...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

November 21, 2013

Saat Ku Diam.

Pernahkah suatu kali kau merasakan ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar?
Tak tahu datangnya dari mana. Dia muncul begitu saja dan terasa pergerakannya di dada, kemudian naik, menciptakan getar tertentu yang (sebetulnya) sakit, tapi kutahan. Itulah mengapa aku bisa tiba-tiba diam. Menarik napas panjang sesekali. Tapi sayang tidak sering membantu. Justru membuat dada semakin sesak. Rasanya semakin sakit. Iri. Mungkin. Ya.
pict. source: agustingoeslowku.blogspot.com

November 16, 2013

Mungkin.

Mungkin ku sudah mampu tersenyum. Mungkin ku sudah mampu memamerkan barisan cahaya yang tercipta dari raut wajah. Sayangnya aku masih belum mampu menerjemahkan apa yang ada didalamnya. Sebab tiada lagi hak untuk 'merasa perlu'. Sebab tiada otoritas untuk 'mengetahui' bahkan 'merasakan' banyak hal serupa sekalipun tak sama, karena memang takkan pernah bisa disamakan. Jelas berbeda sebab tiada apa-apanya.
Itulah sebab tiadanya kejujuran yang gamblang. Sebab tiadanya 'ingin' yang terungkap jelas. Dan hanya kode lah satu-satunya perantara. Meskipun tak bisa ku menuntut ada yang memahami anehnya.

16 November 2013
09:11 WIB

Mei 09, 2013

Bicara Lewat Kata

Bukan aku malu mengucap kata. Hanya saja waktu yang belum mempersilakanku. Sekalipun detik semakin membuatku tersudut, keberanian waktu belum mencapai sempurna.

Kak, kau bilang, "ngomong, dong!" Kau menyuruhku bicara tanpa sekat pelafalan. Namun, berbanding semu dengan ekspresi. Aku hanya mendongakkan senyum samar. Bibirku mengucap "iya", tapi tidak dengan hatiku. Bukan sekadar malas ataupun belum ingin. Lebih dari sekadar itu. Aku bercinta dengan kata. "Aku, kan, bicara lewat tulisan," begitu jawabku selanjutnya. Kemudian senyum lagi.

Karena ketika waktu mempersilakan dengan anggunnya, aku akan mulai bicara lewat suara tanpa diperintah. Bukan lagi kata--yang sampai saat ini--selalu meneduhkan hatiku. Sekalipun goresan kata takkan pernah kutinggalkan.

Sejatinya, bicara lewat tulisan takkan pernah mati. Akan terus hidup bahkan sampai aku tidak pernah menulis lagi. Sebab menulis itu juga bicara, membicarakan apa yang didengar melalui tulisan. Juga membicarakanmu, yang mengingatkanku untuk bicara.



April 30, 2013

FE: Katanya, fakultas rumpun sosial?

Hari Bumi.
Hari Bumi, 22 April, merupakan peringatan tahunan yang diakui secara internasional oleh seluruh negara di belahan dunia.  “Hari Bumi” ini sendiri disebut-sebut sebagai harinya para pecinta lingkungan. Bagaimana tidak, puluhan tahun silam ketika pencanangan “Hari Bumi”, terjadi aksi turun ke jalan oleh sekitar 200 juta orang untuk mengkampanyekan perlindungan lingkungan hidup. Aksi besar-besaran ini diprakarsai oleh senator asal Amerika Serikat, Gaylord Nelson, yang merasa sangat sedih melihat perubahan kondisi bumi hingga saat itu. Dengan menggunakan kekuasaannya sebagai senator, ia melancarkan aksi-aksi protes secara nasional untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat luas terhadap kesehatan dan keberlangsungan lingkungan.

Isu dan aksi protes nasional yang dibawa oleh Nelson mendapat tanggapan positif dari kalangan bawah yang turut simpatik untuk mengecam para perusak bumi. Meskipun pada awalnya, gerakan Nelson ini tidak dengan mudah dibawa dalam agenda nasional. Namun pada akhirnya, setelah tujuh tahun gencar menyerukan isu lingkungan dengan cara-cara yang strategis, isu kepedulian terhadap lingkungan ini berhasil mencapai penetapan 22 April sebagai “Hari Bumi”.



Peringatan Hari Bumi masa kini.
Tahun 2013, dunia internasional kembali bersatu dalam upaya memperbaiki kondisi bumi. Berbagai jenis perayaan terjadi secara serentak dalam memperingati hari yang peduli terhadap lingkungan ini. Mulai dari aksi menanam pohon, kampanye cinta lingkungan, aksi turun ke jalan, maupun penyadaran sistem 3R (reuse, reduce, dan recycle).

Begitupun dengan yang terjadi di Indonesia. Berbagai jenis kemeriahan melalui ide-ide menarik dari berbagai kalangan turut mewarnai Hari Bumi 22 April. Termasuk di lingkungan kampus yang menyandang nama negeri ini, dimana banyak ekspektasi masyarakat tumbuh dan mengharapkan perbaikan kualitas kehidupan pada berbagai aspek.

Di Fakultas Ekonomi, pada sebuah sudut lokasi tergambar kemeriahan Hari Bumi. Sebuah unit komunitas yang concern terhadap kegiatan sosial membuka ruang terbuka dalam rangka merayakan Hari Bumi. Konsep reuse ditangguhkan sebagai acara berupa pemanfaatan barang bekas yang akan dikreasikan menjadi barang baru yang lebih bermanfaat dan bernilai, diharapkan menjadi sarana yang dapat menarik minat mahasiswa untuk ikut serta. Namun sayangnya, konsep sosial tersebut tak selamanya mendapat respon sesuai harapan. Faktanya, sampai dengan detik-detik pelaksanaan acara, hanya segelintir mahasiswa saja yang datang dan benar-benar mengikuti rangkaian acara.

Fakultas Ekonomi. Katanya fakultas rumpun sosial? Kemudian, dimana letak kesadaran mahasiswanya terhadap aspek-aspek sosial kemasyarakatan? Bukankah kita ini hidup di lingkungan masyarakat yang notabene memerlukan kepekaan kita untuk mengembangkannya? Dan lingkungan merupakan unsur yang sangat luas. Bumi adalah salah satu diantaranya. Tetapi kenyatanya, yang terjadi saat ini tidak selaras dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Pelaksanaan kemeriahan Hari Bumi yang hanya terjadi satu kali setiap tahun saja tidak mendapat apresiasi seindah bumi mengapresiasi kehidupan manusia. Padahal, manusia hidup di dunia ini secara sempurna dengan segala macam kemudahan dan kedigdayaan. Tapi kenyataannya justru hal itulah yang merubah makna persepsi sosial tiap individu.


Sumber:

April 27, 2013

Otot Senyum

Otot senyum, bisakah kau behenti bekerja barang sejenak?
Aku sudah lelah tersenyum sepanjang hari ini.


Nyaman



Ternyata, beginilah perasaan nyaman itu. Berasal dari sumber yang kadang tak pasti, namun pengaruhnya terasa amat bermakna dan mungkin tak terlupakan.

Hei…
Lihat saya disini?
Lihat perasaan nyaman saya?
Andai nyaman ini bisa dirasakan sama-sama.
Andai, loh, ya..
Ya, andai.
Pasti semuanya akan lebih bermakna dan berharga. Apalagi ketika ditambah dengan kesadaran sosial kita yang saling melengkapi.

Aku…
Aku…
Aku pasti berbahagia, ketika menyadari pujangga sosial dapat melebur menciptakan satu makna. Makna yang takkan lekang oleh masa. Seperti kagum ini. Kagum yang tak kusadari darimana asalnya, namun yang pasti sudah terpaut hanya pada hatimu. Terima kasih.