...aku menari bersama senja diiringi nyanyian hujan yang membekukan... ..

☂☂☂

April 20, 2011

e m o s i h a r a p a n


Malam ini tatapanku terpaku dalam kosong

Hampa.

Sepercik kalimat kutemui dalam duka
Membuatku semakin perih
Menusuk hingga membuncah emosiku

Tak terasa air mataku mengalun
Berderai dalam balutan emosi tiada tentu

Kalimat itu menusukku
Jauh…
Sangat dalam
Menyadarkan bahwa ku tak memilikinya

Gamang.
Hatiku melayang tanpa angan
Terus berharap tiada lelah
Mendamba hadirnya dalam setiap asa
Merindu cerianya dalam duka
Ialah sahabat…

April 04, 2011

Waktu


Detik terus bergulir
Menit setia bersenandung

Hari selalu berganti
Bulan masih bernyanyi

Kemarin, hari ini, dan esok
Serangkai waktu yang tetap setia
Menghadirkan ceria
Memupuk bahagia

Aku masih berdiri
Belum beranjak
Masih setia menanti
Satu hal yang tak pernah pasti

Gemericik air hujan
Turun membasahi rambutku
Menyejukkan...
Menyegarkan...
Memberikan melodi indah kehidupan
Meyakinkanku untuk bergegas
Berlari melanjutkan hidup

April 03, 2011

euphoria SMART (science mix art) at PNJ


Jum'at 01 april 2011
Pulang sekolah selesai uts sebelum shalat jum'at gue ke pnj buat ngumpulin cerpen sekalian daftar. Sendirian. Ups maksudnya gue yg daftar sendiri tanpa tama, untung berhasil bujuk ridho supaya nganter gue. Alhasil, hari itu gue daftar. Sebenernya sih gue juga masih ragu mau ikut atau engga. Kenapa? Persyaratannya itu harus ada landasan filosofi nya. Nahh, disitulah gue bingung. Tapi disela kegiatan belajar buat uts, gue sukses nemuin landasan filosofi yang tepat buat cerpen berjudul "bersenandung bersama waktu" gue. Dan, gue berusaha meyakinkan diri gue buat ikut lomba itu. Semula sih ngga berharap jadi juara. Gue cuma 'ngarep' sertifikat nya aja. Lucu yah. Emang inilah gue.
Waktu daftar, ada kakak-kakak perempuan di sebelah kiri gue bilang gini, "wah kea.nya cerpennya menarik tuh". Gue sih senyum aja. Dalem hati mah biasa aja. Ngga berharap menang kok kak, kata gue.
-pulang-


Minggu 03 April 2011
Gue bingung mau dateng ke PNJ jam berapa. Kemaren sih kata kaka nya jam 3an aja ngga apa-apa. Nah, tadi kata tama jam4an penutupannya. Yaudah, gue kesana abis ashar.
Waktu gue lagi siap-siap, ada telepon masuk. Dari panitia SMART, katanya sih gue menang juara II. Ngga nyangka. Kaget. Gue disuruh dateng. Pas sampe, udah sepi, acara udah selesai. Jadi hadiahnya dikasih gue sepi-sepi an. Haha

Sebelum penyerahan piala dan sertifikat, gue keliling liat liat hasil mural. Bagus bagus deh. Sayang ya gue ngga dateng dari pagi. Ngga apa lah, yang penting gue sempet ngerasain euforia lomba cerpen. ini dia hasil hasilnya






Lomba cerpen ini adalah lomba cerpen pertama yang gue ikutin, dan hasilnya alhamdulillah memuaskan. Makasih semua :D


buat yang tertarik baca cerpennya, ada dibawah ini: jangan lupa kasih komentar ya. maklum baru belajar. kita saling share aja :)

Bersenandung Bersama Waktu

“Banguuun… banguuun…” sebuah teriakan berkumandang di telingaku.
Sambil mencoba membuka mata, aku berusaha bangun dan tersadar dari tidur lelapku. Sesaat kemudian setelah sadar dari mati suri-ku semalam, aku berusaha mengatakan sesuatu kepada adik manis yang duduk di bibir ranjangku. Namun aku tak kuasa mengeluarkan sepatah katapun, mungkin karena seluruh energiku belum terkumpul sempurna. Hanya seulas senyum yang kuberikan padanya. Mungkin itu adalah senyuman terindahku sepanjang hari ini dan beberapa hari kedepan. Sebab telah kupastikan, beberapa waktu yang akan datang aku hanya akan diselimuti bait-bait kesedihan.
“Mbak Diah, banguun… Udah jam sepuluh nih!” ucapnya lagi, masih dengan nada kalimat yang sama. Dengan cempreng suara yang sama pula. Juga dengan kebohongan yang sama. Ia selalu mengatakan hal yang serupa setiap kali membangunkanku. Padahal hari masih gelap, shubuh-pun belum memanggil.
“Iya, cantik. Udah bangun tauk!”
“Mana, kok masih merem sih matanya?”
“Ini udah melek, sayang!”
“Kalau gitu cepet bangun dong. Seragam aku kan belom disetrika. Tolong ya mbaaak.”
“Iya…iya.”
Akupun beranjak bangun dan bergegas melaksanakan permintaan Dinar, adikku yang baru duduk dikelas satu SD itu.

ö ö ö

Di ufuk timur, matahari mulai keluar dari peraduannya. Sesegera mungkin menyinari berbagai makhluk yang ada di bumu. Ia tak pilih kasih, sinarnya memancar bagi siapa saja yang memerlukan. Iapun tidak meminta imbalan, mungkin ia hanya mengharapkan seluruh makhluk di bumi menjaga kepercayaannya.
Sama seperti keberadaan seorang ibu yang senantiasa mengasihi dan menyayangi anak-anaknya sepanjang masa dan tiada pernah terkira. Tiada terhitung pula segala yang telah diberikannya. Sungguh luar biasa, aku menyadarinya sejak dulu dari hati kecilku yang paling dalam. Namun entah mengapa, untuk saat ini aku seperti dihujani butir-butir keraguan. Seakan-akan aku ragu dengan kenyataan yang semanis itu.
Besok, tanggal 25 Maret adalah hari bersejarah bagi keluarga besarku, khususnya untuk Mas Kis, begitu aku biasa memanggilnya.sebab, besok merupakan hari dimana ia di wisuda dari studi teknik sipilnya di sebuah Universitas di Solo. Itu merupakan sebuah kebanggan bagiku, tentu apabila aku bisa menghadiri acara tersebut tanpa terlewat sedetikpun. Bahkan begitu dekatnya kami, mungkin aku takkan beranjak dari tempat duduk, sekalipun untuk ke kamar kecil. Oleh sebab itu, sejak beberapa bulan lalu aku sangat menanti tibanya esok hari. Namun bila menyadari dimana aku saat ini berada, pupus sudah harapan terbesarku untuk dapat menghadiri acara wisudanya. Jarak dan waktu seolah-olah terbentang sangat jelas didepan mataku. Memang benar nyatanya, jarak Jakarta-Solo mustahil ditempuh dalam waktu kurang dari 12 jam menggunakan jalur darat. Ditambah lagi ketidakpastian dari kedua orang tuaku, kakak dari Mas Kis, untuk hadir atau tidak dalam gawe besar tersebut.
Kalau ditanya apa keinginanku saat ini, tentu aku akan langsung menjawab dengan nada yang tegas dan lantang, bahkan apabila berteriak adalah sopan maka aku akan berteriak untuk mengatakan bahwa aku sangat ingin menghadiri acara tersebut.
Seuntai musik merdu mengalun lembut dari ponselku. Menandakan bahwa sebuah pesan telah masuk. Membuyarkan lamunanku dari alam jauh di Solo sana.

Sender     :    Julechan
Received  :    06:27:24 am [24.Mar.2010]
Aslm. Pagi, peringkat empat! Nnti jd kann? Ktmuan di 21penvil yee jam 12. Bilangin yg laen jga dong tlg. Sblmnya sori maafmaaf nih klo smsnya bru bsa dibales. Cz bru dpet izin dr asrama. Ok sgtu aja, tq. Jangan lupa yee!

Dari Krishna, teman sekelas yang sedikit banyak telah memberikan perubahan yang berarti dalam hidupku. Termasuk perubahan jauh ke dalam lumbung perasaanku. Mungkin telah hadir benih-benih perasaan lain terhadapnya, namun aku selalu membatasi semua yang terjadi. Tapi tidak untuk urusan pelajaran. Seperti yang dilakukannya tadi, menanyakan kepastian kegiatan kelompok kami. Rencananya hari ini kami akan pergi ke tempat kumuh yang ia sarankan untuk memenuhi tugas liburan, tentunya disertai anggota kelompok yang lainnya (baca: bukan hanya berdua).
   
To : Julechan
Waslm. Pagi juga peringkat sepuluuuuuh! Pasti jadi dongs, kalo ga jadi taruhannya nilai nih. Sipp deh trserah kau saja. Ak hanya mengekor. Hoho. Yg lain udh tau smua kö. Yg pnting nnti jgn ngarett yaah.

Setelah menutup message dari Jule –begitu ia biasa disapa– dan membalasnya, tiba-tiba pikiranku bercabang menjadi dua. Antara pergi kerja kelompok atau kekeuh menuntut agar aku bisa menghadiri acara wisuda. Sungguh dua hal yang sama-sama aku yakini akan memberikan kebahagiaan. Karena pada keduanya penyemangatku berada. Namun, sangat mustahil untuk aku lakukan dalam waktu yang bersamaan. Apalagi, sampai saat ini kedua orangtua–ku belum memberikan kepastiannya.

ö ö ö

Pukul 11.00 WIB, Hari Rabu
“Assalamu’alaikum, aku berangkat dulu ya, ma!” ucapku seraya bergegas pergi.
“Kamu mau kemana? Nggak ikut pulang?” tanya mama
“Emang jadi?”
“Ya, nggak tau. Tanya bapak sana!”
“Kalo gitu aku kerja kelompok dulu!”
“Dimana? Jangan lama-lama ya.”
“Iya, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam” samar-samar terdengar jawaban salamku diucapkan oleh mama.
Setelah mencium tangan dan mengucapkan salam, aku berangkat dengan disertai berbagai perasaan. Satu sisi aku ingin tetap menyelesaikan tugas penelitian kelompok. Namun sisi yang lain aku juga ingin untuk menghadiri acara wisuda. Sementara apabila aku menghadiri acara wisuda tersebut, aku pasti tidak akan menyelesaikan tugas kelompok hari ini juga.
Meskipun diliputi berbagai perasan yang tak menentu, aku tetap melanjutkan perjalanan. Aku semakin tidak sabar untuk bertemu Meitha, seorang perempuan berambut panjang, lurus, dan hitam yang sejak bulan lalu menjadi tempat sampah semua cerita-ceritaku, untuk menceritakan perjalanan cerita yang membuat aku berperasaan tak menentu seperti saat ini. Aku juga berharap ia akan memberikan solusi yang setidaknya mampu membuatku sedikit lebih tenang.
“Udah lama nunggu, Ta?” tanyaku refleks ketika bertemu Meitha.
“Enggak kok. Baru aja sampe. Yaudah kita sekarang langsung berangkat aja ya. Naik apa?”
“Tuh angkotnya, naik yuk!” kataku sambil masuk ke dalam angkot, diikuti Meitha dibelakangku. “Ta, gue pengen cerita nih”
“Cerita apa??? Cerita aja.”
Aku mulai berbicara menyusun kata demi kata dan merangkainya untuk disampaikan ke Meitha. Tak satu katapun terlewat. Ia semakin paham. Sesaat kemudian ia mengutarakan apa yang terlintas dalam benaknya. Cukuplah untuk membuat aku sedikit lebih tenang. Meskipun sebenarnya masih ada hal-hal yang mengganjal dalam pikiranku.

ö ö ö

“Udah hampir satu jam nih kita bertiga nunggu disini. Yang lain mana lagi?” tanyaku pada Meitha dan Jule, “Jule, tolong tanyain yang lainnya dong. Lo kan banyak pulsa. Tolong ya.” ucapku gusar diselingi pernyataan canda.
“Iya, Jule! Diah lagi ada keperluan tuh.” Meitha menambahkan.
“Iya, bentar ya!” jawabnya singkat
Disaat Jule mencoba menghubungi anggota kelompok lainnya, ponselku berdering. Terpampang dilayar bahwa ada sebuah panggilan, dari rumah.
“Halo, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Kamu dimana? Pulang sekarang ya!” terdengar suara tegas bapak diseberang sana.
“Aku lagi kerja kelompok di daerah Pejaten. Emang kenapa?” jawabku singkat.
“Kamu nggak ikut pulang? Udah pokoknya kamu pulang kerumah sekarang ya. Kamu kan belum rapiin baju.”
“Tapi aku belum kerja kelompok. Aku kerja kelompok dulu deh ya, sebentar.”
“Yaudah, jangan lama-lama. Terus langsung pulang.”
“Iya”
Perasaanku lega. Perasaanku lebih tenang mendengar kalimat-kalimat bapak yang mengisyaratkan bahwa kami akan pulang ke kampung halaman. Itu sama saja artinya bahwa aku akan bertemu, bahkan menyaksikan peringatan detik–detik yang berarti sepanjang perjalanan hidup Mas Kis, om–ku tersayang, sejak tahun 1987 silam.
Beberapa menit kemudian, kami sekelompok telah berkumpul dan berjalan beramai-ramai menuju tempat penelitian. Teman-teman sekelompokku lainnya telah mengerti bahwa setelah ini aku memiliki keperluan mendesak lain. Merekapun menyetarakan waktu dan tidak berlama-lama.

Tiga puluh menit kemudian.
“Jule, Cuma ini aja kan? Berarti gue bisa pulang dong sekarang! Ya ya ya ...” ucapku setengah berharap.
“Iya, kita pulang sekarang ya.” Meitha menambahkan.
“Yaudah deh. Terus, ngerjain laporannya gimana?” tanyanya
“Gue yang ngerjain deh kalo sempet, sekalian minta bantuin sodara gue yang dikampung.”
“Hmm.. Boleh tuh.”
“Tapi kalau gue sms untuk nanya sesuatu yang berkaitan dengan laporan, harus bales ya!” pintaku tegas.
“Sipp.” jawab semuanya kompak.
“Oke, kalau gitu sekarang lo sebrangin gue ya. Jalannya terlalu ramai untuk ditaklukkan.” pintaku pada Jule.
“Bisa aja deh si anak bahasa. Tapi oke bos!” jawabnya bercanda. Aku memang terkadang dipanggil dengan sebutan seperti itu, tapi hanya oleh Jule. Mungkin karena faktor kalimat yang terucap dari bibir mungilku ini selalu tersusun rapi dan dikaitkan dengan EYD.
“Ta, lo ikut pulang nggak?” tanyaku pada Meitha yang berada kurang dari 500meter disebelah kananku.
“Iya, gue bareng lo.”
Hening.
Setelah berhasil menaklukan jalanan yang ramai dengan kendaraan, aku dan Meitha beranjak masuk ke salah satu angkot yang bertuliskan angka 11 dan berwarna merah. Julian dan kawan-kawan yang lain menyampaikan salam perpisahannya sambil bercanda, begitu pula dengan Putri yang sejak awal sibuk bersenda gurau dengan Rama.
Didalam angkot, pikiranku tak henti melayang ke rumah dan ke kampung. Gelisah apakah aku dapat pula menaklukan waktu untuk dapat menghadiri acara wisuda. Dihadapanku, Meitha nampak diam saja. Entah apa yang sedang dipikirkannya, aku tak pernah tahu. Dan sekarang ini bukanlah saat yang tepat untukku menebak apa yang dipikirkan Meitha. Yang aku pikirkan hanyalah masalah waktu.
ö ö ö

Pukul 17.03 WIB, Hari Rabu
“Mama, kok bis-nya belom berangkat sih?” seru Dinar–adikku–sambil merengek.
“Sabar, ya. Pak Sopirnya lagi makan dulu kali”
Saat ini, kami sekeluarga sedang berada dalam sebuah bus antar kota-antar provinsi yang namanya mungkin tidak harus disebutkan. Kami berempat hanya menunggu waktu kapan bus yang kami tumpangi ini akan berangkat. Sebab hanya satu hal yang kami pikirkan, bagaimana cara menjangkau jarak Jakarta-Semarang hanya sampai pukul 03.00 esok dini hari, sementara saat ini saja kami masih di lingkungan terminal Lebak Bulus.
Beberapa menit yang lalu, saudaraku yang berada di kampung memberikan kabar bahwa acara wisuda besok dimulai pukul 07.00, dan mereka akan menempuh jarak Pati-Solo sejak pukul 03.00. Sama saja halnya aku harus menaklukan jarak Jakarta-Pati selama 10jam jika ingin turut dalam acara wisuda, dan itu adalah MUSTAHIL!
Selama perjalanan, aku dan Dinar, hanya berdiam diri. Meskipun ia masih kecil, tapi ia dapat merasakan perasaan sayang yang begitu mendalam. Kami berdua sama inginnya untuk mengikuti prosesi wisuda saudara terdekat kami itu. Dan kami–pun sama-sama tahu bahwa hal itu takkan mungkin kami rasakan.

ö ö ö

Pukul 04.27 WIB, Hari Kamis
“Sekarang kita langsung pulang aja ya. Udah nggak mungkin kalau kita ke Solo.” ucap bapak sambil menenangkan kedua anaknya yang pastinya merasa sedih dan sangat ingin menghadiri acara.
“Iya” jawabku singkat. Meski begitu, tetap saja terbesit perasaan kecewa dihatiku. Bayangkan saja, satu hari yang telah ditunggu-tunggu sejak enam bulan lalu kini telah pupus dan hilang seiring berjalannya waktu.
Bahkan, sepanjang hari ini aku hanya menyibukkan diri untuk mengerjakan tugas yang memang sengaja aku bawa. Tak ada seuntai senyum-pun yang tercipta. Mungkin ini adalah kekecewaan terbesar yang aku rasakan. Bagaimana tidak, enam bulan lalu sejak diberitahu adanya acara wisuda ini, aku sangat bergembira dan berusaha untuk dapat menghadirinya. Tetapi kesempatan tidak berpihak padaku. Mungkin aku sedang tidak diizinkan untuk menghadiri acara itu secara langsung.
Ponselku berdering. Ada sms.

Sender     :    akiss
Received :    05:17:24pm [25.Mar.2010]
ta, makasih ya udah dsempetin bwt pulg walo lum bs dateng wsuda maz.tp mksh bgt dah ad niat bwat pulg.slm mksh bwt ma2” ma bpk ya

Dari mas Kis. Sungguh pesan yang menyentuh relung perasaanku. Isinya singkat, namun membuatku menyesali keadaan sekaligus terharu akan penghargaan yang diutarakan.

ö ö ö

Esoknya, kesedihanku sedikit mulai berkurang karena melihat berjuta senyum berceceran disekelilingku. Senyuman-senyuman itu berasal dari seluruh keluarga besarku yang hendak menyambut prosesi lamaran kakak dari om-ku yang kemarin di-wisuda, Mas No–begitu ia biasa disapa–nanti malam usai maghrib.
Sepanjang acara lamaran, aku sibuk ber-sms-an ria dengan Mas Kis. Dari sekian banyak waktu kami berbalas sms, intinya ia sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku merasa sedikit bahagia, setidaknya dengan kepulangannya kerumah dapat membantu meringankanku mengerjakan tugas. Alasan lainnya, aku pasti dapat membujuknya untuk mengajakku berjalan-jalan.
Namun sebenarnya bukan hanya sebatas itu. Mungkin dengan kehadirannya disisiku dapat menciptakan aura indah dalam diriku. Sebab hanya dirinyalah makhluk yang selama ini mengisi pori-pori lubuk hatiku.

ö ö ö

Pukul 08.24 WIB, Hari Sabtu
“Bangun, bangun. Mas, jadi jalan-jalan kan?” aku berkata lembut sambil menggoyangkan tubuh laki-laki dihadapanku ini.
“Iyaa” ucapnya samar-samar.
“Cepet bangun dong! Kata mama berangkat pagi aja. Kan aku nanti sore udah pulang ke Jakarta.”
“Yaudah, kamu rapi-rapi sana.”
“Iya bos.” jawabku cepat mengalahkan kilat.
Seperti dugaanku kemarin, dengan kedatangannya pasti aku bisa merasakan berjalan-jalan di kampung halaman yang sudah cukup lama tak ku jelajahi. Rencana hari ini, kami akan pergi ke salah satu mall sederhana namun tak kalah indah dengan mall-mall yang berjejer di Jakarta, namanya “Luwes”.
Beberapa jam disana telah mampu menciptakan berjuta-juta senyum indahku yang beberapa hari lalu terpendam dan tak kuasa ku rangkai. Bayangkan saja, bagaimana bisa aku tidak bahagia sementara makhluk indah itu selalu disampingku. Meskipun perasaannya hanya sebatas adik kepadaku, tetap tak menyurutkan kebahagiaan diriku disampingnya.
Mungkin inilah pengganti dari harapanku yang pupus karena waktu. Pengganti keindahan yang semula ku anggap sebagai yang terindah.

ö ö ö

Landasan Filosofis: "Harapan adalah tabir alami untuk   menyembunyikan ketelanjangan kebenaran."Alfred Bernhard Nobel, Penemu-Ilmuwan Swedia

Maret 30, 2011

lorong

senja mulai merapat menyambut gulita
bergantilah cahaya dengan kegelapan
riuh suara berubah kesunyian

aku berjalan dalam lorong yang sempit
sendiri...
perlahan...
satu demi satu langkah kutapaki...
keberanianku telah memuncak
bertekad menaklukan lorong sepi ini

angin berhembus...
meniupkan sihirnya
menggetarkan seluruh keberanianku

sepetik cahaya mulai menyusup
kemudian hilang
muncul lagi..
hilang lagi..
terbit kembali..
sirna kembali..

kupercepat langkah
belum berlari
masih mencoba meneguhkan perasaan

tiba-tiba...
bahuku tertepuk dari belakang
sebuah tangan yang besaar

aaa...
ingin aku berteriak
ingin aku berlari
namun hanya 'ingin'
tubuhku lemah tak berdaya
gulita.


rabu, 30 Maret 2011
UTS hari pertama
3326103~

Maret 09, 2011

"Mahkota Pangeran Tresna"


diceritakan kembali oleh nitalaras dengan perubahan.
naskah asli pada kumpulan dongeng Bobo 41

Hiduplah seorang gadis cantik bernama jelita bersama kakeknya yang buta di sebuah desa terpencil yang permai. Setiap hari ia merawat kebun sayurnya. Suatu ketika, seusai jelita bekerja di kebun, ia bergegas menuju sungai untuk mencuci pakaian. Namun setelah beberapa menit jelita menyadari ada sebuah kotak yang tersangkut diantara ranting yang tumbuh di tepi sungai. Kotak yang terbuat dari emas tersebut mengalihkan pandangan jelita. Sejenak kemudian ia berpindah mendekati kotak tersebut. Betapa riangnya jelita menemukan kotak tersebut. Ia berniat menjualnya untuk biaya berobat kakekknya. Namun ia tiba-tiba berubah pikiran.
“Ah sebaiknya aku kembalikan kepada pemiliknya. Mungkin aku harus meminta bantuan ki barep.” gumamnya dalam hati. Jelita segera pergi ke alun-alun desa untuk menemui Ki Barep, kepala dusun yang terkenal cerdik.
∞∞∞
Di gerbang alun-alun, seorang gadis berparas cantik baru saja datang. “Hah! Mau apa kau kesini?” hadang Mangir kasar, ia adalah putri bangsawan terkaya di kabupaten tersebut. Dahulu,ayah Jelita bekerja pada keluarga kaya itu.
“Selamat siang, Den Ayu Mangir,” sapa Jelita hormat.
Mangir membalasnya dengan sinis. Ia mengira Jelita datang ke alun-alun desa yang saat itu sedang diadakan pesta, untuk berkenalan dengan Pangeran Tresna. Ia menghardik Jelita terus-menerus. Kemudian ketika ia melihat Jelita membawa sebuah kotak, sikapnya tiba-tiba berubah. Ia bertanya asal-usul kotak tersebut dan mengaku sebagai pemiliknya. Jelita percaya begitu saja dan menyerahkannya pada Mangir.
Jelita yang merasa tugasnya telah selesai kembali pulang kerumah. Sementara Mangir sibuk menerka apa isi kotak tersebut dan memikirkan cara untuk dapat membukanya. Dibawanya kotak itu ke pesta penyambutan Pangeran Tresna. Ia berfikir akan memberikannya kepada Pangeran sebagai ucapan selamat datang. Untuk membukanya, mungikin ia harus meminta bantuan KI Barep.
∞∞∞
Sesampainya di alun-alun desa, Mangir segera berjalan mendekati Pangeran Tresna. Pangeran Tresna yang melihat Mangir membawa kotak yang ia kenali, seketika teringat sesuatu. Ia teringat pada kotak emas berisi mahkota bertahta kan permata berwarna hijau yang hanyut di sungai ketika dibawanya dalam pengembaraan beberapa waktu silam. Ia yakin kotak itulah yang dibawa oleh Mangir saat ini. Pikirannya tiba-tiba terbuyarkan oleh suara Mangir yang diperhalus.
“Pangeran, perkenankan saya memberikan kotak ini kepada pangeran” ucap Mangir penuh percaya diri, meskipun sebenarnya ia masih bingung bagaimana cara untuk membukanya.
Pangeran Tresna menerima kotak itu denagn senang hati. Kali ini Pangeran Tresna sudah sangat yakin itulah kotak yang selama ini hilang. Segera ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan berkata, “Terima kasih Mangir. Juga atas kunci ini yang kau berikan sebelumnya. Kini aku mengerti.” Pangeran tersenyum pada Mangir, mengisyaratkan sesuatu.
Mangir yang sebenarnya belum mengerti penuh, terpaksa mengikuti isyarat Pangeran Tresna. Ternyata, Pangeran berusaha menyembunyikan Mangir agar tidak merasa dipermalukan dihadapan rakyat yang hadir di alun-alun.

Jakarta, Minggu-06 Maret 2011

Februari 27, 2011

Kisah Sejarah [part 1]


Senin
Jarum jam menunjukkan waktu dua puluh menit sebelum pukul setengah tujuh ketika terdengar ucapan salam dari bibir mungil milik gadis berseragam putih-putih. Tangan kanannya masih menggenggam tangan sang ibu. Sementara tangan kirinya menggenggam erat topi putih-merah. Tidak lama kemudian, tangannya terlepas dan digantikan tangan lain yang lebih terawat. Gadis berjilbab itu mencium tangan ibunya perlahan, kemudian melepaskannya dan beranjak menyusul adiknya yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Sang ibu hanya tersenyum tipis melihat kelakuan dua putrinya yang selalu rutin mencium tangannya ketika akan berangkat ke sekolah. Tinggal dengan dua putri yang berbeda watak dan karakter sama saja seperti hidup di medan perang, sewaktu-waktu bisa dengan tak sengaja mendengar perang dahsyat antara mereka. Meskipun begitu, keduanya sama-sama saling menyayangi dan sama-sama tak pernah mengakuinya.
Rasti, anak pertamanya yang sudah duduk di bangku SMA kelas dua sedang sibuk-sibuknya mengikuti berbagai aktifitas. Kabar terakhir, dia terpilih menjadi salah satu kandidat ketua OSIS. Bahkan, dia juga turut aktif dalam kegiatan-kegiatan eksternal lain. Namun diantara kesibukannya, Rasti tetap mengutamakan pendidikan. Nilai-nilainya selama ini selalu terjaga, meskipun dia bukanlah satu-satunya siswa yang pintar. Sebab sejak duduk dikelas dua, semakin bermunculan saingan-saingan baru baginya. Sementara, adik Rasti, Resti, yang delapan tahun jauh lebih muda, cenderung berbanding terbalik dengan Rasti yang begitu kalem dan anggun. Resti lebih usil dan banyak bicara. Tetapi tetap saja, kedua putrinya tersebut mampu membuat kepalanya mendadak berasap.
“Ma, aku berangkat ya. Assalamu’alaikum”
ᾃ
Selama perjalanan, Rasti selalu melirik kearah jam tangan biru miliknya. Jarum detik terus berputar, begitupun jarum menit. Wajahnya tampak tenang, tapi sejujurnya hatinya sangatlah gusar. Sejak diberi kabar bahwa ia terpilih menjadi salah satu kandidat ketua OSIS disekolahnya, ia selalu teringat kalimat-kalimat nasehat kakak kelasnya. Termasuk nasihat jangan pernah terlambat. Guru-guru sudah sangat banyak yang mengenalnya. Namun kali ini, ia berangkat sudah terlampau siang untuk ukuran jarak rumahnya. Dalam hati ia berharap semoga tidak terlambat.
ᾃ
“Alhamdulillah.” Gumamnya dalam hati. Rasti sangat bersyukur tidak terlambat hari ini.
Dengan langkah pasti, Rasti menaiki tiap-tiap anak tangga. Setiap orang yang dijumpai diberikan senyuman manis khas-nya. Rasti terkenal dikalangan guru-guru sebagai pribadi yang santun. Jilbab yang dikenakan seolah semakin memerkuat aura keindahannya.
Ketika sampai dikelas, Rasti segera meletakkan tasnya pada bangku di barisan pojok paling depan. Membuka tasnya mengambil topi, kemudian setengah berlari mengejar teman-temannya yang sudah bergegas turun untuk upacara.
ᾃ
 “Eh, denger-denger kita dapet guru PPL dari UNJ ya?” tanya Icha memulai percakapan semut ditengah lapangan ketika upacara berlangsung.
“Emang ya? Kata siapa lo cha?” Rasti justru balik bertanya.
“Denger dari kelas lain sih gitu. Seminggu kemarin banyak guru PPL kan disini?”
“Semoga aja kita dapet guru PPL geografi ya. Haha.” ujar Putri tiba-tiba.
“Amin banget.” Rasti menambahkan.
“Kalo gue sih berdo’a supaya kita dapet guru PPL yang ganteng-gantengJ.”
“Ah elo Cha, aneh-aneh aja deh. Yang penting tuh kita bisa nyambung kalo belajar. Ya nggak Put?”
“Iya Ras!”
Icha menghela napas menghadapi kedua temannya yang ‘alim’ itu. “Iseng sedikit ngga apa-apa kali.”
“Iya ngga apa-apalah kalo buat lo. Tapi buat gue ngga.”
“Siapa juga yang ngajakin lo Put.” sifat iseng Icha mulai keluar.
“Kalo lo ikutan si Rama mau dikemanain? Taro kantong gue nih.” Rasti ikut meledek.
“Hahaha…” serempak mereka tertawa bertiga. Namun buru-buru menutup mulut masing-masing. Mereka tersadar bahwa mereka masih mengikuti upacara.
‘The leader ceremony leave the field’
Terdengar suara MC Upacara membubarkan barisan. Ketiganya masih larut dalam tawa ketika beranjak meninggalkan lapangan dan menuju kelas mereka di lantai tiga. Sebelum menaiki tangga, Putri mengajak Rasti yang berjilbab dan Icha yang dikuncir pita ke kantin.
“Anterin ke kantin dulu yuk!”
“Mau ngapain Put?” tanya Rasti polos.
“Biasa, beli minum.” jawab Icha meskipun pertanyaan itu bukan ditunjukkan untuknya.
“Tau aja Cha.”
“Yak an emang biasanya begitu.” Tambah Icha lagi.
“Kok gue engga tau ya?” tanya Rasti.
“Biasanya kan lo puasa kalo hari senin Ras, jadi ngga pernah diajak.”
Rasti diam sejenak. Ia baru sadar kalau memang itu kenyataannya. Rasti sudah terbiasa untuk puasa Senin-Kamis sejak masih duduk di bangku SD, bahkan sampai sekarang ia selalu rutin mengerjakannya. Meskipun tidak berasal dari keluarga yang berlatar-belakang Islam yang sangat kental, Rasti dan keluargannya sudah terbiasa untuk turut merasakan penderitaan banyak orang diluar sana. “Oh gitu ya, tapi sekarang gue ikut kalian nih. Nggak apa-apa kan?”
“Ya nggak apa-apa lah selama belom ada undang-undang yang ngatur,” jawab Icha diselingi canda, “haha..”
“Mungkin aja dengan lo ikut bisa ketemu guru PPL yang … “
Belum sempat Putri menyelesaikan kalimatnya, seorang laki-laki berusia sekitar 21 tahun, bertubuh tinggi, tegap, rapi dengan kemeja polos berwarna hijau tua lengan pendek meleYanti mereka, berjalan dengan langkah pasti menuju ruang Audio Visual yang letaknya di sebelah kiri jalan menuju kantin. Seketika itu pula pandangan Rasti seolah telah menemukan persinggahan yang baru.
‘Ah, mungkin cuma perasaan sementara yang numpang lewat’ gumamnya dalam hati. Ia berusaha menyembunyikan ekspresi perasaannya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Rasti sangat penasaran.
“Ganteeeng!” tambah Icha tiba-tiba. Hampir membuat lelaki barusan menengok kearah mereka. Namun untunglah itu tidak terjadi. Mungkin Icha akan menanggung malu selama enam bulan kedepan kalau saja laki-laki barusan menengok dan menyangka Icha memanggilnya.
“Ish, untung dia ngga nengok.”
Rasti masih terdiam.
“Hehe. Refleks nih ngelanjutin omongan lo Put,” kata Icha, “tapi ngomong-ngomong dia itu siapa ya?”
“Guru PPL mungkin” jawab Putri singkat.
“Yeee, itu sih gue tau Put. Tapi lo tau nggak dia ngajar apa?”
“Enggaklah. Gue kan belum kenalan.”
“Rasti, lo kan biasanya tau segala sesuatu di sekolah ini. Lo tau ngga yang barusan lewat depan kita nggajar apa?”
Rasti tersentak oleh pertanyaan Icha yang tiba-tiba. Namun, untung saja ia masih menyimak sedikit sehingga ia bisa langsung menjawabnya tanpa perlu minta pengulangan. “Nggak gitu juga kali Cha, gue mana tau soal itu. Gue aja baru denger dari lo kalo ada guru PPL.”
“Nah seminggu kemaren ngapain aja lo?” Tanya Icha heran. Rasti yang biasanya tau segala sesuatu yang berkaitan dengan sekolah tercinta mereka, SMA Cendikia, ternyata belum tau akan hal yang satu ini. Meskipun Rasti tidak tergolong famous, setidaknya pengetahuan Rasti akan sekolah mereka cukup banyak, terkait posisinya disekolah sebagai pengurus OSIS yang cerdas.
Kini Putri yang menambahkan, “Baca buku mulu sih.”
Rasti tersenyum simpul. Memang ia belum mendapatkan teman seperjuangan yang cocok di kelasnya yang baru, XI IPS 3, maka dari itu ia selalu menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca. “Ih enggak juga. Cuma iseng aja sih.”
“Ya sudahlah, paling dia ngajar kelas sepuluh. Kalau untung ya kelas kita yang diajarin.” Putri menengahkan.
“Iyadeh. Eh naik ke atas sekarang yuk, sebelum Bu Yanti naik nih.” ajak Icha.
“Ayo!” Rasti bersemangat kembali.
ᾃ
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” serentak murid XI IPS 3 menyerukan salam kepada wali kelas sekaligus guru sejarah mereka, Bu Setiyanti.
“Pagi anak-anak. Mulai hari ini kita kedatangan guru baru yang akan menggantikan Ibu mengajar selama satu semester kedepan. Sebelum itu, Ibu akan melakukan pembinaan terlebih dahulu. Setelah bel maka materi kalian akan disampaikan oleh guru pengganti.”
Deg. Rasti tiba-tiba teringat sesosok laki-laki yang ditemuinya di depan ruang Audio Visual tadi. Namun langsung menepisnya. Ia berusaha fokus menyimak pengarahan dari Bu Yanti.
Bel.
Bu Yanti keluar kelas. Sesaat kemudian terdengar seruan salam dari seorang laki-laki muda yang menenteng netbook dan LCD dari balik pintu. Seisi kelas serentak menjawab salam. Laki-laki itu masuk, meletakkan netbook dan LCD pada meja paling depan, kemudian memperkenalkan diri.
“Pagi semua. Perkenalkan, saya yang akan menggantikan Bu Yanti untuk mengajar di kelas ini. Nama saya Arya, lengkapnya Arya Samudra. Saya berharap kita bisa menjalin kerja sama yang baik selama saya mengajar di kelas ini.”
‘Oh namanya Arya’ gumam Rasti dalam hati. Baginya saat itu, mengetahui namanya saja sudah lebih dari cukup. Kenyataannya lain, Rasti tampak antusias menyimak penjelasan Pak Arya. Rasti menemukan banyak hal sepele yang tiba-tiba menjadi lebih dari luar biasa.
Dua jam pelajaran hampir berlalu.
“Lus, lo tau nggak ciri khas 2 guru sejarah kita?” tanya Rasti pada Lussi, teman sebangkunya.
“Enggak, emang kenapa?” tanyanya balik.
“Kalo Bu Yanti sering ngucapin kata ‘kaitannya’, kalau pak Arya sering ngucapin kata ‘seperti itu’. Bener nggak?”
“Ciie Rasti merhatiin aja. Kita kan baru diajarin sekali, udah tau aja sih lo.”
“Ya kan dari tadi gue merhatiin penjelasannya Pak Arya. Ngga kayak lo yang sibuk sms-an.”
“Perhatiin penjelasannya atau Pak Arya-nya?” Lussi iseng.
Rasti bingung. “Ya penjelasannya lah Lus,” ia mengatakan alibi yang tepat.
“Pak Arya yang diperhatiin juga nggak apa-apa kok.”
“Ih apaah sih Lus. Udah ah, mending gue nerusin baca.”
Lussi senyum-senyum. Entah tersenyum meledek Rasti atau tersenyum membaca sms yang baru diterimanya.


ᾃ TO BE CONTINUED ᾃ