, where I feel comfort at work. Work itself is not bad, but there are times that we do have to interact with others in the group. Moreover, the new things that require information as possible.
Then, in the work, I prefer to complete the job quickly and precisely, and tried to do perfectly. Whereas, I have realized that in this world nothing is perfect. This selfishness brings me to nothingness. Because, I often act surreptitiously in doing my jobs. It is in order to no one knows when I'm done. I do not expect other people see my task. And others do not need to know that my task has been completed. Actually, my initial goal is to ensure that others do their task themselves. However, this attitude makes me isolated. Some people think I'm stingy. Perhaps, I should be able to put the time to share and when to apply these principles.
Too closed, self-employed, and selfish. The three thing I dislike about myself have given some negative impact on me. If allowed to continue, maybe I will not be able to develop better. Therefore, I want to change those three attitudes to be open, working in groups in a professional manner, and be rational. Not as easy as turning the palm of the hand, all it requires a process. And the process would take time. I gradually began to improve towards the better. For the sake of self-advancement.
In conclusion, I am is what I think. The power of mind is so enormous. So, never think of things beyond the limits of human ability. Make sure all the good stuff, so we really become a good human being too.

Agustus 2012
&langit-langit bagi hamparan angin&            

Juli 25, 2012

Ketika Kagum Menghangatkanku


Jum’at.
Ketika itu, mentari masih menghangatkan tubuhku. Awan-awan lembut dilangit mengiringi langkahku. Rambutku yang sengaja digerai tertiup lembut oleh semilir angin yang menyusup melalui jendela kelas yang baru saja kubuka. Kesejukan menghampiriku melalui pori-pori angan yang mengelilingiku. Hayalku melayang menuju saat bahagia itu, ketika sesosok manusia sangat biasa menyita separuh dari kekagumanku.
Sepintas tak ada sedikitpun hal yang membanggakan. Parasnya yang biasa dan pribadinya yang tak jauh berbeda dengan kebanyakan remaja seusianya semakin menguatkan bahwa tak ada kekaguman untuknya. Namun tidak bagiku. Kepribadiannya sebagai anak asrama menyilaukan pandanganku. Kesehariannya beberapa minggu setelah perkenalan kami memupuk rasa kagum dalam hatiku. Betapa tidak? Rasa malasnya menyebabkan ia selalu jujur terhadap segala kesibukannya. Dan entah mengapa, aku selalu ingin menjadi bagian dari kemalasannya dengan selalu menjadi pengingat berjalan baginya.
Pernah aku bertanya padanya, perihal kebiasaannya tidur ketika guru menjelaskan di depan kelas, berujung pada keluhnya padaku. “Haduh iya nih, gue selalu kekurangan waktu buat tidur. Bayangin aja, setiap hari sekolah pulang sore bahkan ngga jarang malem. Mulai dari maghrib sampai malem, harus ikut jadwal kajian asrama dan lain sebagainya. Setelah itu, ngerjain tugas sekolah sampai larut malem, bahkan sering ngga selesai karena udah kecapean. Bukan cuma itu, pagi-pagi buta udah dibangunin lagi buat tahajjud dan tadarus Al-Qur’an. Waah. Menyita tenaga banget, tapi sangat menyenangkan.” Tanggapanku kala itu hanya, “hmm.. oh gitu, pantes...”

“Hayoo, Ifa lagi mikirin apa?” tiba-tiba sosok Huwaida Azzahra memutus lamunanku dari alam yang entah ada dimana.
“Eh, Zahra. Baru dateng? Tumben agak siang, biasanya kamu duluan daripada aku.”
“Iya, tadi umi nganterin Alfi dulu. Oh iya, nanti kamu sama Riani jadi ke rumah aku?”
“Iya, jadi kok.”
“Oke deh, aku udah bilang umi kalau kalian mau main ke rumah,” senyumnya mengembang, “tadi lagi mikirin apa hayo? Kok pandangannya ke arah Fakhri terus sih?”
“Hah? Masa? Enggak kok.” Jawabku agak gugup.
“Kamu suka ya sama Fakhri?”
“Enggak kok. Kamu ada-ada aja sih. Udah ah, nggak usah dibahas lagi.” Aku berusaha menutupi apa yang baru saja aku lakukan.
őőő
“Assalamu’alaikum, umi...”
“Wa’alaikumsalam...”
“Umi, ini ada temen-temen Zahra, Riani dan Ifa.”
“Sore, tante.” Sapaku dan Riani bersamaan.
“Sore. Ayo kalian langsung ke atas ya, ke kamar Zahra aja. Satu lagi, jangan panggil tante ya, panggilnya umi aja, kalian kan temannya Zahra.”
“Iya.... umi...” ucap kami masih agak canggung, kemudian beranjak menuju kamar Zahra di lantai atas.
Hatiku sungguh damai berada di lingkungan keluarga Zahra. Begitu islami. Aroma Al-Qur’an tercium begitu kuat dari sini. Membuatku iri. Astaghfirullah...
Sepanjang sore itu, kami bertiga bersantai di kamar Zahra yang penuh nuansa hijau. Batinku merasa bercahaya disini. Seakan ada butiran salju yang menentramkan jiwa. Entah apa itu.
Terlebih ketika Zahra akan mengantar kami pulang. Ia bercermin mengenakan jilbab. Mataku tak beralih dari memandangi gerak-geriknya. Sebuah ketertarikan luar biasa. Bahkan, aku sampai meminta Zahra mengajariku mengenakan jilbab dengan rapi.
őőő
Malam harinya, aku terus mematut diri di depan cermin. Baying-bayang sosok Fakhri, Zahra, dan Bu Devi, wali kelas yang begitu akrab denganku, seolah menari-nari bekeliling di sepanjang lintasan pigura cermin. Tanpa kusadari, mataku terus meniti wajah dan rambutku di cermin. Mulai dari gurat wajah sampai tekstur rambut.
Tiba-tiba tanganku tergerak mengambil ponsel dari atas meja belajar. Mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Zahra.

Ifa    : Zahra,
Zahra  : Iya, ada apa fa?
Ifa    : Mau Tanya...
Zahra  : Tanya apa?
Ifa    : Kamu pakai jilbab sejak kapan?
Zahra  : Aku sejak kecil, kenapa?
Ifa    : Gimana rasanya berjilbab?
Zahra  : Hmm... nyaman loh pakai jilbab. Kok tiba-tiba tanya ini?
Ifa    : Hehe ngga apa-apa kok. Makasih ya.
Aku masih mematut diri di depan cermin. Muncul sesosok bayangan. Namun kali ini haya ada satu bayangan, hanya bayangan Fakhri, Muhammad Amam Fakhri. Seorang laki-laki yang selama ini menyita kekagumanku. Sosok panutan yang begitu kental dengan aroma keislaman yang selama ini aku rindukan.
őőő
Senin, disekolah.
Langkahku terayun menapaki tiap-tiap anak tangga. Suasana masih sepi, tapi aku merasakan telah ada sesosok yang menantiku. Aku meneruskan langkah hingga mencapai kelas. Ketika tiba pada daun pintu, sosok Fakhri tiba-tiba menatap ke arahku dengan pandangan yang agak berbeda. “Ifa...” ucapnya reflesk.
Aku mengabaikannya, hanya membalas senyum sepintas. Ia mengambil posisi mendekat. Wajahnya agak sedikit bercahaya, “kamu pakai jilbab?” tanyanya ramah.
Aku hanya mengangguk tersenyum. Merasakan bait-bait ketenangan mulai menyusup diantara rongga-rongga batinku. Perkenalanku dengan Fakhri dan Zahra membawaku semakin hangat dengan Penciptaku. Satu hal yang sangat aku dambakan.


Sabtu, 19 November 2011
&langit-langit bagi hamparan angin&


Februari 29, 2012

sahabat baruku sudah ada yang memiliki


Baru dua hari yang lalu aku mendengar setia cerita galaumu, memberikan nasehat terbaik yang melintas. Menangkap sinar matamu yang penuh harap bahwa aku akan memberi secercah cahaya atas gundah yang kau derita. Tapi, tadi pagi-pagi sekali, aku telah mendapati kabar kau telah kembali. Ya.. kembali pada kasihmu yang lalu. Rupanya gundahmu telah berakhir. Apakah kalimatku menyiratkan kesimpulan yang mampu kau baca? Mungkin.

Aku turut bahagia, sahabat. Tapi... Entah mengapa aku merasa kehilangan. Yang ada dalam pikiranku hanya satu kesimpulan bahwa kau takkan pernah lagi membutuhkanku untuk sekedar menggali tentang sedikit perasaan dari sudut pandang perempuan. Mungkin kau tak lagi mengenaliku sebagai satu titik yang kau butuhkan sebagai pelampiasan ceritamu. Bahkan, mungkin aku harus membangun tembok kokoh untuk membatasi kita. Dan aku harus terbebani rasa menjaga perasaan kekasihmu.

Baru satu hari kau kembali padanya, aku sudah kehilangan banyak waktu untuk menggali perasaan seorang laki-laki darimu, sahabat. Padahal, kedekatan kitapun baru saja terjalin. Aku nyaman berkeluh kesah tentang kasihku disisimu. Kaupun begitu, bukan?

Aku kehilanganmu, sahabat.

Perlu kau tau, aku butuh lebih banyak waktu untuk meretas cerita gundah dan pendapatmu!





10:44 WIB
Rabu, 29 Februari 2012
langit-langit bagi hamparan angin

Februari 10, 2012

if you're not prepared to be wrong, you'll never come up with anything original.

Februari 04, 2012

surat untuk sahabat


Untuk sahabat yang melupakanku..

Sahabat, ingatkah kau ketika di hari bahagiamu aku hadir ditengah suasana asing yang baru kukenal? Dan apakah kau tahu yang sungguhnya kurasakan?
Hatiku bergejolak. Kau tahu kenapa? Karena aku merasa sangat tidak nyaman berada pada lingkaran samar berwarna abu-abu yang menamakan dirinya sebagai ‘sahabat’. Ya.. ‘sahabat’ barumu, bukan sahabatku. Bahkan, bukan pula teman yang mengenalku. Mereka hanya sekedar ‘tahu’ aku.

Awalnya, nurani ini ingin menolak ajakan mereka. Namun, tak sanggup lidahku berkata ‘tidak’. Karena kau sahabatku. Seorang yang sebagian hatinya telah disisipkan namaku. Meskipun hanya sebagai sebatas tempat sampah ketika duka mendera. Tapi senyummu telah tergores indah dalam memoriku selama dua tahun kebersamaan raga kita. Tidak mudah untukku menghapusnya begitu saja, sebab yang telah tergores akan selamanya membekas. Itulah yang kuharapkan dari kebersamaan kita dahulu, meskipun telah tiga tahun raga kita tak lagi selalu berdampingan. Tapi aku selalu merasakan hadirmu dalam jiwa ini. Entahlah dengan dirimu…

Sahabat,
Sekalipun raga dan batinku hadir memeluk hari bahagiamu, agaknya jiwamu tak merengkuhnya. Tanpa kau sadari, kau sudah mengecewakanku dengan sikap acuhmu yang kau balut dengan sutera. Tapi perlu kau tahu, seindah dan selembut apapun kau berusaha menutupinya, pikiranku selalu mampu menembus dan membaca yang tak tersurat.

Hari itu kau begitu asik dengan ‘sahabat-sahabatmu’. Hingga tak ada kisah baru yang biasa kau tumpahkan setiap hadirku singgah. Bahkan, obrolan tak penting pun tak juga menghampiriku dari bibirmu yang mungil itu.

Sungguh hatiku sepi. Padahal itu hari bahagiamu.
Harusnya kau ingat; siapa yang hadir waktu kau kabari kau sedang sedih? Siapa yang dengar ceritamu ketika ‘sahabat’ barumu menusuk dari belakang? Siapa yang berikan semangat ketika pacar yang sekaligus sahabatmu itu mendua? Siapa yang relakan bahunya tuk jadi sandaran ketika kau menangis? Siapa yang selalu tahu keadaanmu sekalipun tak sedang bersama? Siapa yang selalu rela mengorbankan waktunya hanya untuk mendengar lukamu? Dan... siapa yang selalu mengingatmu?
Itu aku!
Bahkan, ketika kau selalu lupa kapan aku ulang tahun, aku selalu ingat dan memberimu hadiah terindah buatanku sendiri.
Sadarkah kau betapa pilunya aku mengingat semua kenangan manis kita disaat kau tak pernah menyadarinya?!

Mungkin, sekarang raga kita tak pernah lagi bersama. Hanya sesekali saja. Dan kaupun telah menemukan banyak sahabatmu yang baru. Akupun tak berhak egois mengharap kau selalu menumpahkan kisahmu padaku. Tapi aku selalu bahagia saat kau bersedia membagi kisahmu dengan dunia barumu padaku. Hatiku terbuka lebar menerima tumpah ruah gejolak suka-dukamu.
Aku berharap, meski kau tak pernah lagi memintaku tiba-tiba datang kerumahmu hanya untuk mendengar tangismu, jiwamu masih mengingatku. Menempatkannya pada posisi yang sama ketika kita masih bersama. Sebab senyummu masih tergores indah dalam relung iniJ

#Langit-langit bagi hamparan angin#

Januari 30, 2012

berharap itu...


berharap itu... tak lebih dari keberanian menghunuskan pedang dalam dada sendiri. menjatuhkan diri dari lantai dua puluh tujuh ke permukaan paku dimana telah banyak orang menunggu untuk mencela betapa bodohnya kamu!

17=padam!


Entah telah berapa kali aku termenung meratapi angka 17-ku yang padam. Ya... Padam! Tak sedikitpun cahaya singgah untuk menerangi. Mungkin aku terlalu banyak berharap. Sehingga sekejap mata semuanya musnah. Tiada berbekas.

Tak ada satupun yang kuterima di angka 17 ini._. meskipun aku memilikinya, mereka. Sekalipun pada hari mereka aku meluruhkan sedikit waktuku. Namun, kini nyatanya? Tak secuilpun balasan kuterima.

Ah! Mungkin aku terlalu jauh bermimpi mendapat ucapan darinya. Kue ulang tahun dengan lilin manis angka usiaku. Surprise pagi yang mengganggu lelapku. Atau kado sederhana pilihan mereka. Semuanya tak ada. Tak satupun kudapat.

Tuhan... engkau Maha Adil. Tapi mengapa kau kirim sepi di hari ku yang banyak orang nanti, terlebih juga aku. Dimana perhatian lebih sahabat-sahabatku kau simpan? Mereka tidak ada di hariku yang genap tujuh belas tahun. Mereka tidak muncul member moment indah seperti yang aku lakukan untuknya. Mereka hanya mengintip sebatas ucpan selamat ‘formalitas’. Inikah nasibku ya Tuhan...?!

Sungguh aku bersedih mengingat angka 17 ku. Bahkan, tak satu bendapun aku terima sebagai hadiah. Dari keluargaku sekalipun. Benar-benar tak satu hadiahpun kuterima. Menyedihkan ya?!! Kasihan! Dan... dia yang disisiku pun begitu. Tak sebutir pasirpun dipersembahkan. Entahlah... aku sampai bingung apa yang harus kukenang dari ulang tahun ke 17-ku, yang oleh banyak orang biasanya dinanti-nantikan.

Entahlah! Tangisku mengalir~

Januari 25, 2012

entah... (part 1)


Aku bagai titik putih yang dikelilingi jutaan butir titik hitam disekitarku. Tumpah ruah canda tawa diantara mereka. Euforia bahagia turut pula menyapa dan mengajakku turut serta. Ragaku mengangguk. Namun, hanya mengangguk. Tidak pada jiwaku. Nurani seakan terombang-ambing tidak berarah. Entah apa yang sedang singgah dalam pikiranku. Aku berusaha menggali... mencaro... hingga kutemukan sepetik arah yang ternyata menghantui satu bait batin ini. Aku gali kembali... aku mencari kembali... Kutemukan lagi sehelai cahaya luka yang selama ini menggoreskan bidang halus hati ini.